by

Menilik Masa Lalu Demi Kesejahteraan Masa Depan

Oleh: Jihan Fauziah

Cita-cita perdamaian barangkali sudah berumur sama dengan usia peradaban manusia. Namun pada praktiknya, kegagalan mewujudkan perdamaian itu pun berumur tak jauh beda dengan cita-cita manusia itu sendiri.

Konsekuensinya, kegagalan mencapai cita-cita itu memunculkan pandangan pesimisme bahwa perdamaian hanya sebatas delusi, mengingat dalam kenyataannya manusia diciptakan secara heterogen atas berbagai suku, ras, maupun agama.

Dimana hal tersebut mengandung potensi perpecahan dan peperangan yang dapat meledak sewaktu-waktu. Kendati demikian, kegagalan pun telah melahirkan optimisme bagi sekelompok orang untuk tetap menggapai cita-cita tersebut. Mengapa demikian?

Jawabannya sederhana, secara naluriah manusia selalu berusaha melindungi kelompoknya dari kepunahan total akibat sikap saling memerangi dan memusnahkan. Sejarah selalu mencatat, pasca peperangan demi peperangan, manusia selalu berusaha merekonsiliasi keadaan. Maka sudah sepatutnya kita menilik masa lalu demi kesejahteraan masa depan sebagai sarana anak muda mewujudkan perdamaian.

 

Menghargai Keberagaman

Sejak dahulu, proses menuju perdamaian seakan tidak membuahkan hasil. Hal tersebut adalah isyarat bahwa tidak mungkin kedamaian dapat dibangun secara instan dan terjadi begitu saja, terutama apabila suatu kelompok agama tertentu masih menganggap dirinya adalah kelompok agama yang lebih istimewa dibandingkan dengan yang lainnya. Sebagai negara yang tersusun dari berbagai agama, sudah sepatutnya para pemeluknya belajar meninggalkan absolutisme agama dan lebih bersikap plural terhadap keanekaragaman agama di Indonesia.

Baca Juga: PBB Desak Negara-negara Serius Tangani Isu Perbudakan dan Rasisme Masa Lalu

Sikap saling menghargai keberagaman ini bisa dijadikan strategi oleh anak muda untuk pelan-pelan menciptakan ruang-ruang yang lebih inklusi. Sekaligus, anak muda dapat menyebarkan rasa saling menghargai ini lewat sosial media atau organisasi yang digelutinya.

 

Dialog Perdamaian

Sekali lagi, harapan dibebankan kepada para pemeluk-pemeluk agama. Hal ini didasarkan oleh kenyataan, bahwa sudah begitu banyak kekejaman dan kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia lainnya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, justru dengan justifikasi yang berasal atas ajaran agama-agama tertentu.

Apalagi agamalah yang paling sering menjadi alat politik untuk membenarkan kelompok sendiri, serta menyalahkan kelompok lainnya. Padahal, setiap orang beragama umumnya sepakat, bahwa pesan inti agama adalah memelihara kehidupan damai serta saling mengasihi antar sesama manusia.

Untuk itulah dialog antar agama perlu dilakukan secara terus-menerus. Dewasa ini sudah cukup banyak geliat anak muda dalam organisasi dan forum-forum dialog kebhinnekaan, tidak hanya antara Islam dan Kristen, melainkan juga antara Kristen dengan Yahudi, Kristen dengan Hindu, juga yang bersifat multilateral antara berbagai agama.

Jikalau hal ini dilakukan secara terus-menerus dengan semangat saling menghargai serta sikap yang dilandasi ketulusan dan kejujuran, diharapkan besar kemungkinan akan memberikan sumbangan berarti bagi perdamaian.

 

Menegakkan Keadilan

Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam proses awal menciptakan perdamaian adalah dengan upaya mengungkapkan penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran HAM yang pernah terjadi. Tidak akan mungkin tercipta perdamaian dengan tindakan membiarkan pelaku intoleransi dan kekerasan terhadap HAM.

Inilah hal yang musti diperhatikan, bahwa dalam mewujudkan perdamaian perlu juga mengawasi bagaimana proses keadilan ditegakkan.

 

Jihan Fauziah, Pemuda Muslim Ahmadiyah dan Peserta Sekolah Kepemipinan Peuda Lintas Agama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed