by

Menyoal Ahmadiyah di Kalbar, Abdul Syukur: Jangan Mudah Terprovokasi

Kabar Damai I Kamis, 16 September 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Berbicara mengenai Ahmadiyah menjadi topik yang sensitive bagi sebagian orang di Indonesia, hal ini karena anggapan bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan tidak sesuai dengan ajaran agama sehingga melakukan diskriminasi dan intoleransi terhadapnya kemudian menjadi sesuatu yang dilumrahkan.

Hal semacam ini tentu bukan menjadi sebuah perilaku yang benar. Sebagai manusia dan sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, memberlakukan manusia yang lain dengan baik adalah sebuah keharusan. Hal ini juga telah diatur dalam hukum dan undang-undang negara sehingga tidak melakukannya adalah sebuah kesalahan.

Hingga kini, diskriminasi terhadap Ahmadiyah masih sangat sering terjadi. Tak hanya di Cikeusik dan beberapa kota lainnya, dalam hitungan waktu terakhir peristiwa serupa juga terjadi di Sintang, Kalimantan Barat.

Baca Juga: Memburu Aktor Intelektual Perusakan Masjid Ahmadiyah di Sintang

Pada hari Jumat, (3/9/2021), Masjid JAI di Sintang digeruduk oleh kurang lebih 200 orang yang menamakan dirinya Aliansi Umat Islam. Mereka merusak masjid dan membakar bangunan yang ada didekatnya. Kejadian tersebut terjadi di Desa Balai Harapan, Kecamatan Tempunak. Kabarnya, peristiwa tersebut dilakukan usai aliansi melaksanakan solat jumat.

Peristiwa diskriminasi yang terjadi dibanyak daerah terjadi karena berbagai anggapan, utamanya karena masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat. Hal ini didorong atas ketidaktahuan mereka sehingga keyakinan bahwa Ahmadiyah tak mengakui Muhammad sebagai nabi, berbeda dalam syahadat dan lain sebagainya masih kerap terdengar.

Dikecam Masyarakat Toleran

Aksi-aksi intoleransi dan bahkan merugikan masyarakat atau kelompok lain tentu tidak dapat dibenarkan dan didukung. Hal serupa adalah sebuah kesalahan dan juga melanggar hukum. Seperti halnya dalam kasus yang terjadi di Sintang sehingga mengadili para pelaku adalah menjadi sebuah keharusan.

Praktik intoleransi harus diakhiri, menganggap diri dan kepercayaan yang dianut adalah sesuatu yang benar memang menjadi sebuah keharusan, namun bila menganggap paling benar hingga berlebihan dan menganggap yang lain salah serta mendiskriminasinya adalah sebuah kesalahan yang besar yang harus dihindari.

Berbagai kejadian yang menyangkut tentang Ahmadiyah dimana mendapatkan diskriminasi haruslah didukung dalam hal penyelesaiannya. Termasuk dengan yang belum lama terjadi di Sintang, beramai-ramai organisasi dan kominitas serta lembaga yang toleran mendukung dengan berbagai cara dan upaya yang dapat dilakukan. Ini menjadi bukti bahwa masih banyak golongan yang peduli dan menganggap bahwa mengakhiri intoleransi adalah menjadi sebuah keharusan.

Mengenal Ahmadiyah: Tak Kenal Maka Tak Sayang

Dari berbagai persoalan tentang Ahmadiyah yang ada, salah satu penyebab besarnya ialah karena tidak mengenal secara benar.

Mengutip pernyataan dari Mubalig Ahmadiyah di Pontianak, Rustandi menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah muslim yang kedudukannya berskala global tidak hanya di Indonesia dengan pengikut lebih dari 10 juta dan berada dilebih dari 220 negara.

Ahmadiyah didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad yang diyakini oleh Ahmadiyah sebagai Imam Mahdi. Menurut Rustandi, Imam Mahdi diyakini oleh umat Islam dan ditunggu kedatangannya. Jadi, menurutnya, Ahmadiyah adalah muslim yang sudah mengimani Al-Masih dan Al-Mahdi sudah turun. Menurutnya pula, baik rukun islam dan rukun iman Ahmadiyah juga sama dengan yang diyakini oleh umat Islam kebanyakan.

Ahmadiyah beribadah sama dengan kebanyakan Islam lainnya, juga mengakui Muhammad sebagai nabi, melaksanakan puasa dan juga sama dalam hal syahad. Dengan demikian, tidak ada kesangsian dalam mengakui Ahmadiyah sebagai Islam apalagi menganggapnya sebagai agama sempalan.

Ajakan Tidak Terprovokasi

Menanggapi tengah memanasnya situasi di Kalbar tidak hanya di Sintang namun juga kabupaten/kota lainnya termasuk Pontianak. Abdul Syukur, Ketua FKUB Kota Pontianak mengajak masyarakat agar tidak mudah terprovokasi.

“Mencermati situasi pasca pengrusakan rumah ibadah jamaah Ahmadiyah di Kabupaten Sintang, saya mengajak dan menghimbau kepada seluruh umat beragama khususnya umat Islam di Pontianak untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang tidak bertanggungjawab,” ungkapnya.

Ia juga mangajak masyarakat agar percaya pada pemerintah dan Polri karena meyakini dapat menyelesaikan masalah yang ada.

“Kita serahkan kepada pemerintah dan aparat keamanan khususnya Polri, karena kita yakin aparat keamanan dalam hal ini polisi akan mampu menangani masalah tersebut secara arif dan bijaksana sesuai dengan hukum yang berlaku,” tambahnya.

Lebih jauh, bagi Kota Pontianak ia mengajak masyarakat agar senantiasa menjaga keamanan dan kondusifitas.

“Mari kita tetap jaga, situasi dan keamanan Kota Pontianak yang kondusif ini. Terlebih lagi masa pandemi seperti saat ini. Mari, kita tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan,” imbuhnya.

Selain menjaga kondusifitas dan keamanan, ia berharap agar seluruh masyarakat terhindar dari pandemi.

“Mudah-mudahan, Allah melindungi kita semua dan atas izin dan ridhonya pandemi covid-19 ini segera berakhir dan kehidupan kita bisa normal kembali,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed