by

Menilik Potret Toleransi di Yapen, Papua Barat

Kabar Damai I Senin, 14 Juni 2021

Serui – Papua Barat I kabardamai.id I Tanah Papua tak melulu menyuguhkan kabar konflik. Dari Papua kita juga dapat menilik praktik-praktik toleransi yang bis akita jadikan inspirasi membangun kebersamaan dan perdamaian.

Salah satunya di Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen yang menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Terlihat dari beberapa perayaan dan kegiatan, beberapa masyarakat dan umatnya selalu saling mendukung dalam hal positif.

Seperti yang terjadi  13 Mei 2021 lalu dimana perayaan Idul Fitri 1442 Hijriah bersamaan dengan Kenaikan Isa Al-Masih. Umat beragama muslim mengadakan Salat Ied di Lapangan Trikora yang berhadapan langsung dengan Gereja.

Dilansir dari kabarpapua.co, dalam wawancara bersama Pendeta Gereja GKI Imanuel, Aser Haipon mengatakan bahwa saling menghargai dalam beribadah di tunjukan dalam beberapa hal. Misalnya pada pelaksanaan salat Idul Fitri yang bertepatan dengan Kenaikan Isa Al-Masih.

” Menjelang salat yang biasanya jam 06.00  sampai 06.30 WIT kami membunyikan lonceng gereja, (tapi) karena umat muslim sedang beribadah, maka itu kami lakukan di jam setelah salat Ied. Ini merupakan bentuk saling menghargai, terlebih di momen yang bersamaan pada perayaan keagamaan yang berbeda, dan juga ibadah kami gelar pukul 09.00 pagi,” katanya, Kamis 13 Mei 2021 lalu.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kepulauan Yapen, Haji Adhan Arman mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh pihak gereja jelang pelaksanaan Salat Ied. Dia pun menyampaikan rasa terima kasih.

“Kami apresiasi pihak Gereja dan juga GKI Klasis Yapen Selatan, kami bisa diperbolehkan ibadah mengumandangkan takbir  terlebih dahulu. Ini juga sudah dibicarakan dalam pertemuan bersama beberapa pihak, seperti Polres dan juga FKUB,”  tuturnya.

Pada Salat Ied kali ini sejumlah umat muslim diwajibkan menggunakan masker, pembagian masker pun dilakukan kepada jamaah yang tidak menggunakan masker.

Dalam momen dua hari raya tersebut ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kepulauan Yapen Pendeta Marthen Waromi, S.pak minta kepada umat beragama di Yapen untuk menjaga kebersamaan dan toleransi antar umat beragama yang selama ini sudah terbina dengan baik.

Baca Juga: Empat Rumah Ibadah Berdampingan, Potret Toleransi di Kotawaringin Timur

“Yang ada di kabupaten kepulauan Yapen dan seluruh umat beragama, masyarakat, adat dan secara khusus kaum Kristiani dan kaum muslim diharapkan untuk bersama-sama bergandengan tangan dengan mendukung seluruh kegiatan keagamaan baik itu umat muslim yang merayakan idul Fitri maupun umat Kristen yang merayakan kenaikan Isa Al-Masih,”ujar Ketua FKUB Kepulauan Yapen Marthen Waromi, seperti dikutip dari rri.co.id.

Ketua FKUB Kabupaten Kepulauan Yapen dikesempatan itu juga memberikan apresiasi terhadap pemerintah daerah dan juga pihak keamanan dalam menjaga situasi Kamtibmas di Yapen khusunya pada saat umat Muslim melaksanakan sholat taraweh pada berbagai mesjid yang ada di kabupaten kepulauan Yapen.

Yapen, Kota Pendidikan di Zaman Belanda

Melansir ulasan Kompas.com (27/8/2018), Kabupaten Yapen awalnya adalah bagian dari Kabupaten Yapen Waropen yang terpisah dari Kabupaten Teluk Cenderawasih pada tahun 1969 yang terdiri dari Pulau Yapen dan Daratan Waropen.

Pada tahun 2002, kabupaten Yapen Waropen terpisah menjadi kabupaten Kepulauan Yapen dan Kabupaten Waropen.

Pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan Yapen berada di Kota Serui yang memiliki sejarah panjang dan menjadi saksi bisu perjuangan hingga Nieuw Guinea atau Papua Barat menjadi bagian dari Negara Indonesia.

Kota Serui pernah dijadikan tempat pembuangan pahlawan nasional Sam Ratulangi dan sebagai kota kelahiran Freddy Numberi, sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara pada masa Kabinet Persatuan Nasional periode 1999-2001, di bawah pimpinan (almarhum) Presiden Abdurrahman Wahid.

Bukan hanya itu, banyak tokoh yang muncul dari Yapen yang merintis kebangkitan nasionalisme dari tanah Papua antara lain Silas Papare, Berotabui, Stevanus Rumbewas dan Hermanus Wayo.

Pada buku Tiga Puluh Tahun Kabupaten Yapen Waropen yang diterbitkan oleh Pemerintah Yapen Waropen pada tahun 1999, dijelaskan jika nama Yapen Waropen pertama kali ditulis oleh Koentjaraningrat yang menceritakan tentang Yacob Weyland yang memimpin ekspedisi pada tahun 1705 dan melihat bentangan daratan yang jauh dari arah timur dengan pegunungan yang tinggi menjulang.

Dituliskan juga nama Yapen berasal dari bahasa Biak yaitu “Japan” yang berarti Keladi atau Talas. Kemunginan, saat orang Biak menginjak pulau tersebut untuk pertamakali langsung melihat hamparan tanaman Keladi, Frans Sanadi, Wakil Bupati Kepulauan Yapen, kepada Kompas.com, mengatakan jika Yapen khususnya Serui merupakan kota yang membuka peradaban di Papua.

Di kota Serui, Sam Ratulangi pernah diasingkan selama beberapa tahun, serta menjadi tempat kelahiran Freddy Numberi.

“Di sini dulu pusat pendidikan di wilayah Papua. Jadi banyak anak-anak muda dari wilayah Papua yang datang ke sini untuk sekolah. Pendidikan di sini juga tidak lepas dari peran gereja yang membawa pengaruh besar pada peradaban di Yapen,” ujarnya.

Junjung Tinggi Toleransi Beragama

Sebelumnya, Bupati Kepulauan Yapen, Tonny Tesar memastikan masyarakat setempat selalu menjunjung tinggi solidaritas dan toleransi beragama.

“Masyarakat Yapen toleransi beragamanya masih tinggi. Kami harapkan dengan kejadian bom di gereja Katedral Makassar, seluruh umat dan tokoh agama tidak terpengaruh dan terprovokasi dengan kejadian itu,” jelas Tonny, usai memberikan bantuan kepada gereja di Yapen, Selasa 30 Maret 2021.

Ia menambahkan, pemerintah di Kepulauan Yapen serius dalam mendukung pembangunan keagamaan dengan tidak memihak satu agama saja.

“Seluruh tempat ibadat di Yapen diberikan bantuan untuk pembangunan dan kegiatan lainnya. Bukan karena mayoritas di Yapen adalah nasrani, bukan berarti kami tidak melihat agama lain. Semua agama dirangkul. Ini dapat dibuktikan sampai saat ini Yapen selalu damai dalam bertoleransi,” jelasnya.

Dengan kebersamaan, kedamaian dan rasa aman di Kabupaten Yapen, maka semua dapat berjalan dengan baik.

“Baik itu pertumbuhan ekonomi, maupun pembangunan di segala bidang yang lain dapat berjalan baik,” ungkapnya. [kabarpapua/kompas/rri]

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed