by

Menghina Sesama Bukan Ajaran Agama

Oleh: Thalia Dwita Cahyani

 

Dewasa ini manusia seringkali dihadapkan dengan berbagai permasalahan besar menyangkut fenomena sosial. Keadaan ini memperlemah kondisi bangsa, termasuk kerukunan nasional. Imbasnya, kerukunan antarumat beragama juga mengalami degradasi yang memprihatinkan. Meskipun konstitusi dan peraturan perundang-undangan lainnya telah menjamin tegaknya kebebasan beragama, namun masih saja terdapat tindakan pelanggaran kebebasan beragama yang berujung pada konflik yang kerap sekali ditemukan di Indonesia, baik konflik antar penganut agama yang berbeda ataupun antar sesama penganut suatu agama.

Salah satu konflik yang mewarnai dunia akhir-akhir ini adalah pluralisme keagamaan. Pluralisme merupakan sebuah fenomena yang tidak mungkin dihindari. Manusia hidup dalam pluralisme dan merupakan bagian dari pluralisme itu sendiri, baik secara pasif maupun aktif, tak terkecuali dalam hal keagamaan.

Pluralisme keagamaan merupakan tantangan khusus yang dihadapi agama-agama dunia. Setiap agama muncul dalam lingkungan yang plural ditinjau dari sudut agama dan membentuk dirinya sebagai tanggapan terhadap pluralisme tersebut. Jika tidak dipahami secara benar dan arif oleh pemeluk agama, pluralisme agama akan menimbulkan dampak, tidak hanya berupa konflik antarumat beragama, tetapi juga konflik sosial dan disintegrasi bangsa.

Padahal, agama memiliki fungsi pemupuk persaudaraan dan fungsi tersebut telah dibuktikan dengan fakta-fakta kongkret dari zaman ke zaman, namun di samping fakta yang positif itu terdapat pula fakta negatif, yaitu perpecahan antarmanusia yang  bersumber pada agama.

Secara normatif-doktriner agama selalu mengajarkan kebaikan, cinta kasih dan kerukunan. Tetapi kenyataan sosiologis memperlihatkan sebaliknya, agama justru dijadikan sumber konflik yang tak kunjung reda, baik konflik intern maupun ekstern,  misalnya  bentrokan antara umat Kristen Gereja Purba dengan umat Yahudi, umat Kristen penganut agama Romawi (agama kekaisaran) dalam abad pertama sampai abad ketiga.

Baca Juga: Darul Islam, Darul Harb dan Darussalam

Jenis konflik ini terjadi bukan berasal dari factor agama melainkan dari factor ekonomi/keuangan, politik dan social yang kemudian diagamakan. Banyak tokoh agama atau masyarakat yang masih memiliki kurangnya kesadaran sebagai tokoh dan umat beragama, masih adanya kesalahpahaman mengenai informasi diantara pemeluk agama, penistaan terhadap agama, dan adanya paham radikal di antara masyarakat dan disebagian kecil kelompok agama.

Sejauh konflik dibenarkan dengan alasan relegius, orang yang bersangkutan itu sebenarnya justru tidak setia pada iman dan agamanya. Agama diperalat, nama Tuhan dihinakan oleh egoisme dan kesombongan kolektif. Fenomena demikian sebenarnya bukan lagi atas nama agama, karena agama pada esensialnya adalah sikap menyembah, tunduk dan rendah hatipada yang transenden.

Faktor-faktor Penyebab Konflik antarumat Beragama:

  1. Truth Claim, Kecenderungan umat beragama berupaya membenarkan ajaran agamanya masing-masing, meskipun ada yang tidak paham terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam agama yang dibela tersebut. Namun semangat yang menggelora kadangkala telah merendahkan orang lain yang tidak sepaham dengannya meskipun berasal dari satu agama. Harus diakui keyakinan tentang yang benar itu didasarkan pada Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Pluralitas manusia menyebabkan wajah kebenaran itu tampil beda ketika akan dimaknakan. Sebab perbedaan ini tidak dapat dilepaskan begitu saja dari berbagai referensi dan latar belakang orang yang meyakininya. Mereka mengklaim telahmemahami, memiliki, bahkan menjalankan secara murni terhadap nilai-nilai suci itu.
  2. Para pemimpin agama seolah mewakili Tuhan, banyak masyarakat di Indonesia yang percaya bahwa para pemimpin di Indonesia ini mereka seolah berbicara mewakili Tuhan dan oleh karena itu tidak boleh dibantah oleh siapapun.
  3. Doktrin Jihad, Pasca bom Bali I banyak orang tersentak ketika Imam Samudra, tersangka utama bom Bali, mengeluarkan pernyataan mencengangkan di hadapan wartawan. “Ini adalah perjuangan suci (jihad), bukan perjuangan hina. Insya Allah, Allahu akbar!” Tentu saja, pernyataan Imam Samudra tersebut menyisakan banyak pertanyaan dalam pikiran semua orang tentang konsep jihad dalam Islam. Dalam agama memang dikenal konsep jihad, namun bukan jihad sebagaimana yang dipahami oleh Imam Samudra seperti di atas, yaitumembunuh orang yang tidak berdosa karena disebabkan oleh doktrin-doktrin tertentu.

Konflik agama yang terjadi dalam bentuk apapun tidak dapat dibenarkan, karena sebagai sesama manusia secara agama memiliki kedudukan dan tingkatan yang sama, hanya sebagai penumpang di bumi yang suatu saat akan pergi.

Semua orang tidak diberikan kesempatan untuk merendahkan ataupun merasa paling tinggi. Selain itu pedoman kehidupan tentang ‘timbal balik’ juga patut untuk dijadikan dasar mengapa manusia harus saling rukun dan damai. Indonesia sendiri sebenarnya diakui oleh dunia sebagai kiblat toleransi dalam beragama. Tapi  sebaliknya justru di Indonesia sering terjadi konflik antar agama dan sering kita jumpai juga menggunakan kekerasan dalam masyarakat.

Persoalan konflik antarumat beragama yang terjadi di Indonesia tidak bisa dipahami dan ditangani secara terisolasi. Gejala kekerasan antarpemeluk agama tidak bisa dilepaskan dari persoalan-persoalan asasi yang muncul di masyarakat, bangsa dan negara yang sedang mengalami krisis multidimensional. Perdamaian adalah harapan setiap orang. Perdamaian tidak berarti membuat orang harus menghindari dari konflik, atau dari perbedaan, tetapi justru menghargai perbedaan.

Baca Juga: Penyelesaian Konflik Antar Suku di Lampung Tengah

Dalam hal ini pentingnya kemampuan masyarakat untuk menghargai keanekaragamaan, kemajemukan dan mengelola konflik. Konteks ini, pluralitas masyarakat merupakan realitas manusiawi, konflik menjadi sebuah logika yang tidak bisa ditolak, dan perdamaian harus dilakukan. Masalah konflik agama menjadi tanggungjawab bersama, bukan hanya di kalangan yang bersangkutan tetapi juga perlu adanya kerjasama dari pihak pemerintah untuk mewujudkan kerukunan antarumat beragama

Beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahan penghinaan antar umat beragama adalah sebagai berikut :

  1. Dialog teologis yaitu salah satu dialog tentang keagamaan antara para pemuka agama yang bersangkutan dengan masing-masing agama.
  2. Dialog intelektual, yakni dialog kalangan akademisi yang mumpuni dalam menyelesaiakan persoalan konflik (bukan orang awam).
  3. Pendekatan kultural merupakan aspek penguatan ideologi negara secara terbuka dan sosialisasi nilai-nilai yang menekankan pada penghormatan terhadap HAM.
  4. Pendekatan hukum, yakni berupa penegakan norma-norma hukum yang mengandung azas keadilan dan kepastian secara konsisten
  5. Pendekatan struktural yang menekankan pada aspek rasional, baik pada tingkatan lembaga-lembaga negara, masyarakat, juga penyusunan dan pelaksanaan program pembangunan.

 

Sudah saatnya umat beragama mengkaji ajaran agamanya secara benar dan kritis, tidak terjebak pada persoalan-persoalan yang formalistik dan bersifat simbol belaka. Sementara substansi ajarannya yang penuh perhatian terhadap persoalan kemanusiaan dan akhlaq- karimah seperti: keadilan, kejujuran dan kedermawanan terabaikan. Apalagi jika kemudian agama direduksi nilainya dengan menempatkan posisi agama sebagai alat legitimasi aktivitas politik dan kekuasaan.

Pada saat seperti ini  agama tinggal sebuah simbol kekuasaan yang kehilangan makna substansialnya. Oleh sebab itu, umat beragama perlu merenungi kembali persoalan ini. Bagaimana agama bisa menjadi kekuatan moral dan spirit umat untuk melakukan aksi yang selalu bermanfaat  bagi orang lain, bukan sebaliknya merusak tatanan  sosial.

Sebetulnya musuh agama adalah ketidakadilan dan ketimpangan sosial. Kalau masih ada ketidakadilan dan ketimpangan sosial di muka bumi ini maka menjadi tanggung jawab semua umat beragama. Karena pada dasarnya semua agama tidak menghendaki segala macam bentuk kejahatan.

Di sinilah letak kebenaran universal agama itu. Semua ajaran agama menghendaki wujud kebaikan di masyarakat dan menentang semua bentuk kezaliman. Semua agama mengajarkan umatnya untuk saling menghargai, menghormati dan menduduki kehidupan didunia dengan damai. Sehingga tidak pantas jika sebagai sesama manusia yang beragama dan meyakini agamanya menghina agama orang lain yang hakikatnya hidup di strata yang sama. Apalagi sampai membawa embel-embel agama, menjual nama tuhan atau kebenaran. Menganggap dirinya mulia dan paling benar. Berdalih agama dan membenarkan segalanya.

 

Oleh: Thalia Dwita Cahyani, Siswi SMAN 1 Pontianak

 

Sumber Referensi

  1. Dewantara, A. (2017). Filsafat Moral (Pergumulan Etis Keseharian Hidup Manusia).
  2. Amal, Taufik Adnan. “Doktrin Jihad Banyak Disalahartikan”, dalam islamlib.com, akses tanggal 6 April 2014.
  3. Effendy, Bahtiar. Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan. Yogyakarta: Galang Press, 2001
  4. https://www.uin-malang.ac.id/r/131101/solusi-mencegah-konflik-antarumat-beragama.html
  5. https://artikula.id/muslim/konflik-agama-dan-upaya-mewujudkan-perdamaian

 

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed