by

Menyikapi Wabah Hoaks dan Cyberbullying

Oleh: M. Naufal Waliyuddin

Telah berapa lusin, kodi, atau bahkan berapa ton hoax dan gunjingan yang kadung menyelusup masuk ke mata dan telinga kita? Tentu, kurang kerjaan betul orang yang menghitung hal muspro semacam itu. Namun, sebut saja contoh tentang kasus Ratna Sarumpaet, lantas yang baru belakangan ini muncul: “7 juta surat suara tercoblos”. Keduanya menjadi headline beberapa hari dan viral. Betapa!

Sadarkah kita bahwa zaman sekarang, makin hari semakin sesak saja, pengap, hingga nyaris udara daily-activity kita tergantikan oleh ‘polusi-buatan’ yang dikuarkan oleh kedua masalah di atas? Udara menjadi penuh ketegangan, tipuan, rekayasa, dan adu domba (bukan yang di game Hago, lho ya, Wkwk).

Di fase peradaban yang konon mengalami kemajuan pesat, dusta berevolusi menjadi bentuk baru sebagaimana yang kita kenal: hoax. Belum lagi soal hoax-sintetis yang berdasarkan “versi golongan”; menurut X adalah hoax, boleh jadi akan dianggap fakta oleh golongan Y, dan sebaliknya, umpamanya. Sementara pergunjingan memang sudah sejak zaman baheula, hanya saja kini merasuk ke model yang lebih canggih, yakni virtual dan maya (di dunia online).

Hal ini memantik kembali ingatan tentang pepatah lama, “mulutmu, harimaumu”. Agaknya sekarang perlu direvisi, saja deh. Atau, jika sungkan, ya, paling tidak diimbuhi saja dengan frasa: “jempolmu, harimaumu”. Sebab di media daring, memuncaknya dua penyakit di atas justru lebih sering muncul dari jempol yang mengetik, tinimbang mulut yang berceloteh.

Orang merasa semakin ringan mengentikkan kebohongan, fitnah, ghibah, sampai kebencian dalam media daring—barangkali lantaran ‘merasa’ tidak terpantau. Lempar pisau, sembunyi jempol. Sungguh era yang menurunkan derajat keksatriaan manusia di mana interaksi bil-muwajjahah semakin berkurang intensitasnya.

Padahal, kalau ditinjau dari segi perkembangan, orang sekarang lebih pandai-pandai dan terdidik (mengikuti pandangan umum: yang disebut terdidik adalah banyak yang lulus dari Perguruan Tinggi). Ironisnya, mutu tersebut belum pasti menjamin apakah seseorang yang tergolong ‘terdidik’ tersebut akan bertindak bijak atau malah senewen dan ceroboh alias sembrono. Inilah PR kita bersama yang meski tidak usah dipikir pusing.

Baca Juga: Redam Hoax dan Hate Speech dengan Bijak Membaca

Tetapi kemirisan akan kondisi ini menunjukkan tingkat peradaban yang, boleh dikata secara fisik-teknologi maju, namun secara rohani-nurani dan kemanusiaan, justru merosot.

“Hal yang paling aku takutkan menimpa umat ini

adalah adanya orang yang pintar bicara namun tidak mengenali hatinya.”

-Umar bin Khattab-

Atas dasar tersebut, perlu bagi kita untuk pandai-pandai (eh, jangan pandai lagi, maksud saya: secara bijak) dalam menyikapi debur gelombang hoax dan pergunjingan berbasis online (kayak apa aja, ya? Pake berbasis segala).

“Orang memerlukan dua tahun untuk berbicara,

tetapi limapuluh tahun untuk belajar tutup mulut.”

-Ernest Hemingway-

 

Sebetulnya, dalam menyikapi kedua wabah tersebut, tidaklah rumit-rumit. Tidak seribet rumus fisika mekanika quantum, kok. Yang perlu dimiliki setiap individu adalah daya resilience.

Dengan istilah lain, orang musti punya ‘pegas penahan’ untuk menghindarkannya dari tindakan ceroboh atau terpengaruh lantas kemudian turut menyebarkan sesuatu yang unfaedah. Kalau meminjam redaksi Cak Nun, hidup itu harus pintar ngegas dan ngerem. Kira-kira begitu.

Kemudian, something yang perlu ditekankan kepada “Generasi Jempol” sekarang ini, seperti quotes Ernest Hemingway, yaitu keutamaan diam. Ini kuncinya. Lebih dikarenakan diam itu dapat menghindarkan diri dari kekeliruan. Fal-yaqul khairan aw liyasmut. Berkata baiklah, atau jika belum bisa, mending diam saja.

Diam juga dapat menambah kewibawaan yang merupakan pertanda adanya ilmu. Dalam kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Asyqolany—yang disyarahi oleh Syekh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al-Jawi (Al-Bantani)—dijelaskan bahwa diam itu mengandung banyak fadhilah. Seperti yang disebutkan di dalam kitab tersebut, hadits Nabi mengungkapkan: “Diam itu hiasan bagi orang alim dan penutup bagi orang bodoh.” (HR. Abusy Syaikh Al-Mihrazi).

Ada lagi sabda Nabi Saw. yang lain: Ash-Shumtu sayyidul Akhlaqi. (HR. Ad-Dailamiy dari Anas bin Malik). “Diam adalah pimpinan akhlak”. Menunjukkan pentingnya diam karena hal itu dapat menyelamatkan pelakunya dari ghibah dan dosa-dosa lainnya.

Kemudian ada tambahan hadits lain dari Ibnu Umar, Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ash-Shumtu hikamun, wa qalilun fa’iluhu. (HR. Ad-Dailamiy). “Diam itu hikmah (kebijaksanaan), namun sedikit orang yang melakukannya”.

Dari uraian di atas, dalam menyikapi wabah hoax dan virus-menular bernama “gunjing-online”, yang perlu kita amalkan ialah melatih diri agar diam. Terapi cicing. ngerem. Tidak ngegas melulu. Hal ini akan menjauhkan diri dari kungkungan peluang dan potensi dosa ghibah dan penyebaran hoax kebencian.

Meski demikian, jika ada hal baik yang mampu kita lalukan selain diam—atas kedua penyakit di atas—tentu saja hal tersebut lebih utama daripada diam. Contoh sederhananya seperti; dzikir, membaca al-Quran, diskusi, ataupun melakukan upaya lain untuk meng-counter keduanya, umpamanya dengan menulis.

Namun diam juga masih penting dan perlu. Itu melatih dayan-cegah kita dari keterpengaruhan untuk ikut bergunjing dan menyebar hoax.

Juga, sekali waktu, untuk mendapatkan kebiasaan diam dan kepandaian mengontrol diri, seseorang butuh merutinkan diri agar menyepi. Mensunyikan dirinya. Uzlah atau khalwat dari hiruk pikuk gaduhnya peradaban yang makin kurang beradab. Sebab, dengan sunyi, mata kita akan terlatih untuk mengetahui mutiara hikmah yang tersembunyi di balik apa saja. Bukan hanya fitnes jempol di smartphone hanya untuk komentar hal-hal kurang berfaedah. Semoga.

“Hanya sunyi, yang sanggup mengajarkan kita, untuk tak mendua.”

-Emha Ainun Nadjib

Naufal Waliyuddins, Peneliti Generasi Muda dan Pengelola metafor.id

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed