Menyelami Makna Toleransi Sepanjang Perjalanan di Sai Bumi Ruwa Jurai, Lampung

Kabar Damai | Senin, 15 Mei 2023

Lampung | kabardamai.id | Momentum bertemu, berdialog, dan juga bertukar kisah dengan kawan-kawan adalah hal yang menyenangkan. Apalagi jika semuanya berasal dari ragam daerah, suku, agama, dan keyakinan yang berbeda.

Itulah yang saya alami saat mengikuti Pecae Train Indonesia #15 Goes to Lampung Palembang. Ini menjadi momen pertama kali saya dalam melakukan perjumpaan dengan berbagai kawan muda dan menempuh perjalanan bersama.

Perjalanan bersama ini menjadi semakin menarik karena kita melewati berbagai kota, lintas provinsi, bahkan pulau. Di Preace Train yang identik dengan perjalanan kereta, namun kali ini menjadi semakin seru, karena tak hanya menggunakan kereta api, para rombongan juga menggunakan bis dan kapal laut untuk menyebrangi selat pulau Jawa-Sumatera.

Kota Bandar Lampung menjadi destinasi perjalanan pertama kita di Peace Train Indonesia #15, sebelum menempuh perjalanan berikutnya di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan, yang merupakan salah satu kota paling toleran di Indonesia.

Memulai perjalanan dan pembukaan dari Gereja Protestan Indonesia di Bagian Barat (GPIB), benar seperti yang disampaikan oleh Gus Ulil saat sambutan pembukaan “Peace Train meskipun hanya tentang jalan-jalan, tetapi mengandung banyak makna dan tujuan, salah satunya adalah dialog.”

Dialog sebagai kunci dari setiap keterbukaan, kesepahaman, dan bibit-bibit memupuk perdamaian dan nilai toleransi, telah terjadi sepanjang proses kegiatan Peace Train yang diikuti oleh peserta dari beragam agama dan keyakinan di Indonesia.

Di sepanjang jok kursi Damri yang kita tumpangi dari halte Stasiun Gambir sampai menyebrangi selat Jawa-Sumatera, terdengar obrolan demi obrolan dari setiap sudut bangku kendaraan. Beragam percakapan terbangun antar peserta, dari yang paling sederhana terkait kesamaan hobi, latar belakang aktivitas, hingga dialog-dialog pemahaman agama.

Benar kata pepatah, ‘Tak kenal maka tak sayang, tak bercakap maka banyak salah paham,’ dengan beragam dialog yang terbangun di antara peserta, maka hal-hal yang sebelumnya kita curigai, membuat kita takut dan khawatir dengan beragam perbedaan, sekilas menjadi sirna setelah topik demi topik kita bicarakan sepanjang perjalanan yang dilalui.

Sesampainya di Provinsi Lampung, para peserta dibawa menginap di gereja Sidang Jemaat Allah El-Shaddai Lampung. Para peserta beristirahat di gereja sepanjang satu hari dua malam di kediaman Pendeta Erwin.

Ini bukan momen pertama kali saya berkunjung di geraja, tetapi untuk tinggal dan bermalam, ini merupakan pengalaman pertama yang mengesankan. Para peserta dijamu dengan baik oleh keluarga Pendeta Erwin. Meskipun berbeda agama dan pulau, kita benar-benar merasakan nilai toleransi dan perdamaian itu hidup di sepanjang kegiatan Peace Train.

Keesokan harinya di hari Kamis, 11 Mei 2023, kita berangkat menuju Gereja Kristus Tanjung Karang dan mendengarkan berbagai talkshow dari mulai tema ‘Sharing dengan Pegiat Perdamaian di Lampung’ yang disampaikan oleh Mbak Selly Fitriani, Romo Roy, juga Pendeta Christya, hingga tema ‘Women as a Peace Maker in Post Pandemic Era’ yang disampaikan oleh Ustad Ahmad Nur Kholis, Mbak Yuli Nughrahani, dan Harkirtan Haur yang merupakan perwakilan dari Komunitas Sikh Jakarta.

Rasa penasaran terhadap Lampung yang beberapa waktu terakhir sering viral dengan beragam informasi, seperti wilayah rawan konflik, bahkan BNPT menyebutnya sebagai kantong ekstrimisme dan terorisme, terjawab sudah dalam dialog dengan para tokoh agama dan pegiat perdamaian dan perempuan di Lampung ini.

Sebagai mana yang disampaikan oleh Pendeta Samuel Sitompul dari PGIW Lampung, “Perdamaian tidak datang dengan sendirinya, perdamaian harus diupayakan,”  maka melalui kegiatan Peace Train Indonesia #15 Goes to Lampung Palembang, menjadi momentum berharga dalam mengingatkan kembali tentang tujuan inti dari bangsa.***

Penulis: Vevi Alfi Maghfiroh

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *