by

Milad Ke-112 Muhammadiyah, PBNU Harap Tetap Jadi Pemersatu

Kabar Damai | Kamis, 22 Juli 2021

Jakarta | kabardamai.id | Sekretaris Jendral Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Helmy Faishal Zaini, mengucapkan selamat atas Milad Muhammadiyah yang ke-112. Dia pun berharap Persyarikatan Muhammadiyah tetap menjadi pilar pemersatu bangsa.

“Semoga Muhammadiyah tetap berjaya dan terus menjadi pilar pemersatu bangsa, memperkokoh kerukunan antar bangsa, sekaligus terus mengawal dan menjaga Pancasila dan NKRI,” ujar Helmy dalam keterangan yang diterima Republika, Selasa, 20 Juli 2021.

Melansir Republika Online, Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912 oleh KH Ahmad Dahlan. Menurut Helmy, Muhammadiyah lahir di Nusantara untuk mewujudkan masyarakat nusantara yang adil, makmur, dan berkemajuan.

“Muhammadiyah telah lahir di Nusantara sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan masyarakat nusantara yang adil makmur dan berkemajuan. Maka izinkanlah saya Helmy Faishal Zaini Sekjen PBNU bersam ini menyampaikan Milad Persyarikatan Muhammadiyah yang ke-112,” ucapnya.

Baca Juga: Ketum PP Muhammadiyah: Para Konglomerat Agar Berempati dan Peduli pada Sesama

Helmy menambahkan, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia akan selalu istiqomah menjadi pilar pemersatu bangsa. Ia berharap, gerakan Islam modernis ini selalu berjaya untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman.

“Semoga Muhammadiyah tetap berjaya, dan terus menjadi pilar pemersatu bangsa untuk mengokohkan kerukunan antar bangsa, sekaligus terus mengawal dan menjaga Pancasila dan NKRI. Selamat Milad Muhammadiyah, Jayalah Selalu,” pesan Helmy.

Membalas ucapan PBNU, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengapresiasi tahniah tersebut.

“Terimakasih Gus,” demikian tulis Abdul Mu’ti membalas Helmy melalui akun Twitternya, Senin (19/7).

Kedua Pendiri Bersahabat

Meski Nahdlatul Ulama lahir 12 tahun setelah Muhammadiyah, kedua organisasi Islam ini memang dikenal memiliki hubungan yang erat dari persahabatan kedua pendirinya, Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari.

Di tingkat pengurus pusat, kedua organisasi Islam juga sering bersatu dalam berbagai masalah kebangsaan dan isu-isu nasionalisme seperti RUU HIP, Pancasila dan lainnya.

Kedua ormas ini bahkan terus menjaga persahabatan dan berbalas silaturahmi. Terakhir pada bulan Oktober 2018, PBNU mengunjungi kantor PP Muhammadiyah Jakarta untuk membalas kunjungan yang telah dilakukan PP Muhammadiyah ke gedung PBNU beberapa bulan sebelumnya.

Persyarikatan Muhammadiyah memperingati milad ke-112 dalam kalender Hijriah. Peringatan hari lahir Muhammadiyah ini dilakukan secara penanggalan Hijriah maupun Masehi. Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta pada 8 Dzulhijjah 1330 H, sedangkan secara penanggalan Masehi Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912.

Muhammadiyah terus berkiprah menjadi solusi bagi berbagai persoalan bangsa. Segenap keluarga besar Muhammadiyah di seluruh Tanah Air maupun diaspora yang tersebar di lebih dari 20 negara berjuang menebar Islam berkemajuan.

Dalam logo Milad Muhammadiyah ke-112 kali ini digambarkan formasi angka dengan warna biru dan biru muda. Di tengah-tengah logo tersebut terdapat tulisan Muhammadiyah dalam aksara Arab berwarna emas. Sedangkan di dalam angka 112 terdapat tulisan “8 Zulhijah 1330 H-1442 H”.

Jokowi: Salah Satu yang Terdepan Bantu Pemerintah Atasi Wabah

Presiden Joko Widodo (Jokowi) turut mengucapkan selamat milad kepada Muhammadiyah yang menginjak usia ke-112 pada 8 Zulhijah 1442H atau hari ini, Minggu, 18 Juli 2021.

Menurut Jokowi, Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam mencerahkan umat dan mengabdi untuk negeri. Bahkan, masih terus konsisten.

“Sepanjang sejarahnya, Muhammadiyah yang menapaki usia ke-112 pada 8 Zulhijah 1442H atau hari ini, konsisten mencerahkan umat dan mengabdi untuk negeri,” ujarnya seperti dikutip melalui akun Twitternya @jokowi.

Bagi Jokowi, Muhamadiyah merupakan salah satu yang terdepan dalam membantu pemerintah yang tengah menghadapi pandemi Covid-19. “Sekarang, Muhammadiyah menjadi salah satu yang terdepan membantu pemerintah mengatasi wabah,” pungkasnya.

 

Berpangangan Inklusif

Muhammadiyah hingga saat ini terus berjibaku menghalau laju pandemi. Tidak hanya di bidang medis, namun juga dari sisi sosial-ekonomi dan spiritual keagamaan. Menurut Haedar Nashir, salah satu program yang dicanankan Muhammadiyah dalam hal ini adalah vaksinasi gratis untuk semua elemen bangsa.

“Vaksinasi untuk lintas agama dan juga ikut memakamkan bagi warga yang terkena Covid-19 dari agama lain. Apa yang dilakukan Muhammadiyah secara meluas di berbagai programnya ini merupakan wujud dari keinginan Muhammadiyah menjadi solusi untuk negeri di kala pandemi,” ungkap Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.

Covid-19 merupakan musuh bersama yang menimbulkan kekawatiran bagi banyak orang. Jumlah pasien yang terinfeksi juga terus bertambah, bukan hanya di negara lain, di Indonesia pun terus mengalami peningkatan. Haedar mengajak seluruh elemen bangsa agar memiliki solidaritas sosial untuk menghadapi dan menekan pandemi, tanpa memandang suku, budaya, bangsa atau agama.

“Kita tidak bisa berpikir, bekerja, secara eksklusif sendiri-sendiri, tetapi harus bersama-sama. Dengan kebersamaan kita bisa meringankan beban masalah ini seberat apapun,” tegas Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogayakarta ini.

Melansir laman PP Muhammadiyah, Selain memiliki keinginan menjadi agen solutif, Haedar menerangkan Muhammadiyah juga memiliki pandangan keagamaan yang inklusif dalam urusan muamalah-duniawiyah. Sebab perbedaan dalam Islam merupakan salah satu medium saling mengenal, mencintai, toleran, dan membantu. Karenanya, Muhammadiyah menyelenggarakan vaksinasi lintas agama dan terlibat aktif dalam prosesi pemakaman lintas akidah.

“Dalam perspektif ini, maka Muhammadiyah menyelenggarakan vaksinasi dan membantu prosesi pemakaman lintas agama merupakan ikhtiar kolektif kami agar bangsa ini selain mampu mengatasi pandemi dengan kebersamaan dan menjadi momentum merekat persatuan,” tutur Haedar.

Jika pandemi telah berakhir, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah akan terus berpandangan inklusif dalam menolong dan membantu kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Dari sisi keagamaan, Muhammadiyah juga akan terus konsisten menyebarkan nilai-nilai keagamaan yang wasathiyyah berkemajuan yang dapat merekat persatuan nasional.

“Bangsa Indonesia dengan semangat Bhineka Tunggal Ika itu bisa berdiri tegak karena persatuan dari seluruh komponen bangsa. Umat Islam sebagai kekuatan mayoritas, menjadi teladan sejak perjuangan kemerdekaan hingga saat ini untuk mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan golongan,” pungkas Haedar. [ ]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed