by

Mentalitas Jurnalis di Medan Perang

Kabar Damai I Rabu, 15 September 2021

Jakarta I kabardamai.id I Film mengangkat kisah nyata yang dialami koresponden perang Suriah Marie Colvin yang meninggal dunia pada 2012. Sebuah biopik tentang koresponden perang Marie Colvin yang meninggal di Suriah pada 2012 menjadi selebrasi untuk profesi jurnalis yang sering “diserang” menurut pembuat film.

“You’re never get to where you’re going, if you acknowledge fear. I think fear come later, when it’s all over” – Marie Colvin

Begitulah jawaban yang dilontarkan Marie Colvin saat ditanya tentang bagaimana ketika ingin menjadi seorang jurnalis dan koresponden perang. Jurnalis kelahiran Amerika Serikat ini dikenal sebagai jurnalis yang gigih dan pemberani. Tahun 1986 ia memutuskan untuk menjadi seorang koresponden perang bagi salah satu surat kabar di Inggris, The Sunday Times.

Menjadi seorang koresponden perang bukanlah hal yang mudah. Banyak resiko yang harus ditanggung, nyawa selalu menjadi taruhan. Colvin mengakui pekerjaan yang ia pilih adalah sebuah panggilan yang sulit. Namun kebutuhan terhadap informasi dari garis depan, melakukan pelaporan seobjektif mungkin, menurutnya tidak pernah lebih menarik.

Film ini diawali dengan ditugaskannya Colvin ke Sri Lanka pada 2001 untuk bertemu dengan pimpinan pasukan Tamil Tigers yaitu Tamilshelvan. Marie terkejut saat dilihatkan kepadanya para wanita dan anak-anak dalam kondisi kelaparan dan kesehatannya menurun akibat diblokadenya makanan dan obat-obatan oleh pemerintah.

Saat harus meninggalkan pemukiman para pemberontak, ia disergap oleh tentara pemerintah. Sebuah rocket prolled grenade (RPG) ditembakkan ke arahnya saat ia meneriakkan “I’m not armed! Journalist! American!” Alhasil ledakan tersebut mengenai salah satu matanya hingga terluka dan akhirnya harus menggunakan penutup mata. Berkat aksi heroiknya dalam menyajikan beragam kisah perang berkaitan kemanusiaan, akhirnya Colvin dianugerahi penghargaan Foreign Correspondent of The Year oleh British Press Awards.

Meskipun telah mengalami kejadian yang buruk saat turun langsung ke medan perang, Colvin tetap melanjutkan pekerjaannya. Tiga tahun setelahnya ia pergi ke Fallujah, Iraq yang membuatnya bertemu dengan Paul Conroy, seorang fotografer freelance di zona perang yang kemudian diajaknya untuk mengungkap kuburan massal 600 orang yang dibantai oleh Saddam Husein pada tahun 1991 dekat Danau Habbaniyah. Dengan ngotot ia ingin memberitahu kepada dunia tindakan keji tersebut.

Colvin mengidap Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) akibat beberapa kejadian yang dia lihat selama berada di daerah konflik perang. Bayangan mayat seorang anak, letupan molotov, isak tangis para perempuan di medan perang menjadi mimpi buruk bagi sang jurnalis. Ia berhasil melewati fase tersebut dan melanjutkan perkerjaannya pergi ke Libya dan Suriah untuk meliput kedaan perang hingga akhirnya meregang nyawa di Homs, Suriah.

Film garapan sutradara Matthew Heineman ini diangkat berdasar sebuah artikel karya Marie Brenner: Marie Colvin’s Private War yang dimuat di Vanity Fair, Agustus 2012. Matthew dikenal sebagai sutradara yang sangat berpengalaman membuat film dokumenter. Kepiawaannya dicoba untuk dituangakan ke dalam film yang lebih panjang. Matthew mampu menampilkan kualitas yang tidak jauh berbeda. Film drama dengan olesan perang dibuat dalam bingkai-bingkai yang rapi.

Baca Juga: The Post: Menjadi Pers, Menjadi Penyampai Kebenaran

Menurut Matthew, dalam sebuah wawancara, film ini lebih merupakan potret psikologis wanita luar biasa dan apa yang mendorongnya untuk pergi ke tempat-tempat paling berbahaya di dunia untuk menceritakan kisah-kisah ini dan kemudian efek yang terjadi pada dirinya.

A Private War tak hanya mengangkat bagaimana perjuangan jurnalis meliput perang yang berbahaya, identik dengan kehancuran dan dekat dengan kematian. Film ini juga memperlihatkan bahwa jurnalis di medan perang juga berperan menjadi saksi atas banyak peristiwa kemanusiaan di tengah gemuruh propaganda pihak yang terlibat konflik dan perang. Kelaparan, mayat korban luka dan pemerkosaan adalah masalah kemanusiaan yang sering mereka jumpai di lapangan.

Rosamund Pike dinilai berhasil dengan aktingnya yang brilian dalam memerankan sosok Marie Colvin. Raut wajah yang senantiasa serius, suara dan gaya bicaranya dianggap mirip dengan sosok Colvin. Colvin dikenal sebagai sosok yang hangat bagi beberapa kawannya, berhati-hati saat mewawancara korban, tegas di hadapan para penguasa. Berkat aktingnya Pike mendapat penghargaan Golden Globe Awards kategori Best Actress in a Motion Pictures-Drama tahun 2018.

Scene terbaik dalam film ini menurut penulis. Pertama yaitu ketika Colvin berhasil kembali mewawancarai pemimpin diktator Libya, Moammar Gadafi. Disanalah kebebasan pers berperan. Tanpa rasa takut dan canggung, Colvin berbincang mengenai konflik Libya dan kekejaman yang Gadafi lakukan, bahkan beberapakali sampai menyudutkan sang Diktator. Hingga akhirnya Gadafi meninggal karena ulahnya sendiri.

Film ini menyajikan sinematografi yang cukup menjanjikan. Sang sinematografer berkerja keras untuk menunjukkan zona perang yang brutal atau tanah tandus wilayah Timur Tengah, termasuk kota mati yang hancur akibat perang. Bukannya tanpa cacat, film masih memiliki beberapa kekurangan. Beberapa adegan perang yang seperti terlihat canggung, penokohan beberapa tokoh politik seperti Mohammar Gadafi yang justru terlihat lucu, membuat film ini seakan-akan hanya dibuat-buat saja.

Film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton, terutama bagi seseorang yang minat dalam kajian jurnalistik dan para calon jurnalis yang kemungkinan menjadi sarana untuk bercermin kepada Marie Colvin.

Judul Film : A Private War

Pemeran : Rosamund Pike, Jamie Dornan, Tom Hollander, Stanley Tucci, Corey Johnson, Nikki Amuka

Genre : Drama/Perang

Durasi : 110 menit

Sutradara : Matthew Heineman

Produksi : Aviron Pictures

Tanggal Rilis : 7 September 2018

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed