by

Menilik Nilai-Nilai Pancasila Dalam Tradisi Ngayah

Kabar Damai  | Kamis, 21 Juli 2021

Bali | kabardamai.id | “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” tentu kita sudah tidak asing mendengar ucapan tersebut bukan? Ucapan tersebut memiliki makna yaitu berat atau mudahnya pekerjaan, akan semakin mudah jika dikerjakan bersama-sama. Masyarakat Bali memiliki sebuah tradisi yang menganut ucapan tersebut.

Tradisi tersebut bernama ngayah. Bagi warga Bali tradisi ini sangatlah dihargai, karena manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.

Melansir laman BPIP, kata ngayah sendiri berasal dari Bahasa Bali dengan akar kata “Ayah, Ayahan, Pengayah, Ngayahang” yang berarti pelayanan atau orang yang bertugas melayani dan mengabdikan diri tanpa memperoleh imbalan.

Baca Juga: Ragam Tradisi Unik Idul Adha Ajarkan Solidaritas Sosial

Ngayah dapat dikatakan juga sebagai ajang pemersatu masyarakat karena dengan menjalankan ngayah mereka bisa berkumpul dan bercengkrama satu sama lain. Tujuan atau fungsi utama adanya acara ngayah ini yaitu untuk mensukseskan suatu acara, biasanya acara keagamaan terutama acara yang sifatnya besar.

Di masa pandemi ini, ngayah mengalami beberapa perubahan terhadap pelaksanaanya. Di masa pandemi ini hanya orang tuanya saja yang diminta untuk hadir sedangkan anak-anaknya dan cucu tidak. Sehingga hanya sekitar 25% sampai 50% saja yang hadir dibanding masa sebelum pandemi.

Jika  masyarakat memiliki kegiatan lain yang tidak dapat ditinggalkan, maka mereka tidak perlu melakukan ngayah namun bisa menggantinya dengan uang atau dikenal dengan istilah dana punia (ngayah dana).

Tradisi ngayah ini dapat diimplementasikan kepada nilai-nilai pancasila. Pada saat ngayah dilakukan, adanya keyakinan bahwa segala yang mereka lakukan dengan ketulusan akan memperoleh pahala dari Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, masyarakat saling membantu secara sukarela tanpa ada paksaan dari siapapun.

Kegiatan ngayah ini didasari dengan ketulusan masyarakat dalam memperkuat persatuan dan berjalan sesuai dengan aturan dan tata cara yang telah disepakati secara musyawarah dan mufakat oleh masyarakatnya. Dan yang terakhir, semua orang dalam kegiatan Ngayah mendapatkan perlakukan yang sama dan adil, tanpa adanya unsur membeda-bedakan satu dengan yang lainnya.

Tradisi ngayah ini juga mempunyai manfaat-manfaat tersendiri seperti menambah pengetahuan akan upacara agama. Tentunya, hal ini akan meningkatkan keyakinan mereka akan agama yang dianut. Dan menguatkan sifat gotong royong kepada generasi muda penerus bangsa.

Hukum Adat dalam Masyarakat Bali

Masyarakat adat Bali dalam kesehariannya diatur dengan hukum adat yang mayoritasnya menganut agama Hindu.

Hukum adat Bali, mengutip paparan I Wayan Kerti di laman nusabali.com,  adalah hukum yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat adat Bali yang berlandaskan pada ajaran agama (agama Hindu) dan tumbuh berkembang mengikuti kebiasaan serta rasa kepatutan dalam masyarakat hukum adat Bali itu sendiri. Sehingga di dalam masyarakat adat Bali, antara adat dan agama tidak dapat dipisahkan.

Tidak dapat dipisahkannya antara agama dan adat di dalam masyarakat adat Bali, dikarenakan hukum adat itu bersumber dari ajaran agama.

Menurut Wayan Windia dan Ketut Sudantra, masyarakat Bali terikat oleh norma-norma hukum yang mengatur pergaulan hidup mereka, baik berupa hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis, Hukum tertulis yang berlaku berasal dari negara dalam bentuk peraturan perundang- undangan Republik Indonesia, sedangkan hukum tidak tertulisnya (Hukum Adat) yang berlaku dalam masyarakat Bali  bersumber dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat Bali yang disebut Dresta.

Unsur pembeda masyarakat pada umumnya dengan masyarakat adat adalah sisi karakteristik yang dimiliki, karena kehidupan masyarakat hukum adat memiliki filosofi, fungsi, dan peran khas dalam kehidupan bersama sebagai  persekutuan hukum masyarakat paguyuban.

Menurut Wayan Windia, desa pakraman yang merupakan organisasi masyarakat Hindu Bali yang berdasarkan kesatuan wilayah tempat tinggal bersama dan spritual keagamaan yang paling mendasar bagi pola hubungan dan pola interaksi sosial masyarakat Bali.

“Desa pakraman merupakan lembaga adat yang memiliki ciri-ciri yang bersifat khusus yang tidak dijumpai dalam lembaga adat lainnya. Sejak dikeluarkannya Perda Propinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001, tentang Desa Pakraman, sebutan “desa adat” diganti menjadi “desa pakraman”, “ terang Wayan Kerti.

“Desa pakraman adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Provinsi Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga atau Kahyangan Desa yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri”. (pasal 1 nomor urut 4).

Selain desa pakramaan, dalam Perda ini juga dijelaskan mengenai banjar pakraman. “Banjar pakraman adalah kelompok masyarakat yang merupakan bagian desa pakraman”. (pasal 1 nomor urut 4).

Yadnya sebagai Pengorbanan Suci dan Ikhlas

Dengan memperhatikan definisi desa pakraman seperti dikemukakan di atas, secara sederhana dapat dikatakan bahwa desa pakraman, merupakan organisasi masyarakat Hindu Bali yang berdasarkan kesatuan wilayah tempat tinggal bersama dan spiritual keagamaan yang paling mendasar bagi pola hubungan dan pola interaksi sosial masyarakat Bali.

Ditambahkan I Wayan Kerti, sebuah desa pakraman, terdiri dari tiga unsur, yaitu: (1) Unsur parahyangan (hal-hal yang berkaitan dengan Ketuhanan menurut agama Hindu). (2) Unsur pawongan (hal-hal yang berkaitan dengan warga desa menurut agama Hindu). (3) Unsur palemahan (hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan alam desa, menurut agama Hindu).

Masyarakat adat di desa pakraman di Bali selalu akan melaksanakan “Yadnya”, khususnya “Panca Yadnya”.

“Yadnya dalam ajaran agama Hindu adalah sebuah korban suci yang tulus ihklas, yang ditujukan kepada; 1) Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa (Dewa Yadnya; 2) Manusia atau sesama (Manusia Yadnya); 3) Para bhuta/roh-roh halus (Bhuta Yadnya); 4) Para Rsi/Pendeta (Rsi Yadnya), dan; 5) Para Pitra/roh leluhur (Pitra Yadnya),” jelas Wayan Kerti.

Kelima jenis “yadnya” di atas dikenal dengan istilah “Panca Yadnya”. Umat Hindu akan menjalankan “Panca Yadnya” secara periodik dan berkesinambungan sebagai upaya untuk menyeimbangkan kehidupan di bumi/alam nyata (Buana Alit) dengan kehidupan dunia lain dan akhirat (Buana Agung). [bpip/balinusa]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed