by

Meninjau Isi Kompas dan Potret Pers Orde Baru

Kabar Damai I Selasa, 8 Juni 2021

Jakarta I kabardamai.id I Apa yang dilakukan oleh pers dalam berhadapan atau berada di tengah-tengah terpaan “daya-daya tak berwajah” dalam masyarakat kontemporer. Pengertian “daya-daya tak berwajah” itu sendiri sesungguhnya masih dapat dikembangkan lebih luas. Namun studi ini secara khusus mengartikannya  sebagai menguatnya kapitalisme industrial dan dominannya negara (birokrasi).

Pers sejatinya merupakan sarana mengkritik dan pengendali kebijakan pemerintah. Dua institusi besar pers yang ada ketika masa Orde Baru adalah Kompas dan Suara Karya. Tadinya kedua institusi ini sama-sama menjadi alat, atau biasa disebut organ partai yang berbeda yang berkembang pada masa itu.

Kompas yang lahir terlebih dulu daripada Suara Karya, tadinya berafiliasi dengan Partai Katolik sebelum dihapuskannya keharusan berafiliasi dengan partai politik. Sedangkan Suara Karya yang lahir pada masa Orde Baru menjadi koran partisan (koran partai) yang memang dipelopori oleh para simpatisan Partai Golkar.

Pilihan pengertian tersebut membawa konsekuensi penting dalam memilah objek penelitiannya yaitu :  Kompas dipilih sebagai representasi pers yang tumbuh dan dibesarkan oleh menguatnya kapitalisme, sementara Suara Karya  adalah wakil pers yang lahir dan bertahan karena kepentingan – kepentingan negara (birokrasi) yang bersifat praktis.

Baca Juga: “Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam?” Sebuah Kritik Atas Praktik Patriarki

Rizal mencoba menjelaskan dilema yang dihadapi oleh pers saat Orde Baru. Menjadi bagian rezim otoriter merupakan cara yang mudah menjerumuskan diri ke dalam jerat penguasa. Di sisi lain, pers yang melawan dan memberikan kritik terhadap rezim berarti menyerahkan dirinya untuk dibunuh.

Meminjam dua harian di era Orde Baru yang memiliki latar kepemilikan bertolak belakang, Rizal mengajak kita untuk memakai perspektif baru dalam memandang pers di Indonesia. Jika ancaman terhadap pers di era Orde Baru adalah kekuatan negara yang mendominasi, kini kondisi serupa terjadi meskipun era kebebasan pers sangat terbuka lebar. Kekuatan negara berkurang bahkan tak perlu dihawatirkan, namun konglomerasi media menjadi ancaman yang tak kalah serius.

Buku yang terdiri dari 3 bagian ini secara lugas memaparkan komparasi antara kedua institusi pers dan perkembangannya di masa Orde Baru. Di bagian pertama, penulis mencoba menjelaskan tentang berita utama (headline) dan tajuk rencana secara umum disertai contoh yang dikutip dari Kompas dan juga Suara Karya. Di bagian ini juga terdapat identifikasi penulis terhadap penyajian berita utama dan tajuk rencana yang dimuat di kedua institusi. Disertai penilaian subjektif-objektif terhadap rubrik yang disajikan.

Komparasi dilakukan dalam berbagai aspek. Mulai dari sumber informasi, ideologi sampai data perkembangan tahunan yang ada dalam kedua institusi tersebut. Sehingga pembaca bisa melihat seberapa besar perbedaan dalam kedua media.

Kompas yang menjadi salah satu koran nasional mengalami masa kejayaannya pada tahun 1986 karena oplah surat kabar ini menembus angka 500.000 eksemplar dan distribusinya yang merata hampir ke seluruh pelosok Indonesia. Pada perkembangannya, Kompas melakukan ekspansi dengan membuat jenis usaha yang berbeda. Setidaknya ada 5 jenis usaha selain pers. Di bidang pers sendiri, Kompas juga mengembangkan media lain seperti majalah anak-anak, remaja, ibu-ibu, serta mendirikan harian lokal di berbagai kota.

Sedangkan Suara Karya yang pada dasarnya merupakan koran partisan Partai Golkar, perkembangannya tidak sebaik Kompas. Pertambahan oplah Suara Karya sangat kecil, bahkan lebih sering menurun tajam. Konsumsi terhadap Suara Karya banyak diserap oleh instansi, bukan oleh masyarakat umum. Sehingga tidak bisa dibilang bahwa Suara Karya semakin berkembang pada masa itu.

Penulis menyajikan data kuantitatif dan kualitatif dengan deskripsi serta penjelasan yang lengkap dalam mendukung argumennya. Mulai dari data mengenai perkembangan oplah kedua media, wartawan dan pekerja, sumber informasi, persentase orientasi realitas dalam beberapa rubrik, dan lain-lain. Terdapat beberapa hal yang ditekankan oleh penulis yang tampak di beberapa bagian yaitu mengenai orientasi realitas psikologis dan sosiologis kedua harian.

Walaupun penggabungan data kualitatif dan kuantitatif memang sulit dilakukan, dalam studi ini penulis melakukan analisis isi dan membangun pengertian-pengertian terhadap hasil analisis tersebut. Ditambah dengan tanggapan beberapa tokoh pers dan teori-teori yang mendukung argumen penulis.

Melalui buku yang dikembangkan dari tugas akhir (skripsi) ini, kita bisa mencermati seberapa besar perkembangan pers di masa Orde Baru, terutama dalam institusi Kompas dan Suara Karya. Buku ini sangat cocok dibaca oleh mahasiswa maupun orang yang tertarik dan ingin masuk ke dalam dunia pers. Dengan penggunaan bahasa yang menarik, penulis juga mendorong kita untuk berlaku kritis dan bertanggungjawab.

Buku ini, diangkat dari skripsi dan pernah dipublikasikan sebagai monografi di Jurnal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM (1992), berusaha menggambarkan wajah pers di masa keemasan Orde Baru. Dengan mengkaji isi harian kompas dan Suara karya  melalui metode analisis isi serta pendekatan ilmu sosial dan etika makro, Rizal Mallarangeng memperlihatkan cengkraman sistem politik yang dihadapi pers di masa Soeharto itu dan bagaimana mereka (pers) menyiasatinya.

Di tengah minimnya penerbitan tentang pers indonesia, buku ini dapat menjadi alternatif bacaan yang bermanfaat terutama bagi pembaca yang masih cukup muda dan tidak pernah “menikmati” membaca koran di era Orde Baru dan menjadikannya sebagai referensi yang bermanfaat. Kita harus memahami masa lalu agar tidak mengulang kesalahan yang sama di masa kini dan masa depan.

 

Judul Buku                        :  Pers Orde Baru “Tinjauan Isi Kompas dan Suara Karya“

Penulis                                : Rizal Mallarangeng

Pengantar                           : Ashadi Siregar

Penerbit                              : KPG (kepustakaan populer gramedia)

Cetakan                               : Pertama, September 2010

Jumlah halaman                 : xxvi + 155 halaman

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed