by

Menjadi Manusia yang Sepenuh Hidup

Oleh WS. Wichandra, SE (Rohaniwan Khonghucu)

Manusia terlahir ke dunia merupakan kehendak Tian, Tuhan Yang Maha Esa. Kita sebagai manusia merupakan makhluk terpilih untuk menjalankan tugas dan kewajiban yang sudah ditetapkan Tian. Maka sudah menjadi kewajiban manusia untuk menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.

Manusia terlahir bukanlah hanya kebetulan semata. Manusia bukan hanya sekedar hidup, melainkan diharapkan mampu menjalankan Firman Tian, mampu berkarya serta dapat bermanfaat bagi orang lain atau makhluk hidupnya. Dan, menjadi seorang Junzi merupakan tugas manusia dalam menjalankan kehidupan ini.

Sebagai makhluk pengemban Firman Tian, maka banyak hal-hal yang harus dijalankan dalam kehidupan ini. Apa saja yang wajib dijalankan? Senantiasa tekun menjalankan ibadah, banyak berbuat kebajikan, tekun membaca Kitab suci, dan mampu mengendalikan nafsu-nasfu.

Setiap manusia terlahir telah diberikan daya rohani berupa Watak Sejati yang di dalamnya terkandung benih-benih kebajikan dan daya jasmani berupa hawa nafsu. Misalnya,  gembira, marah, sedih dan senang. Manusia wajib menyeimbangkan daya-daya hidup tersebut. Tidak boleh terjadi ketidak-seimbangan, sehingga dapat menimbulkan ketidakharmonisan di dalam hidup.

Tian dengan segala kemahabesaran-Nya dengan penuh rahmat telah memberikan setiap hari kepada manusia berupa kesehatan, rezeki, dan panjang usia. Banyak yang sudah diberikan kepada manusia, sehingga mereka tidak dapat menghitungbya. Sebagai tanda bersyukur, maka manusia menjalankan segala firman-Nya dengan sebaik-baiknya.

Kebiasaan membina diri setiap hari merupakan kunci kehidupan bagi manusia itu sendiri. Hal ini sudah ditegaskan di dalam Kitab Da Xue Bab Utama: 6 , “Karena itu dari Raja sampai rakyat jelata mempunyai satu kewajiban yang sama, yaitu mengutamakan pembinaan diri sebagai Pokok.”

Dengan ayat tersebut, maka manusia harus terus dan tidak merasa capai melakukan pembinaan diri. Adapun cara membina diri dilakukan dengan beberapa langkah. Pertama, memeriksa diri. Yaitu, usaha seseorang untuk melihat ke dalam diri atas segala tingkah laku dan perbuatan yang sudah dilakukan selama ini, apakah sudah baik atau belum baik.

“Tiap hari Aku memeriksa diri dalam Tiga Hal; Sebagai manusia, adakah aku sudah sampai berlaku tidak Satya? Bergaul dengan kawan dan sahabat, adakah aku sudah berlaku tidak dapat dipercaya. Dan adakah ajaran Guru / Nabi Kongzi yang sampai tidak kulatih?” ( Lun Yu  I : 4 )

Kedua, memperbaiki kesalahan. Yaitu, usaha seseorang untuk memperbaiki segala tingkah laku atau perbuatan yang tidak sesuai ajaran agama selama ini. “Bila bersalah, janganlah takut memperbaiki” ( Lun Yu  I : 8 (4)

Ketiga, mawas diri. Yaitu, usaha seseorang untuk senantiasa berhati-hati dalam menjalankan kehidupan, terutama tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya. “Hati-hatilah. Was-waslah seolah-olah berdiri menginjak lapisan es tipis. Hati-hatilah. Was-waslah seolah-olah berjalan di tepi jurang yang dalam” (Lun Yu VIII: 2)

Baca juga : Moderasi Beragama dalam Ajaran Hindu

Yaitu, usaha seseorang untuk senantiasa berusaha sekuat tenaga meningkatkan terus segala yang sudah baik dilakukan selama ini.

“Bila suatu hari dapat memperbaharui diri, perbaharuilah itu terus tiap hari dan jagalah agar baharu selama-lamanya” ( Da Xue II : 1 )

Setiap manusia pasti memiliki keinginan agar di dalam kehidupannya dapat berjalan mulus, tanpa ada permasalahan hidup yang singgah. Manusia senantiasa berharap di dalam kehidupannya dipenuhi dengan kesuksesan, kebahagiaan, ketenangan dan sebagainya.

Namun Tian dengan segala kuasa-Nya terkadang memberikan ujian hidup atau cobaan hidup. Manusia hanya bisa berencana, namun Tian lah yang menentukan. Sehingga, di dalam perjalanan hidup, terkadang manusia menemui rintangan hidup.

Ada berbagai ujian atau cobaan hidup, antara lain: mendapat kegagalan dalam hidup, berkurangnya rezeki yang diterima, kehilangan sesuatu (harta, pasangan hidup,  pekerjaan, jabatan, dan lainnya), menderita sakit, kecelakaan, dan lainnya.

Dijelaskan di dalam Kitab Mengzi VII A: 2 , “Tiada sesuatu yang bukan karena Firman Tian, maka terimalah itu dengan taat di dalam kelurusan”.

Pesan ayat suci ini sangat jelas, bahwa apapun yang sudah diturunkan Tian hendaknya direnungkan, karena kita harus yakin semua dapat teratasi dengan baik, asalkan mampu menjalankannya.

Semua yang Tian berikan atas penghidupan kita, ada rencana Tian. Yaitu sudah sejauh manakah iman kita menghadapi ujian hidup atau cobaan hidup tersebut dan yang pasti Tian akan memberikan hal yang terindah pada saatnya nanti.

Dijelaskan di dalam Kitab Mengzi VII B: 15 , 2 & 5; (2) “Begitulah kalau Tuhan YME hendak menjadikan seseorang besar, lebih dahulu disengasarakan batinnya, dipayahkan urat dan tulangnya, dilaparkan badan dan kulitnya, dimiskinkan sehingga tidak punya apa-apa dan digagalkan segala usahanya. Maka dengan demikian digerakan hatinya, diteguhkan watak sejatinya dan bertambah pengertiannya tentang hal-hal yang ia tidak mampu. (5) Jadi tahulah kita bahwa hidup itu berasal dari kepedihan dan penderitaan dan yang binasa itu karena mau senang gembira saja.”

Maka sebagai manusia yang beriman, mensyukuri segala rahmat dan kasih Tian adalah kewajiban yang nyata yang harus dilakukan. Sebab, dengan senantiasa bersyukur maka jalan kehidupan yang kita lalui dapat mudah dijalankan.

Sebagai manusia berbudi luhur, maka kita harus menerima apapun yang sudah Tian berikan dan dalam bentuk apapun. Jangan mengeluh bila diberikan sesuatu yang kurang. Jangan merasa pesimis bila mengalami kegagalan. Jangan menginginkan sesuatu yang di luar batas kemampuan kita. Senantiasa tekun beribadah (bersembahyang dan berdoa) serta banyak berbagi/berbuat Kebajikan kepada sesama manusia maupun mahluk hidup lainnya.

Sebagai kesimpulan, sudah seharusnya kita jalankan kehidupan ini dengan penuh keikhlasan disertai rasa syukur atas apapun yang telah Tian turunkan kepada kita. Jangan pernah mengeluh atau menggerutu, apalagi kehilangan semangat dalam menghadapi tantangan hidup.

“Sesungguhnya untuk memperoleh kegemilangan itu, hanya bergantung pada usaha orang itu sendiri.” ( Da Xue  I : 4 ).

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed