by

Mengulik Permasalahan Orang Biasa yang Tak Biasa

Oleh: Ai Siti Rahayu

 

Judul Buku: Orang-orang Biasa

Penulis: Andrea Hirata

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Februari 2019

Tebal Buku: 262 hlm

ISBN : 978-602-291-524-9

 

Adalah Aini, anak seorang pedagang kaki lima yang berjualan mainan yang mempunyai mimpi berkuliah di Fakultas Kedokteran di sebuah universitas ternama di Indonesia. Ia menjadi sentra cerita dalam novel ke-11 karya Andrea Hirata ini. Andrea Hirata yang sukses dengan Laskar Pelangi-nya kini hadir dengan genre novel yang berbeda yaitu kriminal dan pendidikan.

Cerita ini berawal dari sepuluh sekawan yang bersekolah dan ditempatkan di bangku paling belakang oleh wali kelas mereka, bernama Debut, Junilah, Nihe, Sobri, Honorun, Tohirin, Salud, Rusip, Handai, dan Dinah. Mereka dipersatukan secara alamiah berdasarkan kecenderungan bodoh, aneh, dan gagal.

Hanya honorun dan rusip yang tamat dari SMA, Sobri, Tohirin, dan Handai secara gentlemen mengundurkan diri dari SMA setelah berkali-kali tidak naik kelas, pun dengan Nihe yang hobbynya berdandan keras kepala dipensiunkan dini oleh wali kelasnya, Junilah mengikuti jejak Nihe karena panutan hidupnya adalah Nihe, sampai akhirnya Debut pun mengundurkan diri dari SMA karena kehilangan makna sebab kawan-kawannnya tak ada lagi di SMA.

Dinahlah yang awal mengundurkan diri dari SMA selain karena kebodohannya juga karena tekanan ekonomi, dan langsung menjadi pedagang kaki lima, sampai akhirnya Dinah menikah dengan pedagang kaki lima juga dan memiliki empat orang anak.

Rumah tangganya tak bertahan lama karena suaminya meninggal karena sakit demam. Jungkir baliklah Dinah berdagang mainan di kaki lima demi menghidupi empat orang anaknya. Aini, anak sulungnya sering membantunya berjualan.

Aini si sulung yang juga memasuki SMA dimana dulu ibunya bersekolah tak jauh beda dengan ibunya. Dimana setiap pelajaran matematika mengalami psikosomatis semacam gejala fisik akibat tekanan batin yang hebat, jika hari itu ada pelajaran matematika di sekolah Dinah yang dulu bersekolah akan mengalami sakit perut yang aneh sejak pagi, jantungnya ngap-ngap, keringatnya bersimbah, melihat angka-angka bermunculan dipapan tulis adalah terror baginya.

Begitupula yang dialami Aini, tak heran jika angka merah lekat pada pelajaran matematika di rapornya macam balok dilengan kopral. Ibu Desi Mal yang mengetahui Aini adalah anak Dinah tak heran mengetahui kemampuan Aini dalam pelajaran matematika.

Baca Juga: Buku Terbaik Tentang Kebebasan Beragama

Ketika merawat ayahnya, Aini teringat kata-kata perawat di rumah sakit umum bahwa hanya dokter ahli yang bisa tahu penyakit ayahnya. Setelah ayahnya meninggal, Aini bercita-cita ingin menjadi dokter ahli agar dapat mengetahui penyakit ayahnya dulu. Ia yang semula tak masuk sekolah karena merawat ayahnya, kembali ke sekolah dan langsung tinggal kelas di kelas satu SMA. Ia mulai rajin belajar dan membaca, dan yang paling penting ia mulai rajin belajar matematika melawan semua kesakitan dan tekanan batinnya.

Setiap hari ia rajin menunggu Ibu Desi Mal untuk meminta diajari matematika. Ibu Desi Mal dengan sabar mengajari dan menjelaskan berulang-ulang, namun tetap saja otak Aini bebal ia sulit mengerti. Sampai ibu Desi Mal bosan dan mengusirnya pergi, Aini tetap tidak beranjak ia tetap gigih menunggu sampai Ibu Desi Mal mau mengajarinya lagi. Akhirnya Ibu Desi Mal menarik kesimpulan, Mereka yang mau belajar, tak bisa diusir. Aini pun berhasil memasuki fakultas kedokteran di universitas ternama di Indonesia, namun ia harus menelan ludah karena ibunya tidak ada biaya untuk menyekolahkannya disana.

Novel ini yang ditulis oleh Pak Cik Andrea Hirata ini berhasil mendeskripsikan secara jelas bagaimana sulitnya pendidikan bagi orang-orang yang tidak mampu secara ekonomi. Menyaksikan kisah sepuluh sekawan yang putus sekolah, terjerat kemiskinan, dan merasakan sulitnya bertahan hidup adalah gambaran negeri ini.

“ Dimana semua uang di dunia ini berada?”

“ Tak tahulah aku, But”

“ Semua uang di dunia ini ada di Bank! Anakmu harus  masuk Fakultas Kedokteran itu, apapun yang terjadi! Seorang ibu rela memotong tangan demi anaknya! Hapus air matamu Dinah! Siapkan dirimu! Siapkan dirimu baik-baik karena kita akan merampok bank itu!” (hlm. 79)

Novel ini memperluas pembahasannya dari semula yang hanya mengupas potret pendidikan dan kemiskinan di Indonesia, kini memperluasnya pada masalah kriminalitas yaitu perampokan. Sepuluh sekawan mengatasnamakan perampoknya dengan meminjam uang di bank itu nanti setelah Aini menjadi dokter uang itu akan di kembalikan. Andrea Hirata berhasil menggambarkan bagaimana kriminalitas yang dilakukan rakyat kecil sebenarnya dilakukan karena terpaksa. Seperti halnya sepuluh sekawan yang akan merampok demi mendapatkan uang untuk biaya kuliah Aini di Fakultas Kedokteran.

Bukan hanya itu, Andrea Hirata juga berhasil mengecoh pembaca dengan perampokan bank tersebut, bahwa sebenarnya perampokan bank adalah pengalihan. Perampokan yang sebenarnya adalah Toko Batu Mulia milik Trio Bastardin dan Duo Baron yang dimana uang di dalam toko tersebut adalah hasil korupsi pejabat negeri yang disimpan di sana.

Tak kalah menyentuh kisah heroik Polisi yang bernama Inspektur Abdul Rojali yang lebih lurus dari marka jalan, polisi yang mengidolakan Shan Rukh Khan dan menyukai lagu dangdut. Inspektur Abdul Rojali yang tak tercela integritasnya karena tak ada yang lebih ditakuti penjahat selain penegak hukum yang jujur dan memegang sumpah janji jabatanya.

Bersama rekannya Sersan P. Arbi yang justru mengidolakan Inspekturnya itu. Andrea Hirata sukses menyindir para penegak hukum dinegeri ini yang masih banyak menerima suap dan menegakkan hukum yang tumpul ke atas runcing ke bawah.

Satu lagi setting tempat yang mengambil nama Kota Belantik. Kota ukuran sedang paling aman dan paling naif di seluruh dunia ini. Suatu kota di pinggir laut yang penduduknya telah lupa cara berbuat jahat, penduduk yang berjiwa humor, dan tak suka melanggar hukum. Membuat kita berpikir, andai kota seperti ini benar-benar ada.

Keberhasil novel perdana Andrea Hirata dengan genre kriminalitas ini tentunya sangat mengagumkan dan sangat di apresiasi.  Namun ada beberapa hal yang masih mengganjal, seperti kurangnya plot yang menjelaskan bagaimana akhirnya sepuluh sekawan membuat peralihan perampokan pada Toko Batu Mulia, lalu pada siapa akhirnya uang yang dirampok itu diberikan, dan uang darimana akhirnya yang dipakai untuk membiayai kuliah Aini di Fakultas Kedokteran. Dan tak kalah pentingnya dipertanyakan bagaimana nasib dari kisah sepuluh sekawan, trio bastardin, dan Duo buron.

Terlepas dari kekurangan yang dirasakan, dari novel ini kita belajar sekaligus merenung tentang potret pendidikan Indonesia, kemiskinan di Indonesia, korupsi pejabat publik, dan kasus-kasus suap penegak hukum yang masih marak.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed