by

Mengulik Peran Gereja Dalam Mewujudkan Pendidikan Damai dan Literasi

-Kabar Utama-105 views

Kabar Damai | Rabu, 04 Mei 2022

Jakarta | kabardamai.id | Dalam rangka menyambut peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2022, maka PGGP (Persekutuan Gereja-Gereja Papua), PGLII (Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia) serta WVI (Wahana Visi Indonesia) mengadakan acara zoominar yang dilaksanakan pada hari Kamis, 28 April 2022 bertemakan Peran Gereja dalam Mewujudkan Pendidikan Damai dan Literasi Papua. Dalam acara tersebut ada 3 (tiga) pimpinan yang memberikan kata sambutan. Dari Wahana Visi Indonesia yaitu Ibu Mitra Tobing selaku Direktur Ministry Quality Impact yang menyampaikan bahwa “Sebagai organisasi kemanusiaan Kristen yang berfokus pada anak, WVI menyadari bahwa dalam menjalankan visinya harus bermitra dengan berbagai pihak untuk dampak lebih yang besar. Dalam pendekatan program, WVI bekerjasama dengan gereja sebagai mitra yang tak tergantikan. Dan untuk wilayah Papua, WVI berfokus pada program Pendidikan”.

Sementara itu Pdt. Hizkia Rollo S.Th, MM dalam sambutannya menyampaikan tentang Pendidikan adalah alat pekabaran Injil, karena Otto dan Geisler membangun pertama adalah Pendidikan. Dan berikutnya adalah hadirnya Tokoh Pendidikan Isack Samuel Kijne yang merupakan pendidik sekaligus peletak pondasi utama Pendidikan di Tanah Papua. Membangun jenjang Pendidikan yang komprehensif demi membiasakan pola perintis pekabaran Injil dan sekaligus menghadirkan sekolah untuk proses mencerdasakan masyarakat. Dalam sambutanya Pdt Hizkia juga mengusulkan supaya sekolah swasta dan negeri didukung dan dibiayai oleh negara. Hal tersebut sangat penting, karena maju atau tidaknya Pendidikan masyarakat akan berkorelasi dengan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat juga. Pdt Hizkia juga memberikan apresiasi kepada semua pihak yang sudah berjuang dalam memajukan Pendidikan di Papua dan meyakini secara optimis bahwa semua yang hadir di Papua untuk kehadiran Pendidikan Damai dan Literasi di Tanah Papua akan selalu diberkati oleh Tuhan.

Baca Juga : UNESCO Soroti Pentingnya Solidaritas Global dalam Visi Pendidikan 2050

Pemberi sambutan berikutnya adalah Pdt. Dr. Ronny Mandang M.Th selaku Ketua Umum PGLII. Pada waktu Jepang di bom, Kaisar Hirohito berdiri diatas puing-puing menyatakan ada berapa banyak guru di Jepang. Berikutnya Jepang mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pilar membangun bangsanya. Peran Gereja dalam mendukung Pendidikan damai dan literasi dilihat dari perskpektif Injil sangat penting karena sistem Pendidikan dan universitas besar di dunia selalu di mulai dari gereja. Menurut Pdt Ronny Mandang faktanya kata “ajar”, lebih banyak dipakai daripada kata “didik”, yaitu sistem pendidikan yang mendasarkan dan pelibatan Tuhan dalam proses Pendidikan. Pendidikan sejatinya dimulai dari rumah tangga, karena akan memenbentengi serangan-serangan dari nilai-nilai dunia yang dipenuhi konsumerisme. Sekolahpun berasal dari kata taman, yang diambil oleh Ki Hajar Dewantara yang menciptakan keamanan, kenyamanan, keragaman dan keindahan akal, budi dan nilai. Pdt Ronny mengidentifikasi bahwa salah satu proses menurunnya kualitas Pendidikan disebabkan oleh faktor bergesernya pelayanan pendidikan menjadi komersialisme dan spiritualitas postmodern. Perubahan sikap hidup dan literasi yang seutuhnya harus memperjumpakan setiap orang dengan Tuhan sehingga menghasilkan generasi-generasi yang memiliki special revelation dan common grace.  

Praktek Baik dari Lapangan

Pemaparan pertama dengan sub tema Praktik Baik dari Lapangan ini disampaikan oleh Marthen S. Sambo S.Si sebagai Tim Leader Pendidikan Wahana Visi Indonesia memaparkan bahwa tantangan di Papua adalah angka harapan sekolah yang mencapai 11,03 tahun, dan rata-rata lama sekolah yang mencapai 6,76 tahun. Keduanya masih dibawah rata-rata nasional. Banyak praktik baik yang sudah dikerjakan di lapangan diantaranya adalah implementasi program Wahana Literasi yaitu suatu Gerakan literasi di sekolah, rumah dan di lingkungan tempat tinggal untuk meningkatkan akses anak di 41 kampung (5 kabupaten) pada kegiatan literasi berkualitas dan meningkatkan minat serta kemampuan membacanya dengan pemahaman menyeluruh atau (reading with comprehension).

Dimulai di Tahun 2018 telah dilakukan permulaan intervensi program Wahana Literasi di Papua dengan target Area Program: Biak, Sentani, Jayawijaya. Dilanjutkan hingga tahun 2022 Impelemntasi Program Wahana Literasi akan dilakukan di 4 (empat) Area Program: Biak, Sentani-Sarmi, Pegunungan Tengah dan Asmat. Lantas pertanyaanya mengapa aksi bersama masyarakat perlu melibatkan gereja? Alasannya karena keterlibatan orang tua dengan anak dari berbagai usia telah diakui berpengaruh terhadap perkembangan anak (khususnya perkembangan kecerdasan) Kegiatan belajar di rumah yang dilakukan oleh orang tua lebih penting terhadap perkembangan intelektual dan sosial anak dibandingkan pekerjaan, pendidikan dan pendapatan orang tua. Dalam hal ini Gereja memiliki peran strategis menjadi fasilitator, kontributor dan motivator sekaligus katalisator peningkatan kapasitas kepada orang tua dalam mendukung kegiatan belajar anak[1]. WVI memfasilitasi peningkatan kapasitas para tutor dan fasilitator literasi untuk bisa memimpin kegiatan literasi di rumah baca dan kelompok orang tua. Biasanya terdiri dari pengasuh sekolah minggu dan remaja di gereja. Kedepan seluruh praktik baik ini dapat terus dikerjasamakan dengan gereja dan pemerintah, para orang tua dan pengasuh serta organisasi keagamaan dan kemasyarakatan lainnya untuk semakin meluaskan dampak dan jangkauan.

Kaitannya dengan MPI (Membangun Paradigma Inklusif)

Pemaparan berikutnya salah satu narsum, Dr. Anil Dawan M.Th selaku Faith and Development Manajer WVI mengatakan bahwa “Salah satu upaya untuk melakukan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) adalah dengan meningkatkan Pendikan dan Literasi. Meningkatkan Pendidikan dan Literasi merupakan upaya strategis untuk meningkatkan kualitas peradaban suatu keluarga dan gereja bahkan suatu bangsa”. Dengan kata lain bahwa peradaban suatu bangsa ditentukan oleh kemajuan dan tingkat pendidikan dan kemampuan literasinya. Akan tetapi dalam mengembangkan pendidikan damai dan literasi menghadapi 2 (dua) kendala sekaligus yaitu kendala kultural dan kendala finansial. Kendala kultural terkait dengan kebiasaan masyarakat Indonesia pada umumnya lebih menyukai bahasa ora (percakapan) daripada bahasa tulis. Sedangkan kendala kedua yaitu finansial yaitu adanya anggapan masyarakat bahwa harga buku dianggap mahal harganya.

Oleh karenanya perlu ditingkatkan pemahaman sejak dini, karena semua berawal dari pola asuh di dalam keluarga penting untuk menanamkan Pendidikan damai dan literasi. Pendidikan damai berhubungan dengan mengenal keberagaman, dan membiasakan melakukan dialog dan musyawarah, dan dimulai dari keluarga. Kebiasaan orang tua mendidik dan mengasuh anak akan sangat berdampak pada anak tersebut ketika dewasa. Program MPI membantu meletakkan dasar memahami keberagaman, karena ada dalam bingkai mewujudkan Kerajaan Allah dan meneladankan sikap dan perilaku Yesus dalam berelasi dengan orang-orang yang berbeda, sikap itu adalah sikap inklusif yaitu didasari kasih agape (tulus tanpa pamrih), bersedia repot, berupaya mencari faktor penyambung bukan pemisah, salah satunya melalui program Pendidikan yaitu integrase PAUD dan sekolah minggu yang bisa didukung lintas gereja, lintas aras.

Peluang dan Tantangan

Sementara itu, mengulik peluang dan tantangan, Narasumber Pdt Dr. James Wambrouw mendasarkan pada sejarah Pendidikan di Papua dimana landasan dibangun oleh Kedua pemuda Kristen Jerman yang bernama Carl Wilhelm Ottow (CWO) dan Johann Gottlob Geissler (JGG) merintis dan meletakkan Fondasi Iman bagi Orang Asli Papua (OAP) pada tanggal 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat dengan Doa sulung: “Dengan Nama Tuhan kami menginjak Tanah ini.” (Im Gotes Name Tu Betraten). Itulah warisan Iman yang menjadi kekuatan OAP sebagai pewaris Injil Yesus Kristus di Tanah Papua sampai saat ini. Selanjutnya langkah-langkah yang disampaikan oleh Pdt James Wambrouw adalah Tim PGGP Papua (6 orang) dan Papua Barat (2 orang) sudah membawa hasil Konferensi HPI atau Hari Pekabaran Injil ke- 167 dan menyerahkannya kepada Bapak Wakil Presiden pada tanggal 19 April 2022.

Dimana salah satu program prioritas yang perlu digarap serius adalah program Pendidikan dengan segala tantangan dan peluangnya. Tim juga bertemu beberapa pejabat negara yang ada kaitan dengan usaha perdamaian dan percepatan pembangunan di Tanah Papua. PGGP mendorong Pemerintah pusat untuk mendukung usaha penyelesaian konflik di Papua secara tepat dan lebih menekankan pendekatan secara “religius dan kemanusiaan”, hal itulah yang dikatakan Bapak Wakil Presiden ketika ditemui oleh Tim.

Program dan Advokasi Hak Anak Mendapatkan Pendidikan

Menurut dr Sophian Andi M.Pd. K sebagai salah satu narsum yang juga merupakan Komisi Pendidikan Umum PGLII dan Rektor UKiP Sorong Papua Barat, menyatakan bahwa sejatinya literasi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, membuat, berkomunikasi dan menghitung, mencetak dan menulis bahan-bahan yang terkait dengan konteks yang berbeda-beda. Literasi sangat bermanfaat bagi masyarakat bahwa masyarakat memiliki budaya untuk mengantarkan suatu bangsa ke kepada kemajuan. Tantangan yang dihadapi adalah kuantitas yang kurang dan kualitas perpustakaan yang masih kurang memadahi. Berbagai fakto seperti rendahnya literasi keluarga, mencari buku di daerah terpencil sangat sedikit. Rendahnya akses masyarakat terhadap bacaan. Langkah yang perlu dilakukanadalah membiasakan budaya baca harus didukung semua faktor yaitu tersedianya bacaan mendukung, kecakapan dan juga akses. Akses alternatif juga bisa didapatkan Jejaring Perpustakaan Nasional dan kemampuan alibaca membutuhkan dukungan semua pihak.

Mutiara-mutiara anak-anak Papua dengan segala keterbatasan, masih mampu menunjukkan beberapa prestasi nasional bahkan internasional. Prestasi anak-anak Papua yang mampu menembus jenjang pendidikan internasional membuktikan bahwa jika diberi kesempatan anak-anak Papua akan mampu menunjukkan kualitasnya dan meraih cita-citanya. Menanamkan sejak dini tentang potensi anak-anak di Papua sangat penting, seiring dengan kemampuan multiple intelegence yang disesuaikan dengan konteks lokal. Keunikan dan kearifan lokal perlu dikembangkan dengan pendekatan personal disesuaikan dengan jenis kecerdasan anak-anak sesuai konteksnya. Peran Gereja bisa bergerak aktif meningkatkan kualitas warga gereja yang ingin melayani sebagai guru. Gereja juga bisa melakukan pengetahuan, keterampilan, pengetahuan dan kepribadian dengan bekerjasama dengan Lembaga-lembaga Pendidikan, LSM dan organisasi kemanusiaan. Gereja perlu juga mendukung hak anak melalui advokasi kebijakan mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan. Peran serta ini harus terus dikembangkan karena tokoh-tokoh gereja selalu diundang memberikan masukan dan pandangan supaya anak-anak mendapatan Pendidikan.

Rencana Aksi dan Respon Peserta

Dalam zoominar ini juga diresumekan kesimpulan dan juga rencana aksi. Integrasi PAUD dan Sekolah Minggu akan dilakukan khususnya dalam implementasi di Kampung-Kampung dengan bekerjasama dengan Kampus, Universitas dan STT, Aras Gereja di Papua maupun Nasional, Kementrian Sosial, Kementrian Pendidikan, Kementrian Koperasi dan UMKM, Kementrian Tenaga Kerja dan Lembaga masyarakat. Kemanusiaan dan juga Yayasan Kristen ataupun Civil Society. Program berikutnya adalah proses pemberdayaan sebagai community center yaitu pusat Pendidikan dan pengembangan ekonomi masyarakat. Dua rencana aksi ini menempatkan gereja sebagai aktor utama yang didukung oleh semua pihak.

Beberapa peserta zoominar memberikan kesan tanggapan terhadap acara secara positif, misalnya Pdt. Jeni Bailao dari GMIT yang ikut hadir dalam acara yang menyatakan bahwa Zoominar ini sangat bagus. Materinya juga menarik. Based on konteks lokal. Berbicara tentang ide yang original dan terjadi di masyarakat dan jemaat. Sangat baik jika dilakukan juga di sinode atau lembaga yg lain”. Peserta zoominar lainnya yaitu Merke Piternela Sumampouw dari Lembaga Penginjilan Doa Pemulihan Papua menyatakan “Sangat terberkati dengan semua pemateri. Trima kasih untuk Wahana Visi Indonesia yang menjadi motor penggerak dunia pendidikan ditanah Papua. Trima kasih untuk tim MPI, PGLII dan PGGP Tuhan slalu memberkati kita semua”. Acara yang berlangsung kurang lebih 4 (empat) jam ini dipandu oleh MC dan Moderator acara yaitu Pdt. Lanny Laras Tumbel diakhiri dengan tekad dan doa bersama untuk terus mendukung proses pencerdasan bangsa sebagai amanat Undang-Undang. Sekaligus permohonan supaya berkat Tuhan menghadirkan Pendidikan damai dan literasi yang terus tumbuh memajukan anak-anak Papua. Selamat Hari Pendidikan Nasional, Tuhan memberkati karya kita bersama.

Penulis : Dr. Anil Dawan M.Th

Faith and Development Manager WVI

[1] (Sumber: Pengaruh Keterlibatan Orang Tua Pada Pendidikan Anak, London: DCSF 2008)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed