by

Menjaga Kelestarian Alam dan Ajaran Tri Hita Karana

Om swastyastu, om awignamastu nama sidam. Om anubadrah kratawoyantu wiswatah ya namah swaha. Semoga semua kebaikan datang dari semua penjuru.

Mimbar Hindu kali ini akan membahas tentang Menjaga Kelestarian Alam dan Ajaran Tri Hita Karana. Apa arti Tri Hita Karana?

Tri Hita Karana adalah tiga penyebab hubungan yang harmonis untuk mencapai kebahagiaan. Tri Hita Karana sebagai landasan penting, tentang bagaimana manusia, menjalin hubungan baik dengan Tuhan beserta isi alam semesta semuanya. Oleh karena itu, perlu kita sikapi bersama, agar kehidupan umat manusia di bumi ini, bisa aman, nyaman, tentram dan damai.

Hubungan Manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi
Hubungan ini disebut juga dengan Parahyangan. Ini merupakan dasar yang paling utama, bagaimana kita menjalin hubungan antara Pencipta dan ciptaan-Nya, dan bagaimana memupuk sradha bakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai sumber dari segalanya.

Baru saja kita merayakan hari raya Pagerwesi dengan memuliakan sang Hyang Pramesthi Guru, sebagai Guru alam semesta. Di situ kita mohon kepada-Nya agar diberikan pagar yang kuat, setelah kita menerima ilmu pengetahuan suci. Harapannya, kita selalu diberikan keteguhan iman dalam hidup bermasyarakat. Hyang Widhi adalah maha pengasih lagi maha penyayang

Kita selalu diberikan anugerah Hyang Widhi yang luar biasa dari alam semesta. Contohnya, kita diberikan Oksigen secara gratis, diberi limpahan air jernih sebagai penghidupan, diberi banyak sinar matahari, diberi kesehatan dan kekuatan, diberi banyak rejeki, dan diberikan segala-galanya demi kebahagiaan dan ketentraman dunia lahir dan batin.

Maka dari itu, dalam mengadakan upacara keagamaan, di situ ada bentuk yadnya / bersesaji. Tujuannya mengucapkan puji syukur atas limpahan anugerah, juga memohon agar alam semesta selalu diberikan kerahayuan.

Baca juga : Implentasi Ajaran Tri Hita Karana Dalam Kehidupan

Hubungan Manusia dengan Sesama
Disebut juga dengan Pawongan. Manusia adalah makhluk sosial yang hidupnya saling bergantung satu sama lain. Oleh karena itu, manusia harus mampu menempatkan diri bagaimana agar terjalin hubungan yang harmonis antar sesama umat manusia untuk mendapatkan kedamaian hidup dalam bermasyarakat.

Kunci keharmonisan adalah persatuan, selaras, dan hidup rukun. Tak ada persatuan tanpa kerukunan. Dalam kitab Atharwaweda III .30.4 dikatakan: Yena dewa na viyanti No ca vidvisa te mithah. Tat karnmo brahma vo grhe samjnana purunebhyah.

Artinya: “Wahai umat manusia, bersatulah dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewa. Aku telah menganugrahkan yang sama kepadamu. Oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kalian. Dengan kerukunan membuat kita semakin kuat dalam menjaga kelestarian alam.”

Hubungan Manusia dengan Alam
Disebut juga dengan Palemahan. Alam semesta adalah tempat kita hidup, kita yang bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam agar tetep indah dan nyaman.

Kita bersahabat dengan alam lingkungan supaya bisa hidup bahagia. Banyak tanah yang subur, sungai besar, lautan luas, yang semua itu bisa kita jadikan sumber penghidupan. Bahkan, mungkin dengan alam semesta bisa kita manfaatkan sebagai sumber investasi, bisa kita jadikan tempat wisata yang dapat menghasilkan keuntungan.

Contohnya: pegunungan, bukit, danau, pantai, dan lain sebagainya. Pemanfaatan hasil alam yang bijaksana tentunya harus memperhatikan ekosistem dan kelestarian lingkungan yang baik. Kita harus pandai menjaga, menata lingkungan agar selalu bersih, indah, nyaman. Caranya, tidak membuang sampah di sembarang tempat, menanaman pohon rindang sebagai pelindung alam, juga melindungi semua satwa /binatang agar jangan sampai punah.

Namun di zaman Kaliyuga ini, jika dalam seharian menerapkan kemajuan teknologi tanpa banyak pertimbangan, kita sendiri yang akan rugi. Jika alam rusak, kita semua yang akan menderita. Misalnya, penggundulan hutan secara liar tanpa ada reboisasi, mengambil hasil laut dengan memakai bahan peledak, membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya. Semua itu tentunya akan mengakibatkan bencana alam.

Seharusnya kita bangga sebagai umat Hindu yang banyak diajarkan tentang dharma, kesabaran, dan kebijaksanaan. Kita juga diajarkan tentang ahimsa, mengasihi, dan menyayangi semua makhluk ciptaan Tuhan. Kita juga diajarkan tentang memayu hayuning bawana, yang artinya kita harus bisa membuat kedamaian dunia. Jadi, ikut serta menjaga kelestarian alam semesta adalah tugas dan kewajiban umat Hindu.

Om swastyastu, om awignamastu nama sidam. Om anubadrah kratawoyantu wiswatah ya namah swaha. Semoga semua kebaikan datang dari semua penjuru.

Penulis : Suryadi (Penyuluh Agama Hindu Boyolali)

Sumber: https://kemenag.go.id/read/menjaga-kelestarian-alam-dan-ajaran-tri-hita-karana-18ney

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed