by

Menilik Potret Toleransi di Bumi Serambi Mekah

Kabar Damai I Senin, 14 Juni 2021

Aceh I kabardamai.id I Provinsi Aceh yang dijuluki sebagai Serambi Mekah dan belakangan akrab dengan sebuatan bumi syariat ternyata memiliki kisah toleransi antarumat beragama yang telah terjalin berabad-abad.

Salah satu potret nyata toleransi kehidupan beragama itu nampak pada bangunan tua Gereja Katolik Hati Kudus yang berdiri kokoh ditengah kota Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh.

Gereja ini berdiri tak jauh dari Masjid Agung Banda Aceh yang merupakan bangunan yang menjadi Ikon kota tersebut.

Dihimpun LABUAN BAJO TERKINI dari berbagai sumber, Gereja yang bernaung dibawah keuskupan Agung Medan ini berdiri pada tahun 1946 silam dan tahun ini usianya memasuki 75 tahun.

Baca Juga: Potret Toleransi: Vihara dan Masjid Berdampingan di Jakarta Utara

Meski baru berdiri pada 1946, tidak berarti umat Katolik di daerah itu baru ada pada 1946. Jauh sebelumnya penganut Katolik telah ada dan hidup di Provinsi paling Barat di Indonesia itu.

Salah satu jejak keberadaan umat Katolik di sana adalah catatan tentang dua orang biarawan yang terbunuh pada  1638. Keduanya merupakan biarawan dari Ordo OCD atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai Ordo Karmel tak berkasut.

Kedua biarawan yang terbunuh tersebut adalah Pastor Dionisius A. Nativite,OCD dan Bruder Redemptus A. Kruse,OCD. Keduanya dibunuh oleh Tentara Aceh saat Kerajaan Aceh dipimpin Sultan Iskandar Tani memimpin menggantikan Sultan Iskandar Muda.

Kedua biaraawan ini dibunuh karena tidak mau menyangkal iman mereka sebagai pengikut Kristus. Atas yang mereka alami, Gereja mengenang kedua biarawan ini sebagai Martir Indonesia.

Meski tak ada data pasti terkait jumlah umat Katolik di Gereja tersebut, namun penyelenggaran ibadah di Gereja ini terus digelar, selama masa pandemi diketahui aktivitas di Gereja ditutup untuk mencegah penularan Covid-19.

Kakanwil: Kerukunan dan Toleransi di Aceh Berjalan Baik

Sebelumnya, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Aceh Iqbal menyatakan potret dan dinamika keumatan dan kerukunan di Bumi Serambi Mekkah Aceh hingga kini terus berjalan dengan baik dan kondusif.

Hal ini disampaikan Kakanwil Kemenag Aceh Iqbal dalam laporannya di hadapan Menteri Agama Fachrul Razi dan tokoh lintas agama di Papua.

“Jalinan kerukunan antar umat beragama di Aceh, sama sekali tidak terganggu. Kerukunan selalu berjalan sangat baik. Juga toleransi sesama umat beragama,” ujar Iqbal di Banda Aceh, Sabtu, 13 Desember 2020 lalu.

Dilansir dari laman resmi Kementerian Agama RI, Iqbal menuturkan, saat penerapan syariat Islam di Aceh, toleransi tetap berjalan dengan baik. Hal ini juga dibenarkan oleh tokoh agama selain Islam, dalam setiap testimoninya.

“Di masa pemberlakuan syariat Islam di Aceh pun, kerukunan tetap terbangun dalam berbagai situasi,” ujarnya.

Dijelaskan Iqbal, jumlah rumah ibadah di Aceh saat ini terdiri dari 4.137 masjid, 7.396 meunasah, 20 gereja Katolik, dan 187 gereja Kristen.

“Aceh juga memiliki rumah ibadah umat Buddha dan Hindu. Pernah ada gesekan kecil antar umat beragama, namun dapat segera diselesaikan dengan jalan dialog dan musyawarah,” terangnya.

Menurut Iqbal, Aceh yang memiliki aneka suku dan karakter masyarakat, terus menampakkan kerukunan dalam lintas sejarah

“Penduduk Aceh yang multikultural, baik mayoritas maupun minoritas, dapat hidup harmonis dan penuh toleransi di Aceh,” tandasnya.

Dialog lintas agama di Aceh saat itu mengusung tema ‘Melalui Dialog Lintas Agama Kita Optimalkan Tugas dan Fungsi para Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat Dalam Rangka Pemeliharaan dan Penguatan Kerukunan di Aceh’.

Dialog kerukunan tersebut merupakan tindak lanjut dari program Kementerian Agama membangun Jembatan Kesetiakawanan dan Kerukunan dari Aceh, Maluku, Papua dan Papua Barat dalam bingkai Umat Rukun Indonesia Maju.

Kondusif dan Harmonis

Gubernur Aceh Nova Iriansyah, saat menerima kunjungan Wakil Gubernur Provinsi Papua Barat Mohammad Lakotani, pada Selasa, 30 Maret 2021, menyampaikan suasana kondusif Aceh saat ini, serta kehidupan antar umat beragama yang sangat toleran di Bumi Serambi Mekah.

“Kondisi Aceh saat ini sangat kondusif, Pak Wagub tentu telah melihat langsung. Kehidupan antarumat beragama juga terjalin sangat baik dan harmonis. Indeks toleransi Aceh juga cukup baik. Namun, persepsi masyarakat luar masih salah tentang Aceh. Anggapan inilah yang terus berupaya kita gerus dengan menggiatkan berbagai event dan promosi pariwisata serta kegiatan lainnya,” kata Nova seperti dikutip dari dlhk.acehprov.go.id.

Senada dengan sang Gubernur, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh menyatakan provinsi ujung barat Indonesia tersebut merupakan daerah paling toleran antarumat beragama.

“Aceh sangat toleran, sangat damai rukun. Non-Muslim yang minoritas di Aceh aman dan nyaman beribadah,” kata Ketua FKUB Aceh Nasir Zalba di Banda Aceh, Kamis, 6 Agustus 2020 lalu.

Dilansir dari republika.co.id, didampingi Sekretaris FKUB Aceh Juniazi, mantan Kepala Badan Kesatuan dan Politik Provinsi Aceh itu menyebutkan pihaknya terus berupaya meningkatkan toleransi antarumat beragama.

Menurut Nasir Zalba, kendati Aceh provinsi paling toleran, toleransi antarumat beragama tersebut harus terus ditingkatkan. Sebab, ancaman intoleransi tersebut tetap ada.

“Seperti konflik umat beragama di Aceh Singkil. Konflik ini sudah ada sejak 1979 dan mencuat lagi pada 2015. Konflik tersebut tidak pernah tuntas diselesaikan,” kata Nasir Zalba.

Nasir Zalba menyebutkan akar permasalahan konflik antarumat beragama Aceh Singkil karena rumah ibadah. Di mana jumlah rumah ibadah tidak proporsional dengan populasi umat.

“FKUB terus berupaya membantu pemerintah menyelesaikan permasalahan kerukunan umat beragama. Sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, maka yang minoritas menghargai mayoritas. Begitu juga mayoritas, melindungi minoritas,” kata Nasir Zalba.

Terkait adanya survei menyebutkan Aceh daerah tidak toleran antarumat beragama, Nasir Zalba malah meminta bukti yang menyebutkan Aceh intoleransi.

“Mana buktinya? Tidak tolerannya di mana. Non-Muslim dengan nyaman beribadah termasuk merayakan hari raya mereka. Toleransi antarumat beragama tersebut harus terus dijaga,” kata Nasir Zalba. [labuanbajoterkini/kemenag/republika]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed