Menteri Agama: Belajar Toleransi Ala Rasulullah SAW

Opini119 Views

Jakarta | Kabardamai.id | Pandangan tentang dunia modern tidak akan lengkap tanpa pemahaman tentang Islam. Untuk memahami Islam, kita harus memahami Muhammad sebagai nabi dan sebagai manusia.

Karen Armstrong dalam buku Muhammad: Prophet for Our Time (2007), menuliskan, “No view of the modern world is complete without an understanding of Islam. To understand Islam, we must understand Muhammad as prophet and man.”

Sementara itu, Graham E. Fuller, mantan petinggi CIA menulis buku menarik berjudul A World Without Islam (2012). Isinya bersifat prediktif-futuristik, apa jadinya dunia jika tanpa Islam? Mungkinkah dunia tanpa Islam? Ini merupakan suatu pertanyaan yang menantang dan penulisnya telah menyediakan analisis yang mendalam soal itu.

Dunia tanpa Islam tidak mungkin terjadi mengingat di hampir semua belahan dunia, makin banyak orang yang belajar Islam dan bahkan memeluknya. Seandainya betul terjadi, belum tentu dunia akan baik-baik saja, atau menjadi lebih damai, misalnya, sebagaimana pandangan Islamophobia yang mendominasi pikiran Barat.

Islam bukan agama kekerasan. Islam justru mengajarkan kepada pemeluknya agar dunia dijaga dari kerusakan dan kehancuran.

Sangat tidak mungkin, agama yang mengklaim sebagai agama terakhir yang kehadirannya ditujukan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, menggunakan cara kekerasan untuk menyebarkannya.

Bagaimana mungkin agama yang mengajarkan kepada umatnya, bahkan untuk urusan sepele seperti menyingkirkan duri di jalan, dinista sebagai agama yang tidak manusiawi, radikal dan intoleran. Pemahaman yang salah tentang Islam seperti ini harus diakhiri.

Dunia tanpa Islam tidak mungkin terjadi mengingat di hampir semua belahan dunia, makin banyak orang yang belajar Islam dan bahkan memeluknya.

Benar kata Amstrong, dunia perlu memahami Nabi Muhammad SAW terlebih dahulu, agar dapat memahami Islam dengan lebih baik. Sekaligus juga untuk menyelesaikan berbagai problem kemanusiaan di dunia dengan jauh lebih baik.

Pada momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW seperti sekarang, dunia dan umat Islam seperti diingatkan untuk membuka kembali sirah Nabawiyyah.

Perjuangan dan sifat-sifat agung yang ada pada diri Rasulullah SAW patut dicontoh. Pribadi yang tidak pernah tega melihat umatnya menderita. Sosok yang santun dan toleran atas berbagai perbedaan dan keragaman pada umat manusia.

Keragaman-Perbedaan

Dunia penuh keragaman, dan keragaman dapat menimbulkan perbedaan. Perbedaan dapat menjadi berkah, tetapi juga bisa menjadi musibah. Perbedaan mungkin berujung konflik, bahkan peperangan jika hal itu tidak dikelola dengan baik.

Akan tetapi, perbedaan yang memotivasi manusia untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik, atau menyatukan, merupakan perbedaan yang membawa berkah bagi manusia dan kemanusiaan.

Keragaman dan perbedaan merupakan sunnatullah. Di mana pun di dunia ini pasti dijumpai keragaman. Agama, suku, ras, bangsa, negara, gender, warna kulit dan lain-lain dapat menjadi sumber keragaman dan perbedaan antarmanusia. Pemahaman atau penafsiran, bahkan sudut pandang, juga bisa menjadi titik perbedaan.

Terlebih lagi, kepentingan yang bertolak belakang, sudah pasti dapat membelah orang-orang atau kelompok yang sebelumnya sama dan sepihak. Meski kita telah menyadari bahwa Tuhan menakdirkan manusia berbeda-beda, kita sering berlagak pikun dan berusaha menyeragamkan semuanya.

Warga yang saling bersilaturahmi di sepanjang jalan pedusunan saat perayaan Idul Fitri di Dusun Tekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (2/5/2022). Dusun yang dihuni sekitar 700 warga ini memeluk beragam agama antara lain Islam, Kristen dan Budha.

Baca juga: Generasi Muda Sebagai Relawan Kebhinekaan dan Perdamaian (kabardamai.id)

Lebih-lebih dalam soal agama dan keyakinan, rasa-rasanya manusia selalu memiliki iman yang berbeda. Kita tidak perlu repot-repot menyatukan, meskipun berdakwah dibolehkan.

Menghadapi realitas kehidupan yang beragam itu, manusia diberikan jalan keluar. Jika kita cukup menebalkan ilmu dan iman, dialog dapat menjadi jalan yang mencerahkan dan mendamaikan.

Dalam dialog akan terjadi tukar-menukar ilmu, pengalaman, dan empati. Tak perlu bertengkar lantaran perbedaan. Sebab, penyelesaian perbedaan dengan otot hanya akan menyebabkan kehancuran pada kedua belah pihak.

Oleh karena itulah, Islam mengajarkan umatnya bersikap toleran terhadap berbagai perbedaan. Rasulullah SAW bersabda, inni ursiltu bi hanafiyyat samhat. “Aku diutus dengan membawa ajaran yang lurus yang bercirikan kelapangan (toleransi)”.

Lebih tegas lagi, Rasulullah SAW menyatakan, ahabb al-din ila Allah al-hanafiyyat al-samhat. “Agama yang disukai Allah SWT adalah yang lurus, lagi lapang/toleran”.

Toleransi

Cendekiawan M Quraish Shihab menjelaskan tuntas laku toleransi Rasulullah SAW dalam buku Toleransi (2022). Ketika menetap di Madinah pasca-hijrah, Rasulullah SAW mendapati kenyataan bahwa Madinah merupakan kota yang majemuk, baik agama maupun suku-suku yang tinggal di dalamnya. Kemajemukan itu dapat menjadi sumber persoalan dan rentan konflik.

Oleh karenanya, Rasulullah SAW menginisiasi suatu perjanjian yang dapat mendamaikan dan menyatukan berbagai perbedaan itu. Perjanjian itu dikenal sebagai Piagam Madinah (mitsaq al-madinah) dan diyakini merupakan embrio perjanjian antar bangsa, seperti Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Magna Charta. Oleh karena itulah, Islam mengajarkan umatnya bersikap toleran terhadap berbagai perbedaan.

Di dalam naskah perjanjian itu, disebutkan berbagai ketentuan yang menunjukkan adanya keterbukaan, saling menghormati, dan toleransi di antara mereka. Hal itu antara lain tergambar dalam soal kebebasan beragama bagi pemeluk agama, pembelaan bagi kaum yang lemah, serta kewajiban bela negara.

Nabi Muhammad SAW juga memberikan jaminan perlindungan kepada umat Kristiani untuk melaksanakan ibadah sesuai agama mereka. Bahkan, Nabi Muhammad SAW mengizinkan mereka untuk membangun rumah tangga beda agama di antara mereka, tanpa mengganggu kepercayaannya.

Peristiwa penaklukan Makkah (fathu Makkah) yang terjadi pada tahun 8 H/ 630 M, merupakan peristiwa toleransi paling agung dalam sejarah Islam.

Nabi Muhammad SAW pernah dikuya-kuya, disakiti, bahkan diusir dari tanah airnya oleh penduduk Makkah. Akan tetapi, pada saat Makkah diambil alih oleh Nabi Muhammad SAW, tidak ada sedikit pun pertumpahan darah atau balas dendam kepada kafir Quraisy.

Mereka dilindungi, diperlakukan dengan sangat baik dan dijamin keamanannya. Jika bukan karena sikap lapang dada, pihak yang menang pasti bersikap jumawa dihadapan yang kalah.

Toleransi bukan soal mayoritas – minoritas. Toleransi tidak boleh mencampuradukkan aqidah. Toleransi juga bukan soal membenarkan keyakinan yang berbeda-beda. Toleransi merupakan keberanian untuk menghormati dan menghargai perbedaan di antara kita, agar hidup tetap rukun dan damai.

Supaya penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Esa tetap dapat dilaksanakan, kita membutuhkan sikap toleran. Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh toleransi yang paripurna.

Penulis: Yaqut Cholil Qoumas

 

​​​​​*Artikel ini sebelumnya telah dipublikasikan di kemenag.go.id pada tanggal 29 September 2023. Kami merasa bahwa informasi ini masih relevan dan bermanfaat untuk pembaca kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *