by

Merajut Kebersamaan dengan Belajar Tembang

Oleh: Xs. Endang Titis Bodro Triwarsi (Rohaniwan Khonghucu)

Nabi bersabda, “Bangunkan hatimu dengan sanjak. Tegakkan pribadimu dengan kesusilaan. Sempurnakanlah dirimu dengan musik.” (Lunyu Vlll: 8)

54 Tahun yang lalu, saat masih SD diikutsertakan dalam lomba Tembang Mocopat, terngiang selalu di telinga batin hingga kini, ‘…. agomo ageming aji.’

Sungguh kita bersyukur pandemi covid 19 berangsur dapat ditanggulangi. Aktifitas mulai membaik, bahkan di beberapa kota telah dinyatakan new normal. Tentu tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah menjadi aturan Pemerintah. Sedikit lega rasanya. Sebab, situasi perlahan kembali rame lalu lalang kendaraan yang berangkat dan pulang kerja, yang berangkat dan pulang sekolah, bahkan yang sekedar menghirup udara bebas. Selama hampir dua tahun ini,  kita merasakan kejenuhan, bahkan kebingungan dengan kondisi yang semua serba terbatas.

Di tengah pandemi Covid-19, waktu lebih dominan berada di rumah. Jika tidak ada yang sangat mendesak, kita nyaris tidak bepergian. Segala sesuatu dikerjakan dari rumah. Benar-benar membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan untuk menghadapi dan menerima keadaan.

Berangkat dari situasi inilah, kita diingatkan bahwa inilah hidup, ujian untuk belajar. Belajar menjadi manusia yang sabar ketika menghadapi berbagai tantangan. Tantangan inilah yang menjadikan manusia mengalami perubahan, menjadi pribadi yang bijak dan bajik, atau sebaliknya.

Hadirnya virus Covid-19 memunculkan dorongan yang sangat kuat dari dalam diri untuk belajar mengolah batin, merenungi perjalanan hidup. Kadang, serasa menonton film di mana juga muncul tokoh -tokoh antagonis yang menjadikan hidup ini semakin berwarna. Dalam situasi ini, tanpa disadari lahir kebiasaan baru, bersenandung di tengah kesibukan keseharian di rumah. Hal itu mengantar kami kepada pertemuan dengan kelompok belajar ‘Nembang Mocopatan’ yang dibimbing oleh sosok budayawan yang tak pernah pudar semangatnya walau kesulitan menghadang.

Baca Juga: Punia Pandemi

Salah satu yang saya tangkap dari beliau adalah keinginan membagikan dan mewariskan kawruh jawi melalui tembang mocopat sekaligus menjadi kebahagiaan yang tak terukur dengan rupiah, wujud menerima, mensyukuri dan mencintai budayanya serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sebagai warga bangsa Indonesia yang ber- Bhineka Tunggal lka.

Sayang, baru tiga atau empat kali perjumpaan dalam belajar, beliau telah kembali keharibaan-Nya.

Saya sebagai pribadi cocok memilih Rujiao/agama Khonghucu untuk bimbingan rokhani (saya dengan dua anak saya yg masih tinggal dalam satu rumah) kompak untuk belajar apapun yang positif berguna bagi kehidupan. Bak gayung bersambut, suasana belajar begitu gayeng, akrab, saling memahami kelebihan dan kekurangannya.

Sang pembimbing ketika ada yang fals suaranya atau bahkan tidak sama titilarasnya, dia menasehati dengan bijak. Tidak ada yang salah, adanya lucu membuat kita tertawa bahagia. Di sini kami merasakan tidak ada yang merasa dijadikan bahan ejekan, dipermalukan atau hal negatif lainnya. Suasana sungguh cair, sangat menginspirasi sikap sang pembimbing.

Kami jadi merasa apa yang dibimbingkan Zhi Sheng Kongzi mewujud dalam kelompok belajar ini. “Jika ingin tegak dan maju, bantulah orang lain tegak dan maju”. “Apa yang tiada inginkan mengena diri sendiri, jangan lakukan pada orang lain”. “Di empat penjuru lautan semua saudara.”

Dari belajar tembang inilah ada rasa mengharu biru, bahagia sedih menjadi satu. Mulai mengenal istilah titilaras, cakepan, dan lain sebagainya, di sana kita merasakan betapa kearifan budaya lokal sungguh sarat dengan ajaran mulia yang sebagai manusia menjalani titah-Nya. Apa yang seharusnya dilakukan dalam hidup, baik sebagai makhluk pribadi, sosial bermasyarakat, maupun dalam kehidupan bernegara. Walau kita berbeda dalam beragama dan lainnya, namun bisa senada dan selaras dalam kebersamaan.

“Belajar dan selalu dilatih tidakkah itu menyenangkan? Kawan- kawan datang dari jauh tidakkah itu membahagiakan? Sekalipun orang tidak mau tahu, tidak menyesali; bukankah ini sikap seorang Junzi?” (Lun Yu :1).

Perbedaan adalah keniscayaan. Kebersamaan dapat dibangun karena mau menerima perbedaan dengan apa adanya, bukan ada apanya. Dan harus di mulai dari diri sendiri.

 

Xs. Endang Titis Bodro Triwarsi (Rohaniwan Khonghucu)

Sumber: https://kemenag.go.id/read/merajut-kebersamaan-dengan-belajar-tembang-6vwlp

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed