by

Menjadikan Tokoh Agama dan Pemuda sebagai Pelopor PIP

Kabar Damai I Kamis, 1 Juli 2021

Samarinda I kabardamai.id I Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) melaksanakan Pembinaan Ideologi Pancasila Bagi Tokoh Agama, Pendidikan, Pemuda dan Komponen Masyarakat di Kalimantan Timur, Selasa, 29 Juni 2021.

Dalam sambutannya Kepala BPIP Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D mendorong tokoh Agama, Pendidikan, Pemuda maupun elemen masyarakat lainnya menjadi pelopor dalam Pembinaan Ideologi Pancasila terutama pada generasi muda.

“Seperti yang disampaikan oleh Presiden dalam Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021 lalu, kita mendapatkan arahan agar Pembinaan Ideologi Pancasila harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak biasa”, ucapnya, dikutip dari bpip.go.id (29/6).

Dirangkum dari laman BPIP, menurut Yudian,  semakin tingginya tantangan ideologi yang semakin kompleks menjadi tanggung jawab bersama dalam mengatasinya bahkan tidak hanya di dalam negeri PIP juga perlu diberikan kepada warga negara Indonesia yang berada di luar negeri atau diaspora.

Dirinya mengakui BPIP dituntut untuk bisa menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan yang sebisa mungkin menjangkau puluhan bahkan ratusan juta warga negara Indonesia dengan cara-cara yang inovatif, efektif dan efisien dari sisi anggaran, pembahasan yang elaboratif dan kekinian, serta memanfaatkan teknologi pembelajaran mutakhir.

Baca Juga: Tokoh Agama dan Pandemi: Antara Pencerahan dan Keteladanan

“Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan ini tidak saja bisa dinikmati oleh warga negara di dalam negeri tetapi juga warga diaspora di luar negeri”, harapnya.

“Hal ini mengingat tantangan ideologis yang makin kompleks dan berat, seperti jaringan ideologi transnasional yang luas dan mengakar hingga ke level komunitas”, sambungnya.

Ia juga mengapresiasi kepada tokoh, masyarakat dan Pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur yang sudah ikut berikhtiar dalam membumikan nilai-nilai Pancasila terutama untuk memasukan kembali Pancasila ke dalam Kurikulum Pendidikan.

“Dukungan juga kami harapkan agar RUU BPIP bisa segera disahkan untuk penguatan kelembagaan Pembinaan Ideologi Pancasila agar Pembinaan Ideologi Pancasila bisa berjalan secara lebih berkelanjutan”, tandasnya.

Mitra sekaligus Kader

Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan DR. Baby Siti Salamah, S.Psi., M.Psi., Psikolog dalam sambutannya secara daring menyebut para tokoh di dalam kelembagaan keagamaan dan pendidikan menjadi potensial untuk dijadikan mitra sekaligus kader pelopor penguatan Pembinaan Ideologi Pancasila.

“Para Tokoh di kelembagaan Keagamaan dan Pendidikan memiliki aktivitas kajian keagamaan dan pendidikan memiliki potensi besar dan agen penguatan PIP”, ujarnya.

Ia menjelaskan posisi para tokoh tersebut sangat strategis sebagai penyemai nilai-nilai universal agama dan nilai-nilai Pancasila sehingga tersosialisasikannya nilai-nilai tersebut secara masif di masyarakat.

Pengembangan program pendidikan dan pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila ini merupakan inisiatif strategis dalam upaya memberikan layanan dan jangkauan pendidikan dan pelatihan PIP kepada seluruh anak bangsa dengan adaptif, akomodatif dan partisipatif.

“Kami juga terus mengembangkan sistem standarisasi, akreditasi dan sertifikasi dan pelatihan Pendidikan dan Pelatihan PIP”, jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Kalimantan Timur Drs. H. Sufian Agus, M. Si, mewakili Gubernur Kalimantan Timur mengapresiasi BPIP yang telah melaksanakan PIP di Kalimantan Timur.

“Karena dengan adanya Pendidikan dan Pelatihan PIP ini kita dapat memupuk dan menumbuhkan kembangkan kembali nilai-nilai Pancasila untuk diamalkan dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara”, ujarnya.

Tak Boleh Terlena dengan Ideologi Luar

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Timur yang diwakilkan oleh Kepala Badan Kesbangpol Kaltim Sufian Agus mengingatkan perkembangan zaman yang sangat cepat ini sangat berpengaruh kepada tatanan adat istiadat, budaya dan keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara, sehingga perlunya penguatan nilai-nilai Pancasila.

“Kita tidak boleh hanyut dan terlena dengan Ideologi luar yang mengancam negara kita”, pesan nya.

Ia juga menegaskan Ideologi Pancasila tidak boleh ditawar sebagai pandangan hidup dalam berbangsa dan bernegara, karena dalam Pancasila terkandung nilai-nilai karakter bangsa yang berbeda dengan bangsa lainnya di dunia.

“Pancasila tidak boleh ditawar sebagai pandangan hidup karena dalam Pancasila terkandung nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yang berbeda dengan bangsa lain di dunia”, tegasnya.

Dalam kesempatan ini juga hadir langsung Kepala Pusat Data dan Informasi BPIP Dr. Drs. Yakob KM., M.Si, Kepala Biro Umum dan Sumber Daya Manusia Sunoto Setyo, S.E., M.Si, Dir Hubungan Antar Lembaga dan Kerjasama BPIP Elfrida Herawati Siregar, Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan BPIP M. Akbar Hadi Prabowo, SH., MH.

Sedangkan Narasumber dalam acara tersebut diantaranya Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga, Kemenko PMK Dr. Ir. Nyoman Shuida, M.Si, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kemenag RI Dr. H. Rohmat Mulyana Sapdi, M. Pd, Rektor UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Prof. Dr. H. M. Ilyasin, M.Pd, Kepala Kesbangpol Prov. Kalimantan Timur Drs. H. Sufian Agus, M. Si, Wakil Uskup Agung Samarinda Pastor Moses Komela Avan.

Pancasila Nilai praksis, Revolusi Mental Operasionalisasi

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga, Kemenko PMK Nyoman Shuida menambahkan Revolusi Mental adalah salah satu prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024. Gerakan Nasional ini erat kaitannya dengan Pembinaan Ideologi Pancasila yang sejauh ini berhasil dilakukan oleh BPIP.

“Revolusi mental itu visi presiden. Pancasila nilai praksis, revolusi mental operasionalisasi. BPIP sejalan pula dengan Generasi Emas 2045 dan program lainnya,” beber Nyoman, dikutip dari detikcom (29/6).

Menurut dia, pembinaan Pancasila penting untuk merubah pola pikir, serta menumbuhkan etos kerja, gotong royong, dan nasionalisme.

Di sisi lain, Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda M. Ilyasin menegaskan Pancasila adalah produk sejarah monumental. Merawatnya harus sabar dan telaten, didasari cinta dan semangat yang tinggi.

“Sebagai lembaga formal, mari kita dukung tugas BPIP yang sangat mulia,” jelasnya. [bpip/detikcom]

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed