by

Menilik Toleransi Kepercayaan di Bukit Minahasa

Kabar Damai | Sabtu, 01 Mei 2021

 Jakarta I Kabardamai.id I Sebagai negara majemuk Indonesia memiliki banyak agama dan kepercayaan/keyakinan. Keyakinan berbeda-beda yang dianut masyarakat Indonesia membuat setiap orang harus menghormati satu sama lain.

Namun, kadang kala perbedaan keyanikan di Indonesia kerap diwarnai kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan. Padahal menurut semboyan Bhineka Tunggal Ika, meskipun berbeda-beda namun tetap satu jua.

Hal ini jugalah yang tampaknya ingin diterapkan oleh masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Di sana terdapat sebuah tugu setinggi 22 meter yang berada di Bukit Kasih, yang merupakan bukti tingginya toleransi antar umat beragama.

Bukit ini disebut Bukit Kasih karena di situlah orang-orang dari berbagai agama dapat berkumpul dan berdoa sesuai dengan kepercayaan agama mereka sendiri dalam harmoni dan damai. Tak pelak, tempat ini dianggap objek wisata yang mencerminkan kerukunan antarumat beragama di Sulawesi Utara.

Baca Juga : Intoleransi: Perlu Tindakan Jelas dan Tegas oleh Negara

Sebagai bukti tempat ini mencerminkan kerukunan antarumat beragama, sahabat damai bisa menemukan tempat ibadah umat Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha yang berdiri sejajar di atas puncaknya.

 

Tugu Sebagai Simbol Toleransi

Sumber Foto : GNFI

Tugu Toleransi merupakan tugu yang berada di Bukit Kasih, yang terletak di Kecamatan Kanonang, Kabupaten Minahasa. Tugu ini menjadi simbol toleransi antar umat beragama yang ada di Sulawesi Utara.

 

Tugu Toleransi. Mengapa dinamakan Tugu Toleransi, karena tugu ini meng-akomodir lima agama besar di Indonesia. Kristen, Katolik. Islam, Budha dan Hindu. Tugu ini tingginya 25 meter, berbentuk segi lima, pada dindingnya terukir gambar simbol dan kutipan ayat Kitab Suci masing-masing agama. Di puncak tugu, diletakkan patung burung merpati simbol kasih dan persaudaraan. Area tugu Toleransi ini kemudian lebih terkenal dengan sebutan Bukit Kasih.

 

Slogan “Torang Samua Basudara”

Slogan ini namanya di singkat TORSAMBA, bukan hanya kata-kata kosong belaka namun prinsipnya sudah di terapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Provinsi Sulawesi Utara. Slogan ini dianggap sebagai ungkapan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Utara.

Fakta nya, kondisi kerukunan dan kehidupan masyarakat Sulawesi Utara terjaga dan terpelihara  dengan baik. Perorangan, organisasi sosial dan kemasyarakatan, tokoh masyarakat dan tokoh agama, semuanya berperan serta berpartisipasi aktif dan bersatu dalam memelihara dan menjaga kerukunan, kebersamaan dan persaudaraan.

 

Lima Rumah Agama

Terdapat contoh lain kedamaian antar umat beragama. Bukan tanpa alasan, tapi karena ada 5 rumah ibadah yang berdiri dengan jarak yang sangat berdekatan.

Di sana, ada gereja Katolik, gereja Kristen, vihara Buddha, Masjid dan Pura Hindu. Dibangun tahun 2002, bukit ini sengaja ingin dibuatkan sebagai pusat keagamaan. Jadi, umat dari agama mana saja bisa beribadah di sini.

 

Burung Merpati di Puncak Tugu

Di puncak tugu terdapat patung burung merpati yang menggigit buah zaitun dan bola dunia sebagai symbol kemanusiaan dan perdamaian. Sebagai pusat keagamaan, semua pemeluk agama bisa berkumpul dan beribadah.

 

Ukiran wajah dari Toar dan Lumimuut.

Sumber Foto : GNFI

Sebelum naik ke puncak Bukit Kasih, dari bawah terlihat pemandangan anak tangga yang berliku menuju puncak bukit. Tampak pula dua patung wajah yang dipahat di salah satu sisi perbukitan tersebut. Menurut legenda masyarakat Minahasa, patung wajah itu adalah wajah Toar dan Lumimuut.

Siapakah Toar dan Lumimuut? Jawabannya, mereka kedua diyakini sebagai nenek moyang orang Minahasa. Bukit Kasih pada masa lampau konon menjadi tempat ibu (Lumimuut) dan anak (Toar) itu bertemu kembali.

Wajah Toar dan Lumimuut diukir di lereng bukit di bawah puncak kedua. Letaknya tidak berdekatan. Satu agak ke tengah, satu lagi ada di sisi kiri. Uniknya, dari jauh, wajah ini seakan punya rambut. Di mana sebenarnya itu adalah pepohonan yang tumbuh di ukiran dekat kepalanya.Wajah tersebut diukir dengan maksud agar masyarakat Minahasa tidak lupa akan nenek moyang mereka.

wisata religi di tempat itu sengaja didirikan untuk menandingi kepercayaan animisme dengan adanya pahatan wajah Toar dan Lumimuut. Cerita tentang Toar dan Lumimuut erat dengan kepercayaan rakyat Minahasa sebelum mereka memeluk agama.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Sumber: Kumparan I GNFI I Kompas

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed