by

Menjadikan Ideologi Pancasila Sebagai Filter Perkembangan Zaman dalam Mencegah Konflik

Oleh: Litta Aprilia

Teknologi luar angkasa adalah teknologi yang digunakan supaya manusia dapat  pergi, menjelajahi, dan mengambil objek – objek dari luar angkasa. Adapun beberapa contoh teknologi luar angkasa seperti Satelit Komunikasi, Satelit Pengamat Bumi, Satelit Navigasi, dan Telivisi Satelit.  Perkembangan teknologi luar angkasa pertama kali dimulai saat perang dingin yang melibatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet  semakin berkembang pesat hingga saat ini.

Perkembangan teknologi luar angkasa pertama kali dimulai sejak perang dingin yang melibatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet dan semakin berkembang pesat hingga sekarang.

Pada tanggal 12 April 1961 dalam misi yang bernama Vostok 1, Uni Soviet berhasil untuk melakukan peluncuran manusia ke luar angkasa. Misi ini melibatkan seorang astronot yang bernama Yuri Gagarin, manusia pertama yang pergi dan mengorbit bumi selama 108 menit dan kembali lagi dengan selamat.

Sementara itu, Amerika sedang dalam misinya untuk mendaratkan manusia di bulan dan mengembalikannya dengan selamat. Melalui riset dan ambisi yang besar, Amerika berhasil mendaratkan Neil Armstrong dan rekan-rekannya di bulan pada misi Apollo 11 pada tanggal 20 Juli 1969. Tidak hanya itu, misi pendaratan manusia di bulan ini dilakukan Amerika sebanyak 6 kali dengan misi terakhirnya pada tahun 1972.

Teknologi luar angkasa semakin berkembang setiap tahunnya. Tidak hanya berhasil mendaratkan manusia di bulan, satelit komunikasi dan navigasi juga diluncurkan oleh Amerika untuk mendukung berjalannya program-program televisi, telepon komunikasi, dan internet.

Baca Juga: UNDIP Disebut Menko Polhukam sebagai Benteng Pancasila

Tidak hanya di Amerika dan Uni Soviet saja, dalam perkembangannya teknologi luar angkasa juga diminati oleh banyak negara lain, seperti Kanada, Jepang, Perancis, Belgia, Denmark, Britania Raya, Italia, Belanda, Norwegia, Swedia, Spanyol, Swiss dan bahkan Indonesia juga meluncurkan satelit komunikasi pertama pada tahun 1976 yaitu Palapa A1 dan Palapa B1.

Hingga saat ini, teknologi luar angkasa terus mengalami perkembangan dan perubahan yang semakin canggih dari sebelumnya.

Mencegah Konflik, Donald Trump memberitahukan saat 2019 bahwa luar angkasa adalah domain perang baru dan diikuti oleh pembentukan Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat  sebagai komitmen dominasi negaranya di luar angkasa.

Banyak negara yang merasa cemas  dengan percepatan perlombaan senjata di luar angkasa sangat takut dengan hal itu.

Saat terlaksananya pertemuan terakhir Komite Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melaksanakan Penggunaan Luar Angkasa yang Damai, banyak negara mengatakan dengan serius bahwa mencegah konflik di luar angkasa dan menjaga luar angkasa agar tetap tenang telah menjadi hal lebih penting dari sebelumnya.

Terpilihnya Joe Biden dan Kamala Harris sebagai presiden dan wakil presiden Amerika Serikat berikutnya, menunjukkan telah adanya harapan.

Itu memastikan bahwa tidak akan ada konflik militer di luar angkasa dan eksplorasi serta penggunaan luar angkasa untuk kepentingan semua negara.

Di sisi lain, perang luar angkasa tidak akan memiliki pemenang yang jelas. Dalam arena yang kompleks dan digunakan bersama secara global seperti luar angkasa, negara-negara harus mematuhi aturan yang diterima dan praktik yang ditetapkan.

Alih-alih mencoba menjadi dominasi, Amerika Serikat dapat melayani dunia dan negaranya sendiri dengan lebih memfokuskan kepemimpinannya pada pemanfaatan luar angkasa untuk semua umat manusia, dan mencari lebih banyak lagi penemuan  alat canggih untuk perkembangan teknologi diluar angkasa.

Sebagai tanda yang menjanjikan, tim peninjau NASA Biden-Harris terdiri dari sekelompok ilmuwan luar angkasa serta mantan astronot. Pemerintahan saat ini mendirikan kembali Dewan Antariksa Nasional yang dipimpin oleh wakil presiden.

Menurut David Kuan-Wei Chen, direktur eksekutif Pusat Penelitian Hukum Udara dan Luar Angkasa di Universitas McGill, untuk memastikan domain luar angkasa tidak menjadi arena konflik, aturan yang berlaku untuk setiap penggunaan luar angkasa oleh militer perlu dipahami, dihormati, dan dikembangkan lebih lanjut.

Jika terjadi kegagalan itu dapat menyebabkan kehancuran, gangguan, dan dampak pada kehidupan sipil, terutama di negara seperti Amerika Serikat, yang ekonomi dan masyarakatnya sangat bergantung pada infrastruktur luar angkasa.

Steven Freeland, profesor Hukum Internasional di Universitas Western Sydney mengatakan bahwa luar angkasa adalah area yang padat dan kompetitif, di mana kepentingan ilmiah, komersial, dan ekonomi bertemu, serta masalah keamanan nasional dan militer.

Perkembangan Teknologi Luar Angkasa dapat mencegah konflik (lingkup lokal, nasional, internasional) karena seperti yang di bilang sebelum nya perang diluar angkasa tidak memiliki pemenang yang jelas, dan juga luar angkasa merupakan area yang padat dimana kepentingan di dunia ini bertemu seperti sains dan masalah keamanan nasional.

Perkembangan Teknologi Luar Angkasa juga sangat banyak manfaatnya di kehidupan sehari hari seperti mempermudah menjalin komunikasi antar wilayah, media pertukaran data – data secara efektif dan cepat dan mempercepat proses persebaran infromasi secara akurat dan mutakhir. Adapun dampak positif Perkembangan Teknologi Luar Angkasa yaitu Memajukan bidang informasi dan komunikasi dengan penggunaan satelit komunikasi, berkembangnya ilmu astronomi, dan memajukan sistem penginderaan jauh dengan penemuan Global Positioning System (GPS).

Indonesia merupakan salah satu negara yang terdiri dari ribuan kepulauan  dengan berbagai macam nilai kearifan local yang terdapat didalamnya. Dan merupakan salah satu negara berkembang yang terletak di Asia Tenggara. Negara yang menjadi tolak ukur negara lain dalam memajukan perkembangan bangsanya. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan Bangsa yang menjunjung tinggi persatuan dalam kemajemukan untuk Berbangsa dan Bernegara, Bangsa dengan keanekaragaman suku, agama, ras, dan ragam kebudayaan yang dapat bersatu dalam kebersamaan, Bangsa yang selalu menjunjung nilai-nilai etika, tata krama, serta sopan dan santun dalam berbangsa dan bernegara.

Perjalanan panjang yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh Nasional pada masa itu untuk mendapatkan pengakuan baik secara Nasional dan Internasional. Dengan adanya pengakuan dari masyarakat Internasional, maka sudah sepatutnya para generasi muda yang lahir dan dibesarkan diatas tanah ibu pertiwi Indonesia memiliki kewajiban untuk merefleksikan nilai-nilai Pancasila dalam berbangsa dan bernegara dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, era modern saat ini refleksi terhadap nilai-nilai Pancasila sudah menjadi hal yang sangat langka. Hal ini, dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari generasi muda Indonesia yang sudah tidak lagi menjunjung nilai persatuan atas kemajemukan. Semuanya hanya fokus pada nilai individulisme, kapitalisme, dan hedonisme dimana hal tersebut bertentangan dan tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.

Dengan adanya transformasi era yang semakin  maju seperti saat ini, sudah selayaknya dilakukan upaya-upaya untuk kembali ke jati diri Pancasila secara besar-besaran dengan :

  • Meningkatkan nilai pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda modern.
  • Menjadikan faktor utama dalam pembangun dan peningkatan kapasitas generasi muda dalam berbangsa dan bernegara.
  • Menjadikan sebuah rujukan dalam berbudaya.

Hal ini dikarenakan, Pancasila merupakan sebuah ideologi dengan pemahaman yang terbuka dalam menerima hal-hal baru dan berkembang di era modern dalam ke-Bhinneka Tunggal Ika-an.  Dengan adanya pemahaman yang terbuka ini, generasi muda diharapkan dapat menjadikan Pancasila sebagai refleksi dalam kehidupan keseharian untuk berprilaku bermasyarakat yang beretika, bermoral, bertata karma dan bersopan santun.

 

Oleh: Lita Aprilia, Siswi SMAN 1 Pontianak

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed