by

Menilik Etika Bisnis Tabung Oksigen Di Kala Pandemi

-Opini-69 views

Oleh: Dr. Anil Dawan M.Th

Melonjaknya kasus harian masyarakat yang terpapar Covid 19 semakin menggerus kondisi kesehatan masyarakat. Selain kebutuhan vitamin, dan obat-obatan, masker dan sebagainya salah satu kebutuhan yang paling dicari masyarakat adalah tabung oksigen. Masalah oksigen ini karena memang demand-nya meningkat tajam. Ketika kasus harian meningkat terus bertambah, kapasitas Rumah Sakit dan penampungan isolasi juga sedang overload. Medis dan paramedis sudah banyak yang terpapar, dan tumbang

Hasil wawancara dengan pedagang farmasi dan tabung oksigen di Pasar Pramuka Jakarta menjelaskan terjadi lonjakan penjualan tabung oksigen. Jika sebelum pandemi, tabung oksigen hanya laku terjual 1-2 tabung sebulan, namun sejak seminggu gelombang varian delta menyeruak penjualan mencapai ratusan tabung per hari. Disini hukum pasar berlaku, dimana ada permintaan disitu ada ketersediaan. Namun jika ditengah tingginya permintaan, ketersediaan tidak mencukupi, akhirnya terjadi kelangkaan.

Namun faktanya ternyata kelangkaan tabung oksigen terjadi, tak hanya di Jakarta namun juga diwilayah-wilayah di Jawa dan sekitarnya. Lantas bagaimana kita menilik kondisi ini dari sisi etika bisnis? Harus ditilik bagaimana bisnis tak merugikan kemanusiaan. Miris rasanya jika ditengah upaya manusia bertaruh nyawa, masih ada segelintir oknum yang memanfaatkan keadaan menimbun keuntungan. Apalagi jika kondisi seperti sekarang Covid 19 merupakan bencana non alam yang masuk dalam kategori situasi kedaruratan. Peran Pemerintah dan penegak hukum perlu memastikan supaya sirkulasi ketersediaan tabung oksigen ini benar-benar dikendalikan dan diawasi karena menyangkut keselamatan dan nyawa manusia.

Panic Buying

Seperti kejadian-kejadian di awal pandemi, masyarakat nampaknya berada dalam zona ketakutan. Perilaku masyarakat di zona ketakutan adalah melakukan panic buying. Perilaku panic buying muncul karena masyarakat cenderung bersikap egosentris. Dalam situasi bencana dan krisis orang secara naluriah akan mencari aman dan selamat untuk dirinya, keluarganya. Namun sikap yang berlebihan mengamankan akan mendorong perilaku over protectif. Bahayanya adalah akhirnya membeli melebihi dari kebutuhan, demi alasan mengantisipasi akhirnya malah menimbun. Asumsi yang salah juga mendorong orang melakukan panic buying.

Baca Juga: Dampak Pandemi: Istri Menafkahi Suami, Tidak Masalah!

Asumsi salah ini lazimnya karena mendapatkan informasi yang salah atau hoax. Masyarakat yang dalam situasi panik tak akan menyaring informasi secara jernih. Tak memiliki nalar yang panjang. Sehingga mengasumsikan bahwa berita yang diterima ditelan mentah-mentah dan akhirnya bertindak berdasarkan ketakutan yang tidak realistis atau rujukan sumber-sumber yang tak terpercaya. Masyarakat yang panik sudah tidak bisa menyaring lagi berita mana yang hoax atau tidak, semua ingin bertahan hidup. Dorongan implusif inilah yang menjadi pendorong dan dimanfaatkan pebisnis pencari keuntungan.

Etika Bisnis yang Sah

Etika adalah ilmu yang mempelajari nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang membentuk tingkah laku. Istilah etika ini beragam dan mempunyai prinsip yang berbeda-beda dalam suatu tatanan masyarakat. Adapun ruang lingkup pembahasan dalam bidang etika adalah membahas mengenai benar atau salah, wajar atau tidak wajar, jujur atau tidak jujur, tepat atau tidak, dan bertanggung jawab atau tidak. Sedangkan bisnis adalah usaha atau proses pertukaran produk atau jasa dalam rangka pencapaian nilai tambah. Namun seorang yang bernama Arief Harsono, boss Samator menambahkan bahwa bisnis bukan hanya perkara cari untung atau cuan, dia mengubah menjadi B2H (Business to Human), H2H (Human to Human). Bahwa bisnis sebenarnya bukan hanya berhubungan dengan pasar yang kaku dan tak bernyawa, namun dari empati menuju solusi. Empati adalah upaya mendengar kebutuhan dan membangun kepercayaan. Jadi empati adalah menjadi sisi mata uang baru dalam bisnis dan itu dimulai dari mendengar kebutuhan dan kepeduliaan kepada sesama.

Dengan demikian ketika masyarakat yang terpapar Covid 19 dan membutuhkan perawatan intensif khususnya saat saturasi oksigen turun dan nafas sesak atau kesulitan bernafas. Apakah dibenarkan menjual tabung oksigen dengan harga tinggi? Apakah wajar menimbun tabung oksigen dengan dalih kebutuhan, padahal hanya karena kepanikan?. Pertanyaan reflektif yang patut diajukan kepada mereka yang mencari keuntungan disaat kesulitan warga adalah bagaimana jika yang mengalami kesulitan tabung oksigen itu adalah keluarga dekat mereka? Dimana hati nurani berbicara? Benarkah? Wajarkah? Tepatkah?. Meletakkan hati nurani dan empati, dan nalar yang jernih dalam etika bisnis akan membuat manusia lebih menghargai kemanusiaan sehingga bisa berbisnis dengan tidak mengorbankan kemanusiaan demi keuntungan pribadi.

Terobosan Pemprov DKI untuk menyediakan posko rescue oksigen untuk mengatur distribusi tabung oksigen patut diapresiasi. Dalam situasi darurat Pemerintah daerah ataupun pusat harus turun tangan memastikan supaya tidak terjadi kelangkaan. Posko rescue oksigen yang menjadi pusat distribusi oksigen dan pengisian ulang oksigen kosong di Rumah Sakit  dan dibawa ke Krakatau Steel untuk diisi ulang. Dengan demikian kebutuhan oksigen dalam kondisi kritis dan krisis kemanusiaan tak boleh dikapitalisasi oleh pedagang-pedagang serakah. Penimbun keuntungan, ditengah derita manusia harus dicegah. Etika bisnis harus ditegakkan supaya tidak ada yang memanfaatkan kesempatan ditengah kesempitan dan kesulitan warga. Bersama kita bisa mencegah dan mengatasinya.

Dr. Anil Dawan M.Th, Dosen Prodi Manajemen Universitas Pembangunan Jaya dan Aktivis Sosial Kemanusian WVI

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed