by

Menilik Ekofeminisme Anak Muda di Daerah

-Kabar Puan-22 views

Kabar Damai I Rabu, 30 Juni 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Dalam kehidupan, erat kaitannya dengan manusia, alam dan juga hewan. Ketiganya saling berkaitan dan saling berkesinambungan. Lingkungan menjadi salah satu sektor yang juga sangat penting sehingga upaya untuk menjaga dan merawatnya haruslah selalu dilakukan.

Kerusakan lingkungan dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Melalui tingginya aktifitas manusia dan juga industry yang tidak memperhatikan unsur baik pada lingkungan tentu akan menyebabkan dampak yang buruk pula bagi manusia kemudian.

 Kerusakan lingkungan lebih banyak merugikan kaum perempuan. Ekominisme adalah pemikiran atau gerakan yang timbul karena pemanfaatan berlebihan (eksploitasi) maupun perusakan lingkungan hidup serta penundukan perempuan.

Di Jember dan Pontianak, gerakan baik dilakukan oleh anak-anak muda dalam rangka menanggulanginya. Melalui program Merawat Kebinekaan, Dina Putu Ayu, Ketua Sobung Sarka Jember, Jawa Timur dan Arniyanti, Ketua Training dan Learning Center LSM Gemawan, Pontianak memaparkan tentang gerakan masing-masing.

Sobung Sarka di Jember

Sobung Sarka dalam bahasa Madura berarti Tidak Ada Sampah. Gerakan ini mengajak masyarakat di Jember supaya tidak ada. Gerakan ini dahulu diawali karena adanya penyu yang mati karena plastik, berawal dari kesadaran dampak negatif penggunaan plastik dan pasca pakai yang dibuang sembarangan membuat gerakan Sobung Sarka ini dimulai. Saat ini, edukasi dan pelatihan Sobung Sarka dilakukan oleh tujuh orang yangmana enam diantaranya adalah perempuan.

Dalam menjalankan aksinya, Dina mengungkapkan banyak melakukan edukasi dan pelatihan.

“Kami banyak melakukan pelatihan dan edukasi ke sekolah-sekolah karena kami melihat potensi besar pada anak. Di SMA, SD dan di TK pada guru-gurunya. Kemudian pada masyarakat umum kami membuat pelatihan mengolah sampah minyak jelantah menjadi sabun atau lilin,”.

Baca Juga: Mencegah Penyiksaan terhadap Perempuan Papua dengan Reformasi Kultur Anti Kekerasan

“Selain itu kami lakukan pula pelatihan minim sampah seperti misalnya mengompos, melakukan ecoenzim dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Sehubungan dengan lebih banyaknya anggota perempuan dalam Sobung Sarka, Dina menyatakan bahwa perihal kerusakan ini perempuan cukup berdampak.

“Yang terdampak kebanyakan perempuan, sebelum ke yang lebih besar misal di rumah saja. Ketika rumah berserakan dan sampah dimana-mana yang berperan pasti perempuan. Jadi perempuan punya andil besar dalam menata rumah,”

“Begitu juga dalam kerusakan yang lebih besar. Ada sampah yang mengganggu lingkungan dan pemandangan maka yang terdampak juga perempuan. Tapi solusi ada di bagaimana perempuan mengatur rumah dan mengatur lingkungan disekitar rumahnya,” tambahnya.

Sobung Sarka melihat di Jember masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan, begitu pula dengan kuantitas sampah yang melimpah di Jember. Hal ini diperparah dengan adanya empat TPA yang kini ditutup karena ditolak oleh warga. Dari permasalah ini membuat sampah menumpuk di TPS sehingga sangat mengganggu. Oleh karenanya, mengelola sampah dari rumah adalah salah satu kunci yang dapat dilakukan.

Selain tergabung dalam Sobung Sarka, Dina juga merupakan seorang guru di salah satu sekolah Katolik di Jember. Dina dapat mengajak anak-anak muda dalam aktif dan peduli dalam hal penanggulangan sampah yang ada disana.

“Anak-anak muda ini saya melihat sangat luar biasa, ada energi baik yang kita bisa dapatkan dari mereka. Mereka dengan tulus menawarkan untuk membuat kampanye pada salah satu karnaval di Jember. Murid-murid saya kampanye agar masyarakat tidak membuang sampah. Mereka turun ke jalan sambil bawa kantong sampah dan membawa tulisan jangan buang sampah sembarangan,” jelas Dina.

Gerakan Sobung Sarka adalah bentuk dukungan dalam rangka mensukseskan permasalahan sampah yang ada di Jember. Menurut Dina, pemerintah memang memiliki target untuk Indonesia bebas sampah pada 2020 dan mundur menjadi 2030. Ia bersyukur pemerintah Jember sangat mendukung Sobung Sarka melalui kegiatan yang diselengarakan.

Gemawan di Pontianak

Arniyanti merupakan pengurus termuda dalam LSM Gemawan. Ia masuk dan bergabung dalam Gemawan karena kesadaran bahwa permasalahan lingkungan bukan hanya dari orang-orang yang memiliki latarbelakang lingkungan saja. Hal ini karena berbicara dengan lingkungan  maka erat dengan kehidupan.

Apalagi mengingat di Kalimantan Barat, permasalahan lingkungan menjadi persoalan yang dapat dilihat dengan mudah menggunakan mata telanjang. Pulau yang besar dengan kekayaan alam seperti hutan dan sungai sangat luar biasa sehingga rawan eksploitasi karena berkembangnya aktifitas manusia dan juga industri.

“Berbicara lingkungan, krisis iklim dan kerusakan itu ada didepan mata, terutama di Kalimantan Barat itu sendiri,” ungkapnya.

Deforestasi alam dan hutan di Kalbar sangatlah besar, potensi kerusakan juga tentu amatlah besar pula. Melihat hal tersebut, Arni sadar untuk terjun dan tidak diam saja dalam rangka mengkampanyekan isu lingkungan ini.

Kota Pontianak tidak hanya terkenal karena tata kota dan sejarahnya. Adapula Sungai Kapuas yang panjang dan membelah kota. Sungai di Kalimantan Barat khususnya di Pontianak tidak hanya sebagai sarana transportasi masyarakat namun juga sumber kehidupan. Namun kini kondisinya tidaklah sebaik dulu.

“Memang kondisinya kini sudah tidak bagus, karena ada kandungan merkuri dan lain-lain,” kata Arni.

Gemawan secara gerakan memang dominan bagi masyarakat di pedesaan namun juga tidak terlepas pula dari masyarakat urban dan pemuda di Pontianak. Kini Gemawan sedang membangun jaringan dengan anak-anak muda guna berbincang dan saling bertukar fikiran tentang lingkungan serta habit masyarakat urban. Sejak 1999, program Gemawan bergerak pada pembangunan masyarakat sehingga permasalahan yang ada dalam masyarakat dapat teratasi.

Berbicara soal ekofeminisme dan lingkungan dalam masyarakat. Arni menyatakan bahwa sebenarnya secara alami hal tersebut sudah hadir dalam masyarakat itu sendiri.

“Sebenarnya ekofeminisme itu sudah hadir dalam masyarakat. Jadi berbicara soal kebiasaan, kearifan lokalnya, melihat ibu-ibu menyelamatkan lingkungan itu praktik yang luar biasa. Jadi ekofeminis itu bukan baru-baru sekarang tapi sudah lama dan dilakukan ibu-ibu di desa,” bebernya.

Dari empat belas kabupaten kota di Kalimantan Barat, kini wilayah kerja Gemawan telah masuk pada sembilan kabupaten dan kota. Pada salah satu wilayah kerja menurut Arni pada salah satu kabupaten terkenal dengan tenunnya. Dalam program tersebut, edukasi pemberian warna alami dilakukan dan menyebabkan produksi dan harga jual lebih mahal dan berdampak baik bagi mereka.

Kerusakan lingkungan di Kalimantan Barat kian hari kian kentara, hal ini tentu menyebabkan dampak yang kurang baik pula bagi masyarakat. Pada salah satu kabupaten yang didampingi oleh Gemawan misalnya terdapat sungai dengan kualitas air yang telah tercemar sehingga tidak baik untuk digunakan. Hal ini menyebabkan terjadinya penyakit kulit hingga stunting yang tinggi. Bahkan, sarana perekonomian dan mencari ikan juga kemudian menjadi terganggu.

Dua gerakan ini kini didominasi oleh perempuan, hal ini menjadi bukti bahwa perempuan juga dapat berdaya dan bermanfaat bagi masyarakat dalam konteks ini pada isu lingkungan. Hadirnya perempuan dalam gerakan memang juga kemudian menjadi tantangan tersendiri seiring dengan masih tingginya pola patriarki pada masyarakat. Namun, bagi Arni semua gender juga punya potensi dan kesempatan yang sama dalam melakukan apapun. Oleh karenanya pengarusutamaan gender menjadi hal yang penting.

“Banyak yang masih berfikir bahwa tempatnya perempuan hanya kasur, sumur dan dapur. Padahal lebih dari itu perempuan juga bisa bergerak dan bermanfaat. Gemawan ketika melakukan advokasi dan melakukan pendampingan di masyarakat oleh karenanya yang kami berikan materi pertamanya adalah kesetaraan gender tersebut,” jelasnya.

Sobung Sarka dan Gemawan merupakan potret dan contoh baik kepedulian bagi lingkungan. Gerakan ini tumbuh dan berupaya menjadi mitra bagi masyarakat terutama dalam hal penanggulangan sampah dan lingkungan. Melalui gerakan baik ini, harapan agar kehidupan lebih baik dengan lingkungan yang baik menjadi cita-cita yang harus dilakukan bersama.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed