by

Menkopolhukam: Islam Bukan Agama Teror, tapi Agama Kedamaian

Kabar Damai I Jumat, 19 Maret 2021

 

Surabaya I kabardamai.id I Menko Polhukam Mahfud MD menegaskan tindakan terorisme jelas sangat dibenci oleh semua ajaran agama, termasuk Islam. Meski banyak dicap sebagai agama teroris, Mahfud menyebut Islam justru merupakan agama yang cinta kedamaian.

Menurut Mahfud, tindak teroris hanya dilakukan oleh segelintir pihak saja. Namun, tidak jarang mengakibatkan pandangan pihak lain terhadap agama tersebut jadi berubah.

“Islam bukan agama teror. [Penduduk] Indonesia 87 persen beragama Islam, tapi kalau ada teroris yang kebetulan beragama Islam itu hanya beberapa segelintir orang. Islam adalah agama kedamaian,” ujar Mahfud dalam acara silaturahmi bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat di Makodam V Brawijaya, Surabaya, dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis (18/3), kutip kumparan.

Diwartakan kumparan (18/3), agar tidak ada pandangan miring terhadap ajaran agama tertentu, Mahfud mengajak seluruh umat beragama agar saling menghormati satu dengan lainnya. Ia menekankan tidak perlu ada rasa benci dari sebuah perbedaan dalam agama.

Tak hanya itu, Mahfud mengatakan, ketidakadilan dan korupsi justru menjadi sesuatu hal yang wajib dilawan oleh seluruh pihak.

“Kita tidak perlu membenci orang lain karena perbedaan agama. Yang harus kita lawan adalah ketidakadilan. Agama apa pun setuju melawan ketidakadilan. Yang harus kita lawan adalah perilaku korupsi,” ujar Mahfud.

“Orang Islam, kristen, Konghucu, Buddha, Hindu benci pasti sama orang-orang korupsi. Bahkan orang korupsi sama orang korupsi lainnya juga benci kok,” sambungnya.

 

Madinah Al-Munawarah sebagai Contoh

Ia kemudian mengambil contoh tentang konsep kehidupan yang saling menghargai perbedaan, yakni negara yang pernah didirikan Nabi Muhammad yaitu Madinah al-Munawwarah. Mahfud menyebut Madinah adalah negara berperadaban yang menghargai betul perbedaan.

“Ketika orang-orang takut saat Nabi Muhammad mendakwahkan Islam, Nabi Muhammad mengatakan: Innama Bu’istu liddini al-hanifiyah al-samhah; saya diutus bukan untuk mengislamkan orang Yahudi, bukan untuk mengislamkan orang nasrani, bukan untuk mengislamkan orang majusi. Tapi saya diutus ke muka bumi ini untuk membawa agama yang lurus tetapi toleran, tidak memaksa, tidak menyalah-nyalahkan orang lain karena berbeda,” terang Mahfud.

Atas dasar itulah, ia mengajak seluruh pihak untuk dapat membangun Indonesia sebagai negara yang cinta perbedaan dan menghargai seluruh perbedaan yang ada.

“Konsep kebersamaan dalam negara kebangsaan yang kita beri nama Indonesia, yang menurut ormas-ormas besar seperti Muhammadiyah, NU dan lain-lain disebut dengan konsep Islam Wasathiah. Mari bersama bangun bangsa dan negara ini berdasarkan sikap toleran terhadap perbedaan. Kita merdeka karena bersatu di dalam perbedaan dan akan maju karena bersatu,” pungkasnya.

Baca juga: Agama Cinta dalam Tradisi Sufi

 

Perbedaan adalah Sunatullah

Dalam Islam, perbedaan dan keragaman suku, budaya bahkan agama adalah sunnatullah. Karenanya, perbedaan tak akan pernah bisa dieleminasi, apalagi disatukan.

Perbedaan yang ada semestinya tak perlu dihilangkan karena memang tidak mungkin. Yang penting adalah perbedaan tidak menjadi penyebab tergerusnya persatuan dan retaknya kedamaian, serta kerukunan selalu terjaga dalam perbedaan.

Banyak ayat dalam Alquran yang mendukung bahwa perbedaan dan pluralitas di dalam masyarakat sudah merupakan ketentuan Tuhan, seperti yang dinyatakan di dalam ayat: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. (Q.S. A-Hujurat/49:13).

Dalam ayat lain Allah lebih tegas menekankan bahwa perbedaan setiap umat sudah dirancang sedemikian rupa: Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. (Q.S. al-Maidah/5:48).

Bahkan berbicara tentang surga,  Allah memberikan suatu pernyataan indah: Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain. (Q.S. Yusuf/12:67).

Dengan potensi-potensi keragaman yang Allah berikan kepada manusia, Dia ingin menguji manusia untuk fastibiqul khairat, berlomba-lomba dalam mewujudkan kebaikan sesuai dengan sistem pengetahuan dan keyakinannya masing-masing. Di titik keragaman itulah justru terselip rahmat bagi manusia. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas

Editor: –

Sumber: kumparan.com I detik.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed