by

Mengulik Sejarah Batik Kauman Yogyakarta yang Egaliter

Kabar Damai I Rabu, 15 September 2021

Yogyakarta I kabardamai.id I Pada mulanya batik merupakan karya seni dan hanya boleh dikenakan oleh golongan bangsawan, oleh masyarakat Kampung Kauman diberi sentuhan kreatif pada motif, sehingga batik menjadi milik semua dan boleh dikenakan oleh banyak orang yang dikenal sebagai Kain Batik Sudagaran.

Hal itu disampaikan oleh Budi Setiawan, Sesepuh Kampung Kauman, Yogyakarta sekaligus Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) PP Muhammadiyah pada, Sabtu (11/9). Di Kampung Kauman, meski dihuni oleh para ulama, namun mereka bukan ulama yang berada di menara gading. Mereka mengakar dan berbaur bersama masyarakat.

Dilansir dari laman PP. Muhammadiyah, sebagaimana yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan ketika dirinya datang ke kota-kota lain, selain bertujuan untuk berdakwah dia juga sering membawa kain batik Sudagaran sebagai barang dagangan. Oleh karena itu, Kiai Dahlan selain sebagai seorang ulama juga merupakan saudagar batik.

“Orang-orang Keraton yang juga membatik kan juga pingin jualan juga, kemudian mereka menitipkan batiknya di Kauman. Jadi makanya seperti Kiai Dahlan lebih banyak dia berdagang batik dari pada industri batik,” ungkapnya, dikutip dari Muhammadiyah.or.id (14/9).

Selain Kiai Dahlan, ada pula Kiai Abu Bakar  dengan Kiai Saleh pasangan saudara yang merupakan ayah dan paman Kiai Dahlan juga dikenal sebagai pedagang kain batik. Namun, meski demikian Kiai Abu Bakar dan Kiai Saleh lebih memilih menekuni kesehariannya sebagai ulama dari pada pedagang batik.

Dalam perkembangannya, dari karya seni menjadi karya industri batik, banyak warga termasuk ulama-ulama di Kampung Kauman membuka industri batik di rumah-rumah mereka yang memiliki ruangan besar, sebab pada waktu itu pemukiman penduduk belum sepadat sekarang.

Budi menambahkan, terkait dengan corak masyarakat Kauman yang awalnya diisi oleh ulama-ulama kemudian menjadi sangat variatif akibat kedatangan buruh batik yang berasal dari daerah luar Kauman, seperti Bantul, Sleman dan sekitarnya. Para buruh ini kemudian ada yang menetap di Kauman.

Pasca Perang Dunia II, sekitar tahun 1920-an pedagang batik di Kauman mengalami perubahan. Kiai Dahlan sudah tidak lagi berdagang batik dan lebih fokus pada kegiatan dakwahnya. Termasuk keluarga-keluarga pedagang besar lain juga tidak lagi aktif, berganti para pedagang baru yang meneruskan tradisi batik Kauman.

Baca Juga: Tradisi Ngejot, Tradisi Perekat Persaudaraan Warisan Hindu-Islam

Di sisi lain batik juga terdampak adanya kemajuan teknologi industri. Batik yang awalnya ditulis, kemudian dicap. Selain itu, menurut Budi, perubahan ini adalah dampak semakin banyaknya permintaan pasar.

“Ada banyak proses batik, mulai mbatik (manual), ngecap yang model cap. Batik itu unik ada proses panjang yang harus dilalui sehingga sampai menjadi siap batik yang diperdagangkan,” tandasnya.

 

Diakui UNESCO Sebagai Warisan Budaya Dunia

Dalam perkembangan selanjutnya, batik berkembang tidak hanya di seluruh daerah di Indonesia, namun juga mendapat perhatian public dunia Internasional. Bahkan pada 2 Oktober 2009, batik ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO. Sejak itu, 2 Oktober pun diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Pemerintah menerbitkan Kepres No. 33 Tahun 2009 dan menetapkan Hari Batik Nasional guna meningkatkan kesadaran masyarakat untuk pengembangan dan melindungi batik Indonesia.

Batik didaftarkan untuk mendapat status intangible culture heritage (ICH) ke kantor UNESCO Jakarta oleh Menko Kesejahteraan Rakyat pada 4 September 2008. Pengajuan itu pun membuahkan hasil.

Mengutip dari  situs Kemdikbud, UNESCO menyebut bahwa teknik, simbol, dan budaya di dalam unsur batik dianggap melekat dengan kebudayaan Indonesia.

UNESCO juga menilai bahwa masyarakat Indonesia memaknai batik dari proses kelahiran sampai kematian. Dilihat dari banyaknya motif, batik pun menjadi sebuah refleksi keberagaman budaya di Indonesia.

Secara harfiah, batik diartikan sebagai kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain. Kemudian, pengolahannya dilakukan dengan proses tertentu.

Mengutip dari buku Mengenal Produk Nasional Batik dan Tenun (2010), batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu “Ambah” dan titik, lalu disimpulkan menjadi menulis titik.

Ragam dan motif batik di Indonesia sangat beragam. Motif batik Solo – Yogya identik dengan perlambangan dan bersifat simbolis. Warnanya pun dominan coklat, hitam, dan putih. Sedangkan batik pesisir didominasi warna biru muda, kuning, merah, dan coklat.

Motif batik yang diciptakan pun memiliki makna yang mendalam, seperti harapan dan doa. Contohnya batik Sidomukti yang memiliki makna dan harapan agar pemakainya menjalani kehidupan yang baik dan berkecukupan.

Lalu, ada motif batik Truntum yang digunakan orangtua pengantin dan melambangkan tuntunan orangtua kepada anaknya.

Pada masyarakat keraton, batik merupakan sebuah simbol dan terdapat aturan motif yang boleh digunakan. Contohnya, Kasunanan Solo pada 1769 melarang masyarakat umum menggunakan motif Jlamprang. [ ]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed