by

Mengulik Dampak Kemenangan Taliban bagi Indonesia

Kabar Damai I Minggu, 29 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Rakyat Afganistan dinilai sangat loyal kepada suku atau klan, bukan kepada negaranya. Inilah yang menyebabkan Taliban dapat dengan cepat masuk dan mengambil alih kekuasaan. Ditambah lagi pemerintahan Afganistan sebelumnya dibangun dari pondasi yang tidak stabil. Sehingga penegakan hukum dan rasa nasionalisme di negara ini sangat rendah, dan budaya demokrasi yang diciptakan tidak kuat. Sementara korupsi dan konflik juga sangat tinggi.

Hal itu disampaikan oleh Alto Labetubun dalam diskusi daring dengan topik “Taliban Menang, Indonesia Tegang”, pada Rabu, 25 Agustus 2021 yang dihelat Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Acara yang dipandu Edna C. Pattisina ini, menghadirkan narasumber KH. Dr. Marsudi Syuhud (Ketua PB NU), Alto Labetubun (Aktivis Kemanusiaan), dan Mayjen TNI (Purn) Anshory Tadjudin (Mantan Dubes RI di Afganistan).

Dikatakan Alto Labetubun, pemerintahan Afganistan sebelumnya dibangun dari pondasi yang tidak stabil. Sehingga penegakan hukum dan rasa nasionalisme di negara ini sangat rendah, dan budaya demokrasi yang diciptakan tidak kuat. Sementara korupsi dan konflik juga sangat tinggi.

“Pertanyaannya, apakah Taliban yang dulu sama dengan yang sekarang? Taliban sekarang memang menciptakan wajah yang sedikit berbeda secara optik, seperti melakukan negosiasi, dialog. Ini wajah politik yang cukup berbeda dengan Taliban zaman sebelumnya. Kedua, ada narasi-narasi Taliban untuk tidak mau lagi menjadi safe heaven bagi kelompok teror. Namun saya tidak yakin perubahan radikal ini akan diterjemahkan dalam proses good government. Karena kekuatan Taliban adalah kekuatan yag direkatkan dengan kepentingan pragmatasi,” terangnya.

Baca Juga: Memahami Rejim Taliban di Afganistan (Bagian Kedua)

Alto menambahkan, dirinya tidak melihat adanya korelasi signifikan terhadap perubahan pola dan trend terorisme di Indonesia.

“Karena itu, kita gak usah tegang. Karena harus percaya kepada penegak hukum kita yang luar biasa untuk memetakan jaringan terorisme. Beberapa hari terakhir kita lihat sudah menangkap lebih dari 50 orang. Kemenangan Taliban memang bisa memunculkan narasi glorifikasi oleh kelompok teroris, juga politikus di Indonesia. Ini yang perlu disikapi supaya tidak lagi terjebak dalam kerangka berpikir pragmatis yang sangat mengedepankan politik identitas,” tegasnya.

Hubungan NU dan Taliban

Sementara itu, Marsudi Syuhud mengungkapkan hubungan yang terjalin selama ini antara PB NU dengan Taliban. Menurutnya, dalam sejumlah pertemuan yang pernah dilakukan dengan kelompok ini, terakhir pada 30 juli 2019 di Jakarta, PB NU selalu menyampaikan masukan yang intinya agar Taliban dengan suku atau klan yang ada di Afganistan bersatu.

“Kami juga mendorong untuk segera melakukan musyawarah agar bisa mendapatkan kata yang sama seperti di Indonesia ada konsensus nasional. Supaya dari macam-macam organisasi keIslaman yang ada di sana bisa mengimplementasikan cinta tanah air adalah sebagian daripada iman. Juga agar jangan lagi Taliban punya potret seperti masa lalu. Saya lihat Taliban hari ini ingin melakukan apa yang disampaikan PB NU. Sehingga pesan-pesan yang mereka sampaikan sangat berbeda dengan Taliban pada masa lalu,” ujarnya.

Menyinggung apakah kemenangan Taliban dapat mempengaruhi Indonesia? Menurutnya, fakta menunjukkan Indonesia telah lebih dulu merdeka, dan Taliban melakukan studi ke Indonesia termasuk ke NU, agar bisa membuat negara yang berdiri kokoh. Sehingga diharapkan Indonesia yang bisa mempengaruhi Taliban untuk bisa mendirikan negara.

“Karena mereka butuh pengakuan maka akan ada dialog. Ketika dialog bisa ketemu kata yang sama, sekarang menemukan kata yang sama tidak gampang. Begitu mereka bisa menemukan kalimat kenegaraan yang tepat seperti Pancasila, ini akan membantu mereka. Kita doakan agar Afganistan berdiri menjadi negara yang kuat dan bisa diakui. Jadi kita biasa-biasa saja,” tegas Marsudi.

Sedangkan Mayjen TNI (Purn) Anshory Tadjudin melihat, kemenangan Taliban untuk yang keduakalinya ini, tidak perlu menimbulkan ketegangan di Indonesia. Tetapi justru kita dapat mengambil pelajaran karena sudah 40 tahun Afganistan dilanda konflik sehingga muncul kemiskinan dan masyarakatnya tercerai berai.

“Saya berharap Taliban bisa menepati janji untuk menjunjung tinggi HAM. Sekaligus berharap NU dengan anggotanya di Afganistan dapat terus membangun jejaring dan membantu mereka,” tuturnya.

Densus 88 Waspadai Dampak Kemenangan Taliban

Terpisah, Kabag Ban Ops Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, Kombes Aswin Siregar, menyebut, kemenangan kelompok Taliban di Afghanistan bakal memicu ketertarikan kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Mengingat sejak 1980-an, Afghanistan adalah tempat training ground dan battle ground teroris, termasuk dari Indonesia.

“Afghanistan sudah lama menjadi training ground, training camp, dan battle ground untuk orang-orang Indonesia yang terbawa atau terpengaruh untuk ikut berjuang ke sana,” ujar Aswin dalam webinar CICSR yang disiarkan secara daring, Rabu, 25 Agustus 2021 malam.

Aswin juga menjelaskan, setidaknya dari Indonesia sendiri sudah ada 10 gelombang pengiriman orang ke Afghanistan dari beberapa kelompok. Di sana, kata Aswin, mereka berlatih, mengumpulkan amunisi, dan juga membangun jaringan terorisme. Pada akhirnya, mereka pulang ke Indonesia dan membuat sejumlah teror.

“Saya contohkan Ali Imron mungkin gelombang terakhir, pulang ke sini sekitar tahun 1990-an. Kemudian tidak lama setelah pulang mulailah ada aksi aksi teror yang dilakukan,” ungkap Aswin.

Lanjut Aswin, mereka yang berangkat ke Afghanistan mengalami proses brainwash ideologi yang membuat pembelokan tujuan. Awalnya mereka memiliki cita-cita untuk menyelamatkan saudara sesama muslim, tapi karena proses itu mereka berkeinginan membangun Daulah Islamiyah dengan aksi-aksi teror. Seperti yang dilakukan kelompok Jamaah Islamiyah (JI).

“Kalau kita lihat beberapa peristiwa yang menjadi penyerangan dari JI adalah bom malam Natal tahun 2000, keterlibatan konflik di Ambon dan Poso, Bom Bali 1 dan 2, Hotel JW Marriott, bom Kedubes Australia, dan kemudian Rich Carlton 2009,” terang Aswin.

Mengacu  akar sejarah itu, Aswin menyebut, kemenangan Taliban di Afghanistan berpotensi memberikan dampak pada Indonesia. Di antaranya, bisa menarik kelompok-kelompok radikal di Indonesia dan berangkat kembali ke Afghanistan. Apalagi masih ada potensi pecah konflik lagi di Afghanistan. Hal ini dapat menarik kelompok-kelompok dari seluruh dunia untuk berjuang di Afghanistan.

“(Afghanistan) sebagai training ground,sebagai network, dan sebagai sumber logistik mereka. Selesai di sana, pulang. Tidak lama setelah pulang, beraksi di tempat mereka berada,” tutup Aswin.

 

Membebaskan Diri dari Kekuasaan Asing

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan, kemenangan Taliban atas rezim Afganistan di tangan Amerika Serikat (AS) memang cukup mencengangkan. Banyak yang hawatir ini akan membuka pintu lebar radikalisme atau ekstrimisme Islam.

Namun begitu, tidak sedikit juga yang berharap peristiwa penaklukan tanpa perlawanan dan pertumpahan darah ini menjadi awal masuknya era baru Afganistan sebagai negara dan bangsa yang berdaulat tidak di bawah kendali kekuasaan asing.

Sudarmoto menjelaskan, Afganistan, dalam sejararahnya yang panjang memang antara lain diwarnai oleh invasi dan penakulukan Inggris, Uni Soviet dan terakhir AS. Tentu banyak alasan mengapa tiga negara itu menginvasi Afganistan dan alasan utamanya ialah politik dan ekonomi.

“Sepanjang itu juga rakyat dan bangsa Afganistan melakukan perlawanan untuk membebaskan diri agar menjadi negara dan bangsa yang berdaulat mengatur dirinya,” katanya kepada TIMES Indonesia, Jumat, 27 Agustus 2021.

Menurut dosen pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta ini, perlawanan-perlawanan itu, seperti yang terjadi di Indonesia misalnya, digencarkan oleh kekuatan-kekuatan rakyat antara lain ialah Taliban yang berjuang selama 20 tahun terakhir untuk mengakhiri dominasi Amerika dan NATO.

Perjuangan Taliban ini berhasil yang ditandai dengan penarikan pasukan AS dan NATO dari Afganistan, meskipun bekum semua, dan pendudukan kota-kota termasuk terakhir Kabul.

Jadi, fenomena Taliban kali ini adalah adalah fenomena nasionalisme Afganistan yang paling utama diarahkan untuk membebaskan diri dari kekuasaan asing menjadi negara dan bangsa yang berdaulat. Menurutnya, Taliban saat ini telah menunjukkan gesture politik yang sangat positif. Ini terlihat dengan nyata antara lain dari pemberian amnesti secara umum, pernyataan tidak akan ada lagi peperangan karena AS dan sekutunya sebagai musuh utama telah keluar dari Afghanistan.

Sejumlah  janji lain misalnya menegakkan HAM dan memberikan ruang lebar bagi peran public perempuan juga merupakan gestur politik positif yang penting dari Taliban.

“Gesture dan janji politik Taliban yang dinyatakan secara terbuka segera setelah penaklukan ini, memberikan gambaran terang kecenderungan sikap “moderat” dan “terbuka” dalam kepemimpinan Taliban saat ini,” terangnya.

Ia menyampaikan, transformasi penting telah terjadi dalam kepemimpinan Taliban yang sudah barang tentu harus tetap dibuktikan secara nyata. Agenda terdekat Taliban saat ini ialah rekonsiliasi nasional untuk membentuk sebuah pemerintahan bersama yang terbuka atau tidak didominasi oleh Taliban.

“Negosiasi dengan berbagai pihak sudah dilakukan meskipun tidak terlalu mudah, dan bahkan dengan pihak CIA meskipun untuk agenda lain,” tandasnya. [ ]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed