by

Merawat Kebinekaan dengan Mengenal Ragam Penutup Kepala Perempuan Indonesia

Kabar Damai I Senin, 01 November 2021

Jakarta I kabardamai.id I Tutup kepala bukan sekedar selembar kain yang dibentuk sedemikian rupa sehingga indah, dan diletakkan sebagai mahkota perempuan. Di masyarakat adat, tutup kepala memiliki beragam makna, baik itu dalam pemakaian sehari-hari maupun untuk keperluan upacara adat.

Dalam sejarah dunia, berbagai perdaban membuat budaya pakaian tradisionalnya dan memiliki penutup kepala. Mulai dari kebudayaan Mesopotamia, Yahudi, dan Arab yang kini dikenal seperti hijab, hingga yang dimiliki masyarakat Nusantara.

Pada kebudayaan masyarakat Nusantara, rupanya penutup kepala ini memiliki ragam bentuk dan nama. Tetapi seiring dengan adanya penyeragaman pakaian, penutup kepala perempuan perlahan-lahan tergerus.

Baca Juga: Ajarkan Toleransi, Menilik 5 Kampung Muslim yang Harmonis dari Pulau Dewata

Sebagai warga negara yang sangat majemuk, masyarakat Indonesia harus mengenal ragam penutup kepala perempuan Nusantara. Karena dengan  lebih mengenal Indonesia melalui ragam budaya penutup kepala perempuan di nusantara, ini juga sekaligus menjadi pengingat terhadap adanya tantangan penyeragaman berdasarkan interpretasi tunggal berdasarkan kelompok agama tertentu.

Penggunaan kain penutup kepala perempuan jangan sampai menjadi kewajiban dan penyeragaman. Sebaliknya, kain penutup kepala hendaknya dimaknai sebagai wujud kebinekaan kreasi perempuan atas selembar kain.

Berikut ragam penutup kepala perempuan yang harus kamu tahu!

  1. Bulang

Ibu Negara Iriana Jokowi menggunakan Bulang Simalungun di kepalanya.
Ibu Negara Iriana Jokowi menggunakan Bulang Simalungun di kepalanya. – Sumber Foto: National Geographic

Bagi perempuan adat Simalungun di Sumatera Utara, Bulang sebagai penutup kepala perempuan juga memiliki jenis berdasarkan kegunaannya: bulang sulappei untuk adat atau pesta, bulang siteget untuk pengantin, bulang gijang untuk yang berusia tua, dan bulang salalu untuk dipakai sehari-hari. Semua bisa dibedakan dengan cara melipatnya.

Penutup kepala ini hanya dikhususkan bagi perempuan yang sudah menikah. Bulang akan diberikan oleh mertua kepada menantunya sebagai tanda memasuki keluarga baru.

Bulang berbahan kain tenun yang panjangnya 1,5 meter dan lebarnya 30 sentimeter, dengan rumbai sepanjang 18 sentimeter. Yang membuatnya berbeda dari semua jenis. Dalam coraknya terdapat simbol alat kelamin perempuan dan laki-laki di sisi yang berbeda.

Perempuan yang menggunakan bulang harus menonjolkan simbol perempuan itu, tetapi bagian simbol laki-laki harus dimasukkan atau disembunyikan.

2.Tengkuluk

Sejumlah perempuan memperagakan busana dengan paduan tengkuluk pada perlombaan pemasangan tengkuluk dalam peringatan HUT Jambi pada Januari 2020. (foto; dok Dekranasda Jambi)
Sejumlah perempuan memperagakan busana dengan paduan tengkuluk pada perlombaan pemasangan tengkuluk dalam peringatan HUT Jambi pada Januari 2020. (foto; dok Dekranasda Jambi)

Tengkuluk  berasal dari Sumatera Barat dan Jambi. Penutup kepala ini di Jambi memiliki tiga jenis berdasarkan kegunaannya, untuk sehari-hari, kegiatan seni dan budaya, dan upacara adat.

Tengkuluk Jambi juga mengidentifikasi status seorang perempuan lewat juntaiannya. Apabila juntaiannya berada di sisi kiri, menandakan perempuan itu belum menikah, dan sebaliknya bila berada di sisi kanan.

Sedangkan tengkuluk di budaya Minangkabau, lebih disebut sebagai tikuluak. Jumlah jenisnya lebih beragam dari segi bentuk dan daerahnya, contohnya tengkuluk yang memiliki sisi tanduk yang tumpul dari Lima Puluh Kota.Ada pula yang berbentuk sederhana dan ada yang menyerupai cerobong yang bisa digunakan secara ikat dari Tanah Datar dan Solok.

Bahan yang menjadi kain tengkuluk bisa dari kain tenun, kain bugis, telekung, kain ludru, kain mukena, kain batik, hingga pasmina.

Tingkuluak melambangkan kekuatan hati, mempunyai kemauan yang tinggi untuk mencapai yang baik, gigih tidak pernah berputus asa, berani, ramah tamah dan tidak ingin melukai hati, keseimbangan, bersifat adil sesuai kebutuhan.

Sedangkan di Jambi, tengkuluk masih dipakai dan diwajibkan oleh pemerintah daerah sejak 2010 untuk digunakan dalam instansi pemerintahan.

3. Tatupung Dayak Maanyan

Tatupung Dayak Maanyan – Sumber Foto: Tempo.co

Ada tiga jenis tatupung sebagai penutup kepala perempuan Dayak Maanyan, yakni tatupung balik, tatupung rebe, dan tatupung bahuru. Tatupung balik bertujuan untuk mempercantik dan merapihkan penampilan perempuan saat acara adat seperti kematian dan hajatan.

Tatupung rebe lebih digunakan untuk melindungi kepala perempuan dari serangan terik matahari. Jenis tatupung ini biasa digunakan untuk kegiatan menanam, menumbuk, hingga memanen padi, yang dapat melingungi kepala, wajah, punggu, hingga kaki.

Sama dengan tatupung rebe, tatupung bahuruk biasanya digunakan untuk melindungi kepala. Biasanya tatupung ini digunakan oleh perempuan yang bekerja di perkebunan seperti karet, sehingga fungsinya lebih melindungi diri dari percikan getah, dan membawa benda berat di kepala.

Secara kesluruhan, apabila perempuan Dayak menggunakan tatupung itu sudah siap bekerja dan membantu aktivitas masyarakat adat Maanyan. Artinya yang menutup wajah sampai punggung itu adalah sifat yang harus  pantang mundur.

 

4. Jong Bayan

Sumber Foto: desakarangbajo.com

Jong Bayan adalah penutup kepala  khas dari Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Bahannya terbuat dari kain tenun berbentuk persegi empat yang luasnya sekitar 40 sentimeter dengan paduan benang warna-warni.

Pemakaiannya cukup sederhana, dengan membagi dua hingga membentuk segitiga untuk diikatkan ke kepala. Selanjutnya, benang diujung kain yang merupakan tali pengikat harus dibalutkan ke depan kepala sampai habis.

Segitiga itu bermakna melambangkan sebuah gunung adalah sumber dari makhluk hidup di Bumi ini. Jong digunakan sejak turun temurun dan sering digunakan pada acara ritual antara lain:

1.  Maulid adat bayan

2. Ritual menumbuk padi

3. Ritual mencuci beras di saat kami ingin melaksanakan ritual adat

Agar kuat tidak lembek berdiri di kepala, jong bisa ditambahkan kertas manila dalam lipatan segitiga sebelum dikenakan.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Diolah dari berbagai sumbe

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed