by

Merawat Keluhuran Bangsa

Oleh: Tim Buddha Wacana

Yavakivanca, Ananda Vajji Abhinham Sannipata Sannipatabahula Bhavissanti, Vuddhiyeva, Ananda Vajjinam Patikankha No Parihani: “…Vajji Samagga Sannipatissanti samagga Vutthahissanti, samagga Vajjikaraniyani karissanti.

“Ananda, selama bangsa Vajji: ……..berkumpul secara rutin, bertemu dengan rutin, berpisah dengan rukun, dan manjalankan tugas dengan rukun, mereka akan menjadi bangsa yang bermartabat, maju makmur dan tidak mengalami kemunduran”. (Mahaparinibbana Sutta).

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah dan berbudi pekerti luhur. Indonesia adalah bangsa yang lahir dari peradaban besar di mana jejak sejarahnya dapat dilihat dari peninggalan peradaban masa lalu, baik yang berwujud benda maupun non benda. Peninggalan benda, seperti Candi Borobudur, Candi Sewu, Candi Mendut dan bangunan lainnya, menggambarkan luhur dan tingginya peradaban yang telah dicapai generasi masa lalu dan bahkan mengundang decak kagum dunia. Candi Borobudur bahkan dianggap sebagai salah satu keajaiban dunia.

Peradaban yang tidak berbentuk fisik, seperti keramahan penduduk, sifat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan gotong-royong, menjadi fondasi kehidupan masyarakat yang rukun dan harmonis. Para pendiri bangsa menggali keluhuran Indonesia yang kemudian dituangkan dalam kristalisasi nilai berupa Pancasila. Pancasila pada hakikatnya merupakan jatidiri bangsa yang telah berlangsung mewarnai sikap, karakter dan watak bangsa.

Pancasila bukan merupakan hal baru yang sengaja dimunculkan oleh para pendiri bangsa, melainkan sesuatu yang digali langsung dan otentik dari watak dan jatidiri bangsa. Dengan penuh kecermatan dan kebijaksanaan, para pendiri memahami jati diri bangsanya untuk kemudian dirumuskan nilai-nilainya agar tetap lestari dan mudah untuk dilaksanakan.

Dari Pancasila, dapat dipahami bahwa bangsa Indonesia memiliki jatidiri kehidupan luhur yang berketuhanan, menjunjung tinggi kemanusiaan, mengutamakan persatuan, suka bermusyawarah, dan menjunjung tinggi nilai keadilan. Bila generasi terkini bangsa Indonesia senantiasa menjaga, merawat, dan melestarikan sifat luhur bangsanya, maka akan semakin menuntun pada kejayaan menuju peradaban agung.

Merawat keluhuran bangsa tentu merupakan kerja integral, bukan merupakan tindakan parsial. Visi besar tidak akan mampu terlaksana bila hanya dijalankan oleh sebagian pihak saja. Kesadaran ini harus tumbuh mengakar dalam setiap sanubari anak bangsa. Berbagai tantangan tentu menghadang di depan mata, sebuah perjuangan besar akan selalu menghadapi tantangan yang besar pula. Bangsa Indonesia yang sangat majemuk, baik dari segi etnis maupun agama, memiliki dimensi perekat dan juga dari sudut pandang negatif dapat menjadi sumber pemecah belah.

Baca Juga: Edi Rusdi Kamtono: Mari Tanamkan Rasa Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Kemajemukan merupakan kekayaan bangsa yang sangat luar biasa, ibarat taman sari yang indah terdiri dari aneka ragam bunga sehingga tidak membosankan, semuanya memperindah keindahan taman. Demikian pula realitas kemajemukan yang dibalut dengan spirit Bhinneka Tunggal Ika akan memperindah bangsa besar, bangsa Indonesia.

Di sisi lain kemajemukan dapat mengancam persatuan dan kesatan bangsa, berbagai pihak yang tidak bertanggungjawab dapat menggunakan isu keragaman sebagai isu pemecah belah bangsa. Polarisasi yang ada dalam masyarakat dapat dimanfaatkan untuk selalu dibenturkan dan pada akhirnya bermuara pada perpecahan dan konflik. Politik yang mempertajam perbedaan identitas dalam konteks negatif juga dapat dipergunakan untuk memecah belah persatuan.

Setiap anak bangsa memiliki identitas yang melekat tetapi membenturkan dan mempertajam perbedaan aspek primordial tersebut akan memicu sentimen negatif antar anak bangsa. Yang dibutuhkan tentu bukan menghapus identitas dalam bentuk tindakan penyeragaman karena akan semakin kontraproduktif. Persatuan bukan lahir dari penyeragaman, melainkan tumbuh dari kesadaran akan keberagaman yang saling melengkapi dan membutuhkan. Kesadaran sebagai anak bangsa yang memiliki hak yang sama terkait masa depan bangsanya.

Keluhuran bangsa dapat terawat dengan baik bila jatidiri bangsa terus dijaga seiring dinamika kemajuan jaman. Guru Agung Buddha menjelaskan dalam Parinibbana Sutta bahwa sebuah bangsa akan kuat bermartabat, maju dan luhur bila memiliki prinsip-prinsip dasar yang dipedomani bersama. Beliau mencontohkan bangsa Vajjiputta sebagai bangsa yang maju bermartabat dan luhur karena senantiasa menjaga dan menjalankan prinsip-prinsip luhur yang dianut.

Prinsip bangsa vajji dalam menjaga persatuan menuju keluhuran bangsa adalah:
1) sering berkumpul bermusyawarah,
2) berhimpun dengan rukun
3) menjunjung konstitusi yang berlaku
4) menghormati dan menyokong para sesepuh
5) melindungi dan menghormati kedudukan wanita
6) memelihara dan tidak mengabaikan kewajiban agama
7) menghormati dan melindungi orang yang bijaksana.

Sering bermusyawarah, menjalankan konstitusi, menghormati kedudukan wanita, menjalankan agama dengan baik dan menghormati para sesepuh dan orang bijaksana tentu masih sangat relevan untuk diterapkan sampai kapanpun. Prinsip bangsa Vajji ini bahkan dapat dikatakan sebagai fondasi bagi masyarakat madani (civil society) sebuah penanda bagi bangsa yang luhur dan beradab.

Marilah, secara kolektif seluruh anak bangsa menjaga dan menjalankan prinsip-prinsip luhur yang telah tumbuh dan berkembang di masyarakat atas dasar cinta kasih dan kasih sayang, agar bangsa Indonesia tetap menjadi bangsa yang luhur dan beradab.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Penulis: Tim Buddha  Wacana

Sumber: https://kemenag.go.id/read/merawat-keluhuran-bangsa-9nezw

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed