by

Menjadi Pribadi Tangguh dalam Menghadapi Permasalahan

Om Swastyastu. Om Awighnamastu Namo Sidham. Om Anobadrah Kratavo Yantu Visvatah. Semoga pikiran suci datang dari segala penjuru.

Umat sedharma yang saya hormati. Puja angayubagya kita haturkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas asungkerta wara nugrahanya, meski masih pandemi Covid-19, Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa memberikan kerta wara nugrahanya berupa kesehatan dan keselamatan untuk kita semua. Sujud bakti kita haturkan ke hadapan para maharsi yang telah menerima wahyu kitab suci weda, sehingga kita sebagai umat beragama hindu khususnya dapat mendharma baktikan ajaran-ajaran suci pada kehidupan sekarang ini.

Umat sedharma yang berbahagia. Pelita Dharma Ditjen Bimas Hindu Kementrian agama kali ini mengangkat tema ” Menjadikan Pribadi yang Tangguh dalam menghadapi Permasalahan”. Dalam menjalani kehidupan ini, kita tidak luput dari adanya permasalahan. Itu adalah hal lumrah yang akan terus datang, mengingat kita adalah manusia biasa, tempatnya salah. Pepatah Jawa mengatakan, “Ora ono urip tanpo sandungan, ora ono masalah tanpo pungkasan”. Tidak ada hidup tanpa cobaan, dan tidak ada masalah tanpa akhiran.

Ketika kita tersandung, jangan menyalahkan batu yang menghambat kita, tapi salahkan diri kita karena tidak hati-hati. Dalam kehidupan, manusia pasti akan menemui permasalahan. Lantas, bagaimana kita bisa menghadapi permasalahan tersebut? Dan apakah dalam agama Hindu ada ajaran sastranya?

Umat sedharma yang terkasih. Dalam ajaran agama Hindu, secara umum manusia selalu menghadapi tiga perkara besar dalam hidupnya. Hal itu seperti dinyatakan dalam pustaka Sarasamuscaya 474, Yang berbunyi: Arthaamsca durlabhamloke, klesamsca sulabham-statha, duhkham caiva kutumbaartham, yahpasyati sa mucyate. Begitu susahnya mendapatkan artha atau uang dengan benar dalam hidup ini, begitu mudahnya muncul masalah yang mengotori hidup ini atau Klesa, dan begitu sulitnya menjaga keakraban dalam persaudaraan atau Kutumbha dalam kebersamaan hidup ini.

Ada tiga perkara hidup. Pertama, Durlabhaning Artha. Yaitu, sulitnya mendapatkan uang yang benar. Saat pandemic, perekonomian menjadi sulit, banyak pekerja dirumahkan. Oleh karena itu, hiduplah berdasarkan fungsi, jangan berdasarkan gensi. Dalam ajaran agama Hindu, terdapat tiga cara memperoleh uang yang dilarang, yaitu: Anyaya Artha (uang hasil kekerasan), Apari klesa Artha (uang hasil penggelapan) dan Artha saking kasembahing satru (uang hasil sogokan lawan).

Kedua, Sulabaning Klesa. Artinya dalam kehidupan mudah sekali muncul masalah yang dapat mengotori hidup. Menurut Tatiterya Upanishad, ada lima hal yang dapat mengotori hidup yang disebut Panca Klesa, yaitu: Awidya, Asmita, Raga, Dwesa dan Abhni Wesa. Awidya adalah tujuh kemabukan karena gelap hati yang disebut Sapta Timira. Asmita artinya mementingkan diri sendiri atau egois. Raga artinya pengumbaran hawa nafsu. Dwesa artinya pendendam. Abhiniwesa artinya hidup yang terus diliputi oleh rasa takut. Itulah lima hal yang amat mudah muncul dalam hidup ini, sehingga selalu ada saja kesulitan hidup yang menimpa.

Sodaraku umat sedharma yang berbahagia. Perkara hidup yang ketiga adalah Duhkaning Mangraksa Kutumba, sulitnya menjaga keharmonisan keluarga atau keakraban dalam kehidupan. Dalam jangka waktu pendek, keakraban tersebut secara umum mudah didapat. Tetapi untuk membangun keakraban yang langgeng sungguh tidak mudah. Pepatah mengatakan, tidak ada kemuliaan tanpa adanya sebuah persaudaraan. Artinya, manusia tidak akan menemukan kemuliaan tanpa adanya rasa persaudaraan, rasa hormat menghormati, dan rasa toleransi yang kuat ditengah kemajemukan perbedaan yang ada ini.

Baca Juga: Berbahasa dalam Kasih Kristus

Sodaraku umat sedharma yang berbahagia. Lantas bagaimana cara kita menyikapi suatu permasalahan? Dan hal terbesar apa yang menghalangi kita dalam menyelesaikan masalah?

Setiap orang tidak sama dalam menghadapi, menyikapi, serta menuntaskan setiap masalah yang dihadapi. Ada yang karena suatu masalah menjadikan orang tersebut terpuruk, lemah dan bahkan merasa kehilangan harga diri-nya. Tetapi, ada juga yang karena mendapatkan masalah menjadikan orang tersebut menjadi lebih baik dan bahkan menjadi lebih kuat dan mendewasakannya.

Ketika kita dihadapkan dengan sebuah permasalahan, yang mampu menyelesaikan masalah tersebut adalah diri kita sendiri. Namun terkadang kita tidak yakin untuk menyelesaikannya dan akhirnya kita tidak berbuat apa-apa. Apakah ketika kita diam masalah akan berhenti begitu saja? Tentu tidak. Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi permasalahan tersebut? Hal yang perlu kita lakukan adalah berdoa, mencari akar permasalahannya, dan bersyukur atas cobaanNya.

Berdoa. Terkadang kita berpikir Tuhan pilih kasih. Temen saya beruntung terus hidupnya, kenapa saya banyak masalah yang tak kunjung henti? Bahkan, justru semakin bertambah. Pada hakikatnya, yang memberi masalah adalah Tuhan. Kenapa Tuhan memberikan masalah? Karena Tuhan ingin kita mengingat-Nya. Masalah terkadang datang karena dosa yang telah kita perbuat dan harus kita pertangungjawabkan. Maka yang perlu kita lakukan adalah mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, “Jangan meminta untuk masalahnya dikurangin, tetapi mintalah kekuatan dan kesabaran untuk menhadapi permasalahannya”.

Mencari akar permasalahan. Agama Hindu percaya adanya hukum karma pahala. Apa yang kita tanam pasti kita akan menuainya. Permasalahan pun juga begitu, ada masalah pasti ada penyebabnya. Kalau kita menyadari apa yang kita lakukan salah, maka hal yang pertama adalah minta maaf. When you are right, you have no need to be angry, when you are wrong, you have no right to be angry. Ketika kamu benar, kamu tidak perlu marah, ketika kamu salah, kamu tidak punya hak untuk marah. Setelah kita mampu mengetahui akar masalah, maka akan lebih mudah mencari cara dalam menyelesaikan permasalahan.

Bersyukur. Selalu ada hal positif dalam hidup yang bisa kita rasakan sebagai nikmat dari Tuhan. Bersyukur bisa jadi cara mengatasi masalah karena sikap ini sekaligus akan mengubah cara pandang atau perspektif terhadap dunia ini. Contohnya, jika saat ini belum mendapat pekerjaan, anda harus bersyukur karena bisa memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga. Ketika kita banyak bersyukur, cobaan yang besar bisa terlihat kecil. Energi positif ini akan sangat membantu berpikir positif dan pada akhirnya keluar dengan berbagai solusi untuk memecahkan masalah.

Sodaraku umat Hindu yang bebahagia. Dari urai tersebut marilah kita renungkan dalam perjalanan kita selama kehidupan ini bahwa suatu masalah merupakan gandengan dari suatu kehidupan. Tuhan menciptakan sebuah masalah pasti diikuti dengan solusinya. Solusinya apa? Tuhan ingin agar umat-Nya lebih dekat kepada-Nya.

Saya percaya, adanya sebuah permasalahan yang besar akan membuat kita balik kepada Tuhan. Masalah akan membuat kita jadi mengerti. Kekuatan kita itu tidak seberapa, kita perlu Tuhan. Masalah membuat kita sadar, siapa kita tanpa Tuhan. Kata kuncinya adalah jika kamu mundur, berarti kamu lemah. Jika kamu menghindari, berarti kamu yang salah. Dan Jika kamu lari, berarti kamu pengecut.

Sodaraku umat Hindu yang bebahagia. Demikian sedikit pesan dharma kali ini, semoga bermanfaat. Percayalah kalau hari ini kita punya kelemahan atau permasalahan, semua itu diizinkan oleh Tuhan supaya kita mengalami kemuliaan dan keajaiban dalam hidup kita.
Suro diro joyo ningrat, lebur dening pangastuti. Mugi Rahayu Sagung dumadi. Om Santi Santi Santi om

Viki Wisnu Astiko (Rohaniwan Hindu)

Sumber: https://kemenag.go.id/read/menjadi-pribadi-tangguh-dalam-menghadapi-permasalahan-y5gjp

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed