Menjadi Islam yang Inklusif

Kabar Utama194 Views

Kabar Damai | Kamis, 21 April 2024

Jakarta I Kabardamai.id I Ahmad Munjid, Ph. D, Ketua Mardliyyah Islamic Center dalam program Ngaji Ramadan pada kanal Gusdurian TV membagikan perspektifnya tentang bagaimana menjadi Islam yang inklusif;

Diawal pemaparannya, ia mengungkapkan bahwa sebagian orang memahami bahwa beragama seperti berpuasa, sholat, zakat dan menjalankan ritual-ritual yang lain itu untuk Allah. Artinya beragama ditujukan untuk Allah.

Padahal, sesungguhnya beragama untuk Allah. Hal ini karena Allah sudah memiliki segalanya dan tidak membutuhkan Agama, tidak membutuhkan ibadah dari manusia. Ibadan dan agama yang dilakukan ialah untuk diri sendiri, umat Islam.

Menurutnya, agama dipraktikkan, diamalkan dan dijalankan oleh manusia supaya dapat menjadi manusia. Agama untuk mengajarkan kebaikan, agama untuk mengajarkan kebenaran pula. Dengan beragama kita akan menjadi manusia yang mengenal kebaikan, mengenal kebenaran dan mewartakannya.

“Darisini seringkali muncul persoalan karena sebagian orang percaya bahwa sebagai manusia kemudian dapat meraih dan mendapatkan kebenaran yang mutlak. Mampu untuk merebut dan mendapatkan semua kebenaran tersebut,” jelasnya.

Ia mebambahkan, ketika hal itu terjadi, maka sebagian orang beranggapan bahwa orang yang berbeda jalan kebenarannya dengan dirinya, penafsirannya berbeda dengannya itu salah. Itu yang kemudian menjadi tegang dalam orang berbeda tafsir, berbeda aliran dan kemudian bersitegang dan berkelahi dan menjadikan konflik yang lebih keras.

Baca Juga: Tiga Bukti Asyiknya Menjadi Islam di Indonesia

Darisini penting untuk disadari bahwa agama untuk manusia, manusia tidak akan pernah sampai pada sebuah kebenaran yang mutlak. Yang dapat diperoleh ialah sebagian dari kebenaran akan memperoleh proses menemukan dalam mencari kebenaran.

Dalam proses itu, semua harus saling mendengar. Pendapat yang berbeda perlu dilihat dan didengar dan kemudian saling untuk dipelajari. Itulah pentingnya agama yang inklusif atau terbuka, toleran atau moderat.

Lebih jaih, dalam Al-quran sudah disebutkan bahwa untuk setiap kaum, kelompok masyarakat sudah memiliki sistemnya sendiri, sudah ada jalannya sendiri. Fakta bahwa kita berbeda-beda agama dan alirannya, berbeda kebudayaan dan tradisi itu berarti keragaman adalah bagian dari desain yang baik untuk berlomba-lomba dalam kebajikan.

“Jangan sampai kita melihat perbedaan agama, budaya itu justru menjadikan kita saling bertengkar,” tuturnya.

Pentingnya Islam yang inklusif, cara beragama yang inklusif dalam beragama terutama dalam Islam dapat menempa etika untuk menempa akhlaq. Islam yang inklusif adalah yang beragama dengan akhlaq, soal etika sehingga ketika terjadi perbedaan maka akan saling mendengar.

“Perbedaan menjadi cara untuk saling bekerjasama, saling melengkapi dan saling mendengar,”.

Ia menyatakan bahwa Al-quran sesungguhnya sangat inklusif. Al-quran mengakui agama-agama yang lain bukan saja Islam namun juga Yahudi, bahkan sampai Nasrani yang dianggap sebagai setara.  Mereka diakui setara dan yang paling penting dengan imannya beramal soleh, beriman untuk hari akhir.

“Semoga dibulan puasa ini dengan mempraktikkan agama yang inklusif kita dapat saling terbuka, menghargai perbedaan dan dengan begitu agama yang kita praktikkan adalah agama yang merupakan bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *