by

Merespon Surat PGI, Menag: Saya Sudah Minta Materi Pengajaran Islam Diperbaiki

-Kabar Utama-125 views

Jakarta | kabardamai.id | Merespon surat dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) kepada Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas agar buku pelajaran agama Islam terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang menyinggung kitab Injil dan Taurat dikaji ulang, Menag Yaqut Cholil Qoumas meminta agar materi ajaran itu diperbaiki.

Gus Yaqut, demikian ia biasa disapa, sudah memerintahkan jajaran Kemenag mendalami serta memperbaiki materi pengajaran tersebut. Perbaikan akan disampaikan ke Kemdikbud.

“Saya sudah minta jajaran di Kemenag untuk mendalami dan memperbaiki materi pengajaran agama Islam yang disusun sejak 2017 tersebut, untuk disampaikan kepada Kemendikbud,” ujarnya, kutip detik.com (27/2).

Sebelumnya, sebagaimana dilansir detik.com, buku pelajaran agama Islam terbitan Kemdikbud menyinggung soal kitab Injil dan Taurat. PGI menyurati Menag Yaqut Cholil Qoumas supaya buku itu dikaji ulang.

“Terkait dengan ini, Sekum PGI telah menyampaikan ke Menteri Agama beserta dengan copy pdf buku-buku tersebut. Oleh Menag sudah diinstruksikan ke stafnya untuk segera berkoordinasi dengan pihak Kemendikbud untuk mengkaji materi dari buku-buku ini bila ternyata masih digunakan,” kata Ketua Umum PGI Pendeta Gomar Gultom dalam berita di situs PGI, Sabtu (27/2).

Namun demikian, Gomar meminta buku itu tidak disikapi secara berlebihan. Soalnya, buku itu memang merupakan mata pelajaran agama Islam.

“Ini adalah mata pelajaran agama Islam. Dan tentu saja isinya adalah pemahaman dan ajaran Islam, termasuk mengenai agama Kristen dan Injil. Lalu bagaimana kita menanggapinya? Ya, tidak perlu ditanggapi. Tugas kita adalah memberikan informasi autentik tentang ajaran Kristen kepada murid-murid Kristen, bukan menggugat isi pengajaran agama yang lain,” terang Gomar.

Pendeta dari HKBP ini menambahkan, sangat berharap pelajaran agama di sekolah lebih mengutamakan pelajaran budi pekerti dan nilai-nilai universal dari agama.

“Pelajaran agama yang dogmatis di ruang publik hanya akan menciptakan segregasi, bahkan bisa menciptakan permusuhan. Itu sebabnya, pendidikan agama dalam bentuk ajaran/dogma sebaiknya dilakukan di ruang privat (keluarga dan rumah ibadah) dan tidak di sekolah. Ini menjadi PRnya Menteri Agama dan Menteri Pendidikan untuk membenahinya,” tandasnya, kutip pgi.or.id (27/2).

Lebih lanjut Ketum PGI memberi perhatian jika pendidikan seperti selama ini dijalankan, di mana negara menyusun kurikulum pendidikan agama dengan memasukkan dogma/ajaran agama maka negara telah ikut berteologi, sesuatu yang sangat absurd.

“Mestinya cukuplah negara mendasarkan diri pada konstitusi dengan tafsir hukumnya dan tidak memasuki ranah teologi yang memiliki ragam mashab atau denominasi,” terangnya.

Buku itu adalah buku pelajaran ‘Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti’ untuk Kelas XI SMA, terbitan Kemdikbud tahun 2017. [AN/detik.com/pgi.or.id]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed