by

Mewaspadai Disharmonisasi Akibat Komunikasi Elektronik dalam Masyarakat

Oleh: Raden Rajendra

Teknologi informasi dan komunikasi, kata teknologi pada kalimat tersebut berarti dirujuk sebagai prasarana yang dimanfaatkan sebagai metode untuk mengutarakan hal-hal berkaitan dengan pengomunikasian suatu interaksi antarsesama.

Informasi berarti merujuk pada objek yang sifatnya memiliki nilai guna dengan poin utama untuk disampaikan sebagai suatu kabar ke individu lainnya di mana komponen dari informasi itu sendiri dapat diibaratkan terdiri atas data-data terproses oleh seorang yang memiliki kuasa untuk mengumumkannya sebagaimana yang dikehendaki. Komunikasi dapat diartikan sebagai nama dari bentuk interaksi yang mewadahi penyampaian informasi itu sendiri.

Teknologi informasi dan komunikasi berarti segala yang berhubungan dengan kegiatan pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi yang memuat data-data (Suryana: 2012). Kata teknologi sering dikaitkan dengan objek yang mengalami kemajuan seiring berkembangnya zaman, yang berarti bahwa teknis dari informasi dan komunikasi turut memiliki sejarahnya tersendiri.  Sejak zaman dahulu, manusia sudah mengenal praktik berkomunikasi sebagai bentuk interaksi utama selayaknya kita pada masa modern ini.

Hanya saja, praktik berkomunikasi yang mereka lakukan–khususnya dalam proses penyampaian informasi ini, masih dilakukan dengan metode yang amat sederhana dan umumnya hanya dapat dimengerti dan diperuntukkan bagi golongannya masing-masing saja.

Contoh dari penyampaian informasinya dapat berupa gambar-gambar yang biasa ditemukan pada situs-situs ekskavasi seperti goa, candi-candi kuno, dll.. Lalu, penyampaian informasi dilakukan dengan cara yang lebih ‘beradab’ dengan ditemukannya daun lontar dan kertas (Nuryanto: 2012).

Teknologi informasi dan komunikasi mencapai masa perkembangan pesatnya kala elektronik menjadi wadah utama dalam dunia informasi dan komunikasi. Ini ditandai dengan munculnya komputer sebagai serangkaian perangkat yang terdiri atas perangkat lunak (software) maupun keras (hardware) yang memiliki kapabilitas termodernisasi untuk mengelola segala data dengan lebih efektif dan produktif.

Selain itu, pada 1875 ditemukannya telepon oleh Alexander Graham Bell, transmisi suara tanpa kabel dengan radio yang penemuannya digencarkan pada kurun waktu 1910-1920, dan terciptanya alat komunikasi jarak jauh visual yang kita kenal sekarang dengan nama televisi ditemukan pada 1940-an serta puncak dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ialah kemunculan Internet pada 1969 yang tadinya hanya digunakan untuk keperluan militer kemudian menjadi multifungsi kala layanannya dibuka untuk publik sejak 1989.

Dengan berkembang pesatnya teknologi informasi dan komunikasi, hal demikian juga dapat menjadi bumerang tersendiri bagi keintegrasian suatu bangsa–khususnya dalam melakukan interaksi sosial antarsesama berbasis digital. Era komunikasi digital yang dibawa oleh majunya teknologi informasi dan komunikasi secara otomatis menghadirkan kesempatan lebar bagi peselancar digital sosial untuk membangun kepribadian baru sesuai apa yang mereka kreasikan di kepala mereka dengan dukungan atas kompleksnya sifat dari jejaring layanan sosial itu sendiri yang menjamin keawanamaan profil sosial para penggunanya (Citron & Notron: 2011). Sehingga, tidak jarang para oknum yang tidak bertanggungjawab memanfaatkan celah ini untuk memecah belah perdamaian internal bangsa dengan segala ujaran kebencian dan kabar palsu yang mereka tebarkan.

Baca Juga: ‘Cyberbullying’ Perundungan Modern Di Era Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Selain itu, persebaran statistik mengenai latar belakang budaya juga turut memainkan peran penting. Sebagai pihak dominan, perspektif dari golongan mayoritas tentunya akan dipandang lebih dapat diadopsi untuk dijadikan sebagai tolak ukur dalam menentukan pantas tidaknya suatu kebudayaan di luar golongan tersebut untuk beredar luas di jejaring sosial digital sehingga secara tidak langsung berkontribusi terhadap eksistensi dari paham etnosentrisme di masyarakat dan menumbuhkan rasa intoleran terhadap golongan-golongan marjinal yang jelas bertolak belakang dengan semboyan NKRI sendiri, berbeda-beda namun tetap satu jua (Hidayah: 2018).

Minimnya pemahaman masyarakat terhadap isu-isu yang hangat dibicarakan pun andil memperkeruh ketenteraman dunia maya sehingga membuka ruang bagi kabar-kabar palsu (hoaxes) yang menimbulkan disinformasi di berbagai lapisan sosial (Madrah & Mubarok: 2018).

Literasi digital yang rendah menjadi penyebab utama bagi masyarakat dalam melakukan kesalahan dalam menafsirkan dan menginterpretasikan suatu informasi secara komprehensif karena dangkalnya pemahaman yang mereka miliki terhadap suatu isu sehingga tidak dapat menggolongkan benar tidaknya suatu kabar.

Tidak hanya masyarakat dengan literasi digital rendah, adapun masyarakat dengan literasi digital yang tinggi dengan aksi penyikapan terhadap suatu isu cenderung memiliki pemahaman yang terorganisir dan tidak berkoar-koar tanpa dasar dalam memberi respons. Perbedaan tanggapan dari kedua golongan masyarakat inilah yang berujung pada persaingan silang lidah akan pendapat siapa yang paling benar.

Menimbang dari sisi penyalahgunaan akan teknologi informasi dan komunikasi bagi NKRI, solusi terdasar untuk meminimalisir segala ujaran kebencian adalah pengenalan akan penguatan konstitualisme dari ketiga konsensus yang mencakup kesepakatan tentang tujuan cita-cita bersama, kesepakatan atas supremasi hukum sebagai landasan pemerintahan dan penyelenggaraan negara, dan kesepakatan tentang bentuk institusi dan prosedur (Asshidiqie: 2008).

Sejak awal bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan, para pendiri bangsa dan rakyat Nusantara sejak awal memiliki komitmen untuk melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa, di mana ketiga tujuan nasional tersebut diaplikasikan untuk tiap individu yang berstatus kewarganegaraan NKRI. Oleh karena itu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi semestinya dijadikan sebagai media utama untuk merangkul segenap saudara sebangsa. Tidak hanya itu, penegakkan supremasi hukum sudah semestinya menjadi pedoman bagi para peselancar komunikasi digital untuk lebih berhati-hati dengan tutur kata mereka di media sosial.

Segala bentuk penyalahgunaan terhadap teknologi informasi dan komunikasi tersebut tidaklah seharusnya menjadi suatu hal yang biasa di khalayak umum. Justru karena perkembangan suatu teknologi pada hakikatnya tidak terlepas dari tujuan utamanya–yaitu membawa kemaslahatan bagi peradaban manusia, maka sudah semestinya kita mulai menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kita.

Dalam hal ini khususnya, dijadikan sebagai media untuk mempererat persatuan dan mengedepankan persaudaraan terlepas dari segala perbedaan latar belakang, mengingat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang saat ini sudah mampu menghilangkan sekat ruang dan waktu antar sesama.

Oleh: Raden Rajendra, Siswa SMAN 1 Pontianak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed