by

Menilik Seruan Perdamaian dari Masjid Muhammad di Washington DC

Kabar Damai | Jumat, 16 Juli 2021

Washington DC | kabardamai.id | Sedikitnya 25 tokoh agama, politik, dan intelektual Amerika Serikat (AS) berkumpul di Masjid Muhammad, di Washington, DC, Selasa, 13 Juli 2021 siang waktu setempat.

Tokoh-tokoh tersebut hadir untuk menyaksikan diumumkannya pembentukan aliansi antara Gerakan Global Humanitarian Islam, Komunitas Warith Deen Mohammed, dan World Evangelical Alliance (WEA) untuk membangun ikatan yang kokoh di antara agama-agama dunia dalam upaya bersama mencari jalan keluar dari konflik antaridentitas dan memperjuangkan perdamaian.

Melansir republika.co.id (15/7), hadir antara lain, Johnnie Moore (juru bicara komunitas Evangelis Amerika dan tokoh Partai Republik); David Saperstein (pemimpin Yahudi Reformis yang juga tokoh Partai Demokrat); Paul Marshal (The Hudson Institute); Imam Imam Talib Shareef, pimpinan komunitas W. Deen Mohammed; dan Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf. Beberapa utusan KBRI di Washington, DC juga hadir dalam kesempatan itu.

Aliansi tiga pihak tersebut mengumumkan pernyataan bersama yang mereka sebut “The Nation’s Mosque Statement” (Seruan Masjid Muhammad). Mereka mengajak semua orang yang berkehendak baik dari semua agama dan kebangsaan untuk bergabung dalam aliansi global yang dibangun di atas landasan nilai-nilai keadaban bersama (shared civilizational values).

Menurut Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf, aliansi global itu bertujuan untuk mencegah dijadikannya identitas sebagai senjata politik, membendung penyebaran kebencian komunal, mempromosikan solidaritas, dan saling menghormati di antara kelompok-kelompok, budaya-budaya dan bangsa-bangsa yang berbeda, serta memperjuangkan terwujudnya tata dunia yang sungguh-sungguh adil dan harmonis berdasarkan penghormatan terhadap kesetaraan hak dan martabat bagi setiap manusia.

Baca Juga: 5 Film Pembawa Pesan Perdamaian

Lebih dari 25 tokoh agama dan politik Amerika yang hadir ikut membubuhkan tanda tangan sebagai tanda dukungan mereka bagi seruan tersebut.

Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf dan Sekretaris Jenderal WEA Dr. Thomas Schirrmacher, menyampaikan pidato kunci dalam forum yang diprakarsai oleh The Center For Shared Civilizational Values (CFSCV) itu.

“Kita mewarisi sejarah ratusan tahun konflik antaragama. Kini, dalam konteks realitas abad ke-21, dunia tidak tidak mungkin menahankan konflik seperti di masa lalu karena jelas akan membawa keruntuhan peradaban umat manusia seluruhnya,” tegas Gus Yahya, sapaan akrab Katib Aam PBNU, Rabu, 14 Juli 2021.

Hidup Berdampingan Secara Damai

Gus Yahya menyatakan, kini saatnya agama-agama dituntut untuk membangun landasan teologi yang kokoh di lingkungan masing-masing, untuk memberikan panduan bagi umatnya agar mampu hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan.

Di kesempatan itu Gus Yahya menyampaikan salam dari Ketua dan Pendiri CFSCV KH Ahmad Mustofa Bisri. Dia juga menjelaskan bahwa apa yang dijalankannya merupakan pelaksanaan amanat dari mendiang KH Maimun Zubair bahwa Indonesia harus memberi teladan kepada dunia tentang Bhinneka Tunggal Ika.

Thomas Schirrmacher mengungkapkan keyakinannya atas kerja sama dengan Nahdlatul Ulama (NU).

“Kami telah melihat bukti-bukti nyata bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya bermulut manis dalam soal perdamaian, tapi sungguh-sungguh bergulat dalam pemikiran dan gerakan nyata,” katanya, dikutip dari republika.co.id.

Dalam acara itu juga diluncurkan sebuah buku berjudul “Reimagining Muslim-Christian Relations in the 21st Century” (Merangkai Kembali Hubungan Muslim-Kristen di Abad ke-21), yang merupakan kompilasi tulisan-tulisan dari para tokoh NU seperti KH Abdurrahman Wahid dan KH A. Mustofa Bisri, serta para tokoh WEA.

Sebagai tulisan utama adalah versi bahasa Inggris dari “Muqaddimah Qanun Asasi” yang merupakan pidato pembukaan dalam Muktamar NU yang pertama oleh Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari.

“Dengan buku ini, untuk pertama kalinya Muqaddimah Qanun Asasi diterjemahkan dan diterbitkan dalam Bahasa Inggris,” kata C. Holland Taylor, Duta Khusus GP Ansor untuk Amerika, Eropa, dan PBB.

“Sebenarnya sangat terlambat bahwa dunia harus menunggu hampir seratus tahun sebelum memeroleh akses kepada pemikiran pendiri NU yang isinya sangat dibutuhkan bagi pencerahan umat manusia karena menjelaskan kenapa suatu masyarakat dan peradaban bisa runtuh dan bagaimana membangkitkan dan membangun peradaban mulia yang kokoh. Apabila dunia mau memerhatikan dan mengikuti panduannya, pemikiran Hadratussyeikh ini akan menjadi pertolongan besar di tengah kemelut yang melanda saat ini,” imbuhnya.

Gus Yahya Bicara Perdamaian Global di AS

Sebelumnya, diwartakan iNews.id (12/7), Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf kembali ikut terlibat aktif dalam aktivisme perdamaian dunia di tengah pandemi Covid-19. Gus Yahya pun melawat ke Washington DC, Amerika Serikat (AS) untuk berbicara terkait ancaman konflik yang semakin membahayakan di tingkat lokal, regional dan global, Sabtu, 10 Juli 2021.

Selama lima hari di AS, Gus Yahya mengikuti lima agenda utama. Katib Aam PBNU diminta terlibat dalam pembicaraan menyangkut agenda IF20 (Inter Faith 20), yaitu agenda sandingan dalam KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) G20, yang akan digelar September mendatang di Bologna, Italia.

Sebagai wakil dari Gerakan Global Islam untuk Kemanusiaan (Humanitarian Islam), Katib Aam akan menggelar KTT bersama Komunitas Masjid Muhammad atau dikenal juga sebagai The Nation’s Mosque, yaitu komunitas Muslim Afro-Amerika yang nenek-moyang mereka diperbudak di Amerika sekian abad yang lalu. KTT ini bertajuk “Building a Global Alliance Founded Upon Shared Civilizational Values” (Membangun Aliansi Global Berdasarkan Nilai-nilai Keadaban Bersama).

“Selain itu, mengikuti WEA (World Evangelical Alliance), organisasi Evangelis Internasional dengan pengikut lebih dari 600 juta orang di 140 negara,” kata Gus Yahya dalam keterangan tertulisnya, Senin, 12 Juli 2021.

Selanjutnya, Katib Aam PBNU akan mengikuti KTT IRF (International Religious Freedom Summit) selama tiga hari dan menyampaikan pidato pada salah satu plenonya dengan topik “The Rising Tide of Religious Nationalism” (Pasang Naik Nasionalisme Religius).

Di sela-sela kegiatan, Gus Yahya juga dijadwalkan bertemu dengan sejumlah senator Amerika, yaitu Mitt Romney, Benjamin Sasse,  dan Thomas Cotton.

Katib Aam juga akan berbagi panel dengan Michael Pompeo, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang pernah berkunjung ke Jakarta atas undangan GP Ansor Oktober tahun lalu, dalam satu konferensi yang digelar oleh Hudson Institute, salah satu think tank terbesar di Amerika, untuk mendiskusikan masalah-masalah terkait Stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

“Saya akan mengusung gagasan-gagasan yang bersumber dari idealisme Nahdlatul Ulama, nilai-nilai Pancasila serta pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945,” ujar Katib Aam.

Dia menjelaskan, visi kemanusiaan dalam Idealisme NU dan fondasi NKRI mengandung inspirasi yang sangat dibutuhkan untuk mencari jalan keluar dari ancaman destabilisasi global yang paling berbahaya dewasa ini, yaitu konflik antaridentitas, baik etnik, agama, maupun ideologi sekuler. [republika/inews.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed