by

Menunggu Kiprah FPI Jilid Baru

-Opini-122 views

Ahmad Nurcholish

Front Pembela Islam (FPI) resmi menjadi organisasi terlarang melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) yang diteken tiga menteri dan tiga kepala lembaga negara lainnya pada 30 Desember 2020) lalu. Tak lama kemudian, hari itu juga para pentolan FPI mendeklarasikan Front Persatuan Islam (FPI). Namun belakangan, nama tersebut diganti menjadi Front Persaudaraan Islam (FPI) yang dideklarasikan ulang pada 8 Januari 2021.

Sebagaimana sudah diduga, pembubaran FPI tak akan banyak berpengaruh terhadap ormas yang dipimpin oleh Rizieq Shihab tersebut. Terlebih “Imam Besar” FPI itu pun jauh hari sebelum dilarang, ia sesumbar bahwa jika FPI dibubarkan atau dilarang  ia akan segera mendeklarasikan FPI baru. Bisa Front Persatuan Islam, bisa pula Front Persaudaraan Islam atau nama lain yang singkatannya tetap FPI.

Lantas, atas dideklarasikannya FPI jilid baru tersebut akankah mengubah wajah dan kiprahnya di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini? Jika melihat track record FPI selama ini rasanya mustahil perubahan tersebut akan terjadi, meski bukan tidak mungkin.

Misal saja, Front Persaudaraan Islam tetap menggunakan ideology dan cara lamanya dalam dakwah dan gerakannya, yang kerap dilakukan dengan cara-cara intoleran dan kekerasan, maka masyarakar dan pemerintah tentu tak akan tinggal diam. Berbagai kelompok masyarakat, terutama dari kalangan NU dan Muhammadiyah serta masyarakat dari luar keduanya, sudah lama jengah dengan sepak terjang FPI yang sering menimbulkan keresahan dan ketakukan masyarakat. Oleh sebab itu kita menunggu dengan harap kiprah “persaudaraan” FPI jilid baru ini.

Sebagian dari kita boleh saja merasa senang dan lega dengan dilarangnya FPI jilid “pembela”. Namun demikian, atas nama demokrasi, kebebasan berpendapat dan berserikat yang dijamin konstitusi mereka masih punya hak untuk tetap ada dan berkiprah sesuai misi dan visi perjuangan mereka. Yang dapat kita lakukan adalah memastikan dan mengawal FPI jilid “persaudaraan” dapat berkiprah sesuai makna dan esensi “persaudaraan” (ukhuwah) sebagaimana diajarkan dalam Islam.

“Persaudaraan” dalam Islam disebut sebagai “ukhuwah”. Dari situ, sebagaimana dipaparkan oleh Muhammad Fani dalam laman islami.co (26/1/2019),  kemudian lahir konsep persaudaraan dalam Islam atau “ukhuwah islamiyah”. Kata ukhuwah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “persaudaraan” terambil dari akar kata yang mempunyai makna “memperhatikan atau peduli”. Makna dari akar kata ukhuwah ini memberikan pemahaman bahwa persaudaraan meniscayakan adanya sikap perhatian atau kepedulian di antara mereka yang bersaudara.

Pendapat berbeda mengatakan, kata ukhuwah pada mulanya diartikan sebagia “persamaan” atau “keserasian” berbagai hal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ukhuwah diartikan sebagai persaudaraan karena sikap perhatian atau kepedulian yang pada awalnya lahir disebabkan adanya persamaan di antara mereka yang bersaudara.

Kita, umat Islam di Indonesia lazim memaknai Ukhuwah Islamiyah sebagai persaudaraan sesama umat Islam. Namun,  pemaknaan tersebut dinilai kurang tepat oleh Prof. M. Quraish Shihab, penulis Tafsir Al-Misbah.  Pakar tafsir ini meninjau dari sudut  kebahasaan dalam memahami makna ukhuwah islamiyah. Menurut rector UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ke-8 ini, kata islamiyah tidak tepat jika dijadikan subjek atau pelaku dari kata ukhuwah yang akan memberikan artian “persaudaraan sesama umat Islam”.

Menurut Menteri Agama periode 14 Maret 1998 – 21 Mei 1998 tersebut, kata islamiyah lebih tepat dipahami sebagai adjektiva dari kata ukhuwah, sehingga akan bermakna “persaudaraan yang bersifat islami” atau “persaudaraan yang sesuai ajaran Islam”. Pemahaman mengenai makna yang terakhir itu menurut Fani,  lebih memiliki nilai jika dibandingkan pada pemaknaan yang awal.

Dari paparan singkat itu, jika FPI jilid “persaudaraan” dapat diterima oleh masyarakat luas (dan juga oleh pemerintah), maka harus mengimplementasikan kata “persaudaraan” di tengah frasa “Front” dan “Islam” dalam makna persaudaraan yang Islami, persaudaraan yang sesuai syariat Islam. Bagaimana caranya?

Sebelumnya, FPI jilid “pembela” banyak menuai kritik bahkan kemarahan banyak orang karena kiprah ormas tersebut dinilai tak sesuai dengan namanya. Front Pembela Islam, namun dalam sejumlah aksi mereka yang tak segan melakukan kekerasan, justru dinilai justru merusak citra Islam. Bahkan penulis sendiri, saking geramnya,  beberapa kali memplesetkan FPI sebagai Front Penista Islam.

Maka, tantangan FPI mendatang, paling tidak ada dua hal penting jika mereka hendak diterima oleh masyarakat luas yang tak hanya oleh pendukung setiianya.

Pertama, memaknai “persaudaraan” (ukhuwah) sebagaimana dipaparkan oleh Prof. Quraish Shihab di atas. Dengan begitu FPI harus meninggalkan karakter lamanya yang gampang sekali mengkafir-kafirkan orang atau komunitas lain yang berbeda dengan mereka. Cara-cara takfiri ini harus lepas dari diri FPI. Jangankan terhadap sesama Muslim, terhadap non Muslim pun tak boleh mengkafir-kafirkan. Mengapa? Sebab Al-Quran menyebut non Muslim sebagai ahlul-kitab, bukan kafir. Jika tidak maka FPI baru tak jauh beda dengan FPI lama.

Kedua, kembali pada semangan dakwah bil-hikmah dan mauidhah hasanah, dengan bijaksana dan tauladan yang baik. Dakwah  amar ma’ruf nahi munkar dengan cara-cara munkar tak boleh lagi dilakukan oleh FPI. Menyeru kebaikan harus dengan cara yang baik pula. Pun mencegah kebatilan harus dengan cara-cara yang baik pula. Tidak bisa dengan cara-cara batil  yang justru mencederai Islam itu sendiri.

Mampukan FPI melakukannya? Kita tunggu saja.

 

Ahmad Nurcholish, deputi direktur ICRP, pengajar religious studies Univ. Prasetya Mulya, Tangerang.

 Noted: Tulisan ini sudah pernah dimuat dalam e-Bulletin islamina Vol. 2 No. 11, Januari 2021

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed