by

Mewaspadadai Kekerasan Cyber di Kalangan Remaja

Oleh: Regi Anjani

Sebagai makhluk sosial pasti memerlukan adanya timbal balik terhadap satu sama lain. Manusia sebagai makhluk sosial perlu adanya komunikasi untuk terjalin adanya interaksi. Fungsi utama berkomunikasi adalah untuk bertukar informasi.

Dengan diciptakannya teknologi informasi dan komunikasi membuat masyarakat menjadi lebih mudah untuk mendapatkan informasi, menyebarkan informasi, serta bertukar informasi.

Munculnya teknologi informasi dan komunikasi membuat masyarakat lebih mudah untuk bertukar informasi maupun berkomunikasi dengan jarak jauh melalui media yang telah diciptakan tanpa bertemu secara lisan.

Informasi dan komunikasi sudah ada dari zaman prasejarah. Namun, di zaman prasejarah masyarakat belum menemukan alat informasi yang lebih efisien seperti zaman sekarang. Dahulu masyarakat prasejarah mendapatkan informasi melalui relief maupun lukisan.

Relief merupakan sebuah ukiran yang biasa ditemukan di dinding-dinding batu, sedangkan lukisan merupakan gambaran atau coretan yang biasa ditemukan di dinding gua.

Kedua bentuk tersebut menjadi andalan masyarakat prasejarah dalam menyampaikan informasi atau pesan-pesan dari suatu peristiwa, serta mengilustrasikan kejadian pada masa itu.

Alasan mereka menggunakan bentuk visual dikarenakan dahulu belum ditemukannya huruf dan mereka belum mengerti cara berkomunikasi dan menyampaikan informasi dengan baik.

Selain itu, mereka juga menggunakan isyarat tangan dan isyarat bunyi yang berupa dengusan untuk berkomunikasi dengan sesamanya.

Selanjutnya, mereka juga menggunakan alat-alat yang menghasilkan bunyi dan juga isyarat asap sebagai alat pemberi peringatan terhadap adanya ancaman atau bahaya.

Baca Juga: Beberapa Penyebab Cyber Harasshment dan Giat Melawannya

Masuk pada zaman sejarah, masyarakat sudah mulai berkomunikasi dengan baik dan mengenal sistem penulisan. Pada masa itu, dimulai ketika masyarakat Sumeria menggunakan sistem penulisan piktograf (tulisan paku).

Piktograf (tulisan paku) merupakan jenis tulisan kuno yang berebentuk seperti simbol-simbol dan diaplikasikan di atas lempengan tanah liat. Selanjutnya, bangsa Mesir kuno menemukan sebuah huruf yang bernama huruf hieroglif.

Huruf hieroglif merupakan kombinasi dari elemen logo dan huruf. Bentuk hieroglif ini terdiri dari bentuk manusia, benda, hewan, dan simbol yang menyerupai pada huruf piktograf.

Tidak lama kemudian, masyarakat Mesir kuno kembali menemukan media untuk menyampaikan informasi yang lebih baik, yaitu dengan penemuan kertas yang berasal dari pohon papyrus.

Mulai dari situ lah masyarakat mulai lebih efisien dalam menyampaikan informasi, dan juga masyarakat lebih mudah dalam menulis informasi tanpa perlu memerlukan waktu dan tenaga yang banyak.

Tidak hanya masyarakat Mesir kuno saja yang menemukan kertas, seorang tokoh berasal dari China yang bernama Thai Lun juga menemukan kertas yang berasal dari bambu dan memiliki hasil yang lebih baik dari papyrus.

Selanjutnya pada zaman modern, masyarakat sudah mengetahui cara menyampaikan informasi dan berkomunikasi dengan baik. Teknologi pun sudah berkembang secara pesat.

Tidak ada lagi yang namanya masa ini sulit untuk mendapatkan informasi. Manusia sudah menciptakan alat teknologi dengan tujuan untuk mempermudahkan dalam segala hal. Sekarang, masyarakat bisa mencari informasi melalui televisi, internet, maupun media lainnya.

Tetapi, kadang kala masyarakat tidak menggunakan teknologi dengan bijak. Biasanya ditemukan adanya hal yang kurang pantas untuk disebarkan, contohnya di media sosial.

Media sosial sudah sangat umum untuk diketahui pada masyarakat luas. Media sosial menjadi wadah untuk mendapatkan informasi, berkomunikasi, serta tempat untuk memuaskan hati. Maka dari itu, masyarakat sesuka hati menyebarkan kesenangan maupun kebencian.

Siapa sangka bahwa media sosial juga memiliki hal buruk yang ditimbulkan dari manusia, yaitu adanya bullying dan kekerasan cyber.  Cyberbullying (perundungan dunia maya) merupakan perundungan yang menggunakan teknologi digital.

Hal ini terjadi di media sosial, platform chatting, platform bermain game, dan ponsel.

Adapun menurut Think Before Text, cyberbullying adalah perilaku agresif dan bertujuan yang dilakukan suatu kelompok atau individu, menggunakan media elektronik, secara berulang-ulang dari waktu ke waktu, terhadap seseorang yang dianggap tidak mudah melakukan perlawanan atas tindakan tersebut.

Jadi, terdapat perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban. Perbedaan kekuatan dalam hal ini merujuk pada sebuah persepsi kapasitas fisik dan mental.

Aspek-aspek dari cyberbullying dibagi menjadi tujuh bagian, yaitu pertama ada Flaming, tindakan mengirim pesan dan gambar dengan tujuan untuk menghina.

Harassment, tindakan mengirim pesan dengan mengandung kata-kata tidak sopan dan meneror korban secara terus menerus. Denigration, tindakan yang dilakukan dengan mengumbar hal-hal buruk seseorang di media sosial sehingga orang tersebut dinilai buruk.

Impersonation, perilaku yang berperan menjadi orang lain kemudian mengirimkan pesan yang tidak pantas.  Outing and trickery, perilaku menyebarkan rahasia pribadi orang lain.

Exclusion, perilaku dengan sengaja mengeluarkan orang tersebut dari grup online. Terkahir Cyberstalking, merupakan perilaku berupa ancaman atau intimidasi berbahaya yang dilakukan secara berulang menggunakan aplikasi elektronik.

Pelaku dan korban cyberbullying banyak ditemukan pada usia remaja. Alasannya adalah karena pada usia ini mereka masih belum stabil dalam mengontrol emosi dan masih labil sehingga mudah dan cepat dalam mengambil keputusan tanpa berfikir panjang.

Perilkau cyberbullying dipengaruhi oleh dua faktor, faktor internal dan faktor eksternal. Jika dilihat dari faktor internal, remaja tidak ada rasa empati dan tidak mengerti cara menggunakan teknologi dan media sosial dengan baik.

Selain itu bisa juga bisa dipengaruhi dari karakter yang dimilikinya. Pada media sosial, semua orang bebas untuk mengespresikan diri, namun jika pelaku cyberbullying kurang suka dengan apa yang dilihatnya, maka pelaku tersebut dapat membalas atau menambahkan komentar dengan kata-kata yang tidak sopan.

Jika dilihat dari faktor eksternal, perkembangan teknologi semakin pesat membuat pelaku mudah untuk mengakses alat komunikasi membawakan trend baru dalam masyarakat sebagai tempat untuk melakukan penindasan secara online.

Perilaku cyberbullying tidak bisa disepelekan. Hal ini dikarenakan memiliki dampak yang besar terhadap korban. Siapa sangka, dampak dari cyberbullying bisa membawa korban selalu berifikir sangat negatif hingga banyak kejadian bahwa korban cyberbullying mengambil tindakan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Selain itu, korban cyberbullying menjadi anti untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan lingkungan sosialnya. Alasannya adalah karena image dia telah rusak akibat cyberbullying hingga ia merasa tidak pantas untuk ditemani.

Korban takut jika nanti tidak membawa dampak baik, tetapi malah membawa dampak buruk di pertemanan, sehingga korban memutuskan untuk mengurungkan diri sendirian.

Tak hanya itu, masih banyak dampak dari korban cyberbullying lainnya, karena cyberbullying berpengaruh pada media sosial dan seperti yang kita tahu bahwa jejak media sosial itu susah untuk dihilangkan.

Dengan adanya perilaku cyberbullying, kemendikbud dan UNICEF memberikan solusi khususnya pada remaja yang masih menjadi pelajar. Kemendikbud dan UNICEF membuat program yang bernama “Roots” dengan melibatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Cara kerja roots ini adalah dengan meminta para pelajar untuk mengisi survei yang telah dibagikan di media sosial, yaitu di whatsapp, dengan tujuan untuk bekontribusi menjadi agen perubahan. Nanti dari pihak roots akan memilih pelajar untuk menjadi agen roots di sekolahnya.

Dimana orang yang terpilih akan memantau pergerakan teman-temannya yang melakukan bullying maupun kekerasan cyber. Nanti para agen roots dapat melaporkan ke pihak kemendikbud bagaimana bentuk-bentuk bullying di lingkungan sekitar sekolah. Disini membantu para pelajar di sekolah untuk memusnahkan bullying secara langsung maupun cyberbullying.

Selain roots, adapun langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi dan mencegah cyberbullying, yaitu dengan tidak menanggapi komentar yang tidak sopan dan lebih mengambil tindakan untuk mengabaikannya, sehingga pelaku dengan perlahan akan berhenti untuk membully.

Jika sudah lelah dengan hal-hal yang terjadi di teknologi, ambil lah tindakan untuk lebih beristirahat terhadap teknologi, menjauhkan diri dari media sosial demi menyehatkan fisik, mental, dan pikiran.

Setelah membahas tentang bullying dan kekerasan cyber yang terjadi di dalam teknologi informasi dan komunikasi, dapat kita ambil kesimpulan bahwa berhati-hatilah dalam menggunakan teknologi dan lebih bijak untuk penggunaannya.

Khusus untuk anak remaja, ayo sama-sama membiasakan diri untuk tidak menggunakan teknologi sebagai lokasi untuk tempat pembullyan, tetapi gunakanlah untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya.

Apalagi sekarang posisi kita adalah menjadi seorang pelajar yang masih memerlukan ilmu yang banyak untuk menjadi bekal di masa depan. Diciptakannya teknologi informasi dan komunikasi dengan tujuan untuk mempermudah mendapatkan informasi secara luas dan berkomunikasi dengan leluasa.

Kita tidak tahu siapa yang sedang memiliki perasaan tidak suka pada diri kita. Maka dari itu tetaplah selalu berperilaku baik kepada semua orang. Selalu terapkan etika yang baik, bermoral, dan berakhlak mulia. Di sini kita tidak hidup sendiri.

Kita adalah makhluk sosial yang saling bergantung pada satu sama lain. Apalagi kita tinggal di negara yang sama dan memiliki pedoman yang sama. Gunakanlah teknologi sebagai media informasi dan komunikasi dengan baik, sehingga dapat saling menjaga image satu sama lain dan hidup dengan rukun.

Oleh: Regi Anjani, Siswi SMAN I Pontianak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed