by

Menteri PPPA: Perempuan dan Anak Harus Hidup Aman, Bebas dari Aksi Kekerasan

Kabar Damai | Selasa, 21 September 2021

Jakarta | kabardamai.id | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga mengecam penyerangan tenaga kesehatan (nakes) dan guru di Distrik Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua pada Senin, 13 April 2021 lalu.

Tragedi pembakaran Puskesmas Kiwirok yang dilakukan KKB mengakibatkan Gabriela Meilan, nakes berusia 22 tahun meninggal sangat mengenaskan. Menjadi ironi dan memprihatinkan, khususnya ketika sedang menjalankan pengabdian kepada masyarakat.

“Demi tegaknya hak asasi dan keadilan sosial bagi warga Papua, negara harus hadir dan menggunakan kekuatan yang diperlukan untuk mengeliminasi semua potensi ancaman terhadap warga Papua. Masyarakat khususnya perempuan dan anak sebagai kelompok yang rentan harus mendapatkan perlindungan dan pemenuhan hak untuk dapat hidup aman, bebas dari segala aksi kekerasan, apalagi sampai menghilangkan nyawa. Karena tidak boleh ada toleransi sekecil apapun terhadap segala bentuk kekerasan dan kita harus bebas dari segala bentuk diskriminasi,” kata Menteri Bintang dalam keterangan pers, Senin, 20 September 2021.

Bintang menambahkan, hal tersebut sejalan dengan prinsip The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW) yakni perlindungan dan penegakan hak perempuan yang paling komprehensif, serta sangat penting karena hal itu telah menjadikan segi kemanusiaan perempuan sebagai fokus dari keprihatinan HAM.

Baca Juga: KemenPPPA: Perlindungan Anak adalah Wujud Tritugas Gereja

Ditambahkan, Menteri Bintang mengatakan, negara wajib hadir dengan tujuan yang jelas, yakni melindungi warga Papua agar bisa menjalani kehidupan dengan normal, tanpa dibayang-bayangi teror dan ketakutan.

“Ketika Papua kembali damai dan kondusif, pemerintah akan bisa dengan tenang melanjutkan pembangunan. Selain itu, negara harus hadir dan hukum, harus ditegakan untuk menghentikan tindakan yang tidak berperikemanusian dan melanggar HAM,” ujarnya.

Apalagi ketika disertai perusakan fasilitas publik, fasilitas kesehatan, dan pendidikan di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Menteri Bintang menegaskan, aparat penegak hukum harus bertindak dan melakukan penegakan hukum secara tegas dan terukur atas serangkaian aksi teror dan kejahatan kemanusiaan KKB sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bintang menyebutkan, dalam rangka perlindungan dan pemenuhan hak bagi perempuan korban kekerasan insiden penyerangan tenaga kesehatan dan guru di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua oleh KKB, Kemenenterian PPPA (KPPPA) akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk memberikan pendampingan baik psikolog, hukum dan reintegrasi.

“Saya beserta jajaran KPPPA menyatakan duka cita sedalam-dalamnya atas gugurnya pahlawan kemanusiaan nakes Gabriella Meilani, serta hilangnya Gerald Sokoy yang telah mendedikasikan hidupnya melayani warga masyarakat pedalaman di Papua khususnya di Kabupaten Pegunungan Bintang,” pungkas Menteri Bintang.

 

Prof Zubairi Minta Konflik Bersenjata Hormati Hukum Internasional

Sebelumnya, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 IDI, Prof Zubairi Djoerban menyoroti kasus kematian tenaga kesehatan (nakes) akibat ulah dari kelompok bersenjata di Papua.

Prof Zubairi melalui keterangan tertulisnya meminta agar semua pihak yang melakukan konflik bersenjata di Papua untuk menghormati hukum internasional.

Hal ini disampaikan Prof Zubairi melalui cuitan di akun Instagram pribadinya @ProfesorZubairi.

“Saya minta semua pihak dalam konflik bersenjata di Papua untuk hormati hukum internasional,” kata Prof Zubairi.

Zubairi menambahkan bahwa resolusi 2286 Dewan Keamanan (DK) PBB diadopsi dan diterapkan secara penuh. Hal ini disebut Prof Zubairi agar melindungi nakes, dokter, fasilitas medis.

“Pastikan resolusi 2286 DK PBB diadopsi dan diterapkan sepenuhnya untuk melindungi nakes, dokter, fasilitas medis,” ungkapnya.

Ia menyambung bahwa resolusi ini juga menuntut pertanggungjawaban kepada pelaku.

“Dan terutama: menuntut pertanggungjawaban kepada pelaku. Terima kasih,” sambung Prof Zubairi.

 

Usut Tuntas

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher menyoroti kasus kematian tenaga kesehatan Gabriella Meilani yang diduga jatuh dari jurang karena dikejar Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

“Pemerintah harus mengusut dan menindaklanjuti kasus ini hingga tuntas. Nakes dan fasilitas kesehatan merupakan  wilayah sakral yang terlarang disentuh dalam konflik apa pun,” kata Netty dalam keterangan tertulis, Minggu, 19 September 2021.

Menurut Netty, jaminan keamanan  dan perlindungan terhadap nakes yang bertugas di wilayah konflik harus menjadi prioritas pemerintah.

“Perlindungan dan  jaminan keamanan bagi seluruh warga negara merupakan amanat konstitusi. Tidak hanya untuk  WNI di dalam negeri, tapi bahkan juga mereka yang di luar negeri. Ini tanggung jawab negara,” ujarnya.

Apalagi, terang Netty, saat ini negara masih berhadapan dengan Covid-19 di mana nakes yang menjadi garda terdepan.

“Seharusnya mereka aman dari berbagai konflik apapun dan terlindungi jiwanya untuk tetap menjalankan misi kemanusiaan,” lanjut Netty.

Politisi PKS itu melanjutkan jika tenaga dan fasilitas kesehatan telah diserang, disiksa dan dilecehkan oleh KKB, maka pemerintah harus bertindak tegas dengan mengusut tuntas para teroris pelakunya.

“Ini merupakan bentuk penghinaan terhadap kemanusiaan yang tidak boleh dibiarkan, apalagi sampai  berulang lagi,” katanya.

Selain itu, lanjut Netty, pemerintah harus memberikan dukungan dan santunan memadai untuk korban dan keluarganya sebagai bentuk pertanggungjawaban.

“Pastikan korban dan keluarganya mendapatkan dukungan dan santunan memadai dari pemerintah. Mereka perlu mendapatkan perawatan psikis untuk memulihkan luka traumatis. Jangan sampai insiden ini membuat nakes menolak bertugas di wilayah terpencil dan konflik karena merasa tidak aman,” tandas Netty. [ ]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed