by

Menghargai Perbedaan dengan Persahabatan dan Persatuan

Oleh: Bonifacius David Hendrawan

Ini adalah cerita dan kisah tentangku berawal dari kegiatanku dari aku bangun tidur kemudian aku mandi, sarapan dan aku bersiap berangkat sekolah.  Dan bagaimana pengalamanku serta cerita hidupku belajar tentang menghargai perbedaan, tantangan dalam hidupku tentang bagaimana seharusnya aku memberikan sudut pandang dalam berperilaku di tengah masyarakat yang berbeda.

Tiba disekolah aku bertemu teman sekelas yaitu Yudha , Wiwit , dan Salsa. Kami dalam satu kelas  berbeda agama tetapi kami saling menghargai, tidak ada yang saling membenci diantara kami. Rasanya tidak ada jarak diantara kami meskipun kami berbeda agama. Saat itu aku merasa bahwa kegiatan ini merupakan hal biasa, sampai aku sadar bahwa ternyata sejak kecilpun aku telah menerapkan sikap hidup toleransi, hingga menjadikan toleransi agama adalah hal yang sudah biasa.

Setiap harinya sebelum aku memulai pelajaran aku terbiasa bersenda gurau, hingga akhirnya Bu Diana guru walikelas  masuk kekelas. Suatu Ketika Bu Dian dan memberitahukan bahwa kelas kami akan mengadakan ujian kelompok. Kamipun sebenarnya sedikit bingung, tapi juga kita senang sekali karena bisa mengenali kepribadian masing masing melalui belajar kelompok,

Setelah pembelajaran selesai kita mengobrol sebentar menunggu waktu pulang sekolah. Bel tanda panggilan sekolah berbunyi ,kami sudahi obrolan itu bersiap untuk pulang kerumah. Keesokan harinya aku melakukan kegiatan rutinku seperti biaanya bersiap ke sekolah dan menikmati pelajaran di seklah.

Namun pada suatu waktu aku mendengar cerita kalau anak ada ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) yang dipandang rendah derajatnya karena kondisi fisik yang dimilikinya. Semua orang memandang rendah ABK yang aku kenal itu. Perkataan jahat itu ertama kali kudengar dari cerita yang dituturkan oleh adikku.

Baca Juga: Dialog Khusus: Pancasila di Mata Milenial

Menurut adikku bahkan awal dari sikap merendahkan orang sekitar, berasal dari doktrin guru tari di sekolah yang juga merendahkan ABK tersebut.  Bagi Sebagian orang yang tidak bisa menghargai perbedaan, ABK adalah minoritas dengan kebutuhan khusus yang hanya hidup untuk menyusahkan orang lain. Seharusnya pemikiran kolot seperti itu sudah tidak ada di bumi pertiwi. Pemikiran rendah seperti itu, jelas merupakan bibit dari sikap intoleran dan inklusif.

Tapi beruntungnya aku tidak perduli dengan kata orang kalau anak ABK itu gak guna dan percuma hidup kalau cuma bisa menyusahkan orang. Aku malah bangga karena aku bisa ketemu teman-teman yang senasib denganku, aku juga bisa paham kalau anak berkebutuhan khusus gak seburuk yang dipikirkan orang orang diluar sana.

Anak berkubutuhan khusus sama saja seperti anak lain, kami memiliki cita-cita dan harapan. Anak berkebutuhan khusus juga butuh penghargaan untuk dihargai keberadaaanya. Meskipun tampak luar ABK berbeda pada dasarnya setiap manusia sama dan istiewa, karena diciptakan oleh Tuhan YME dan menjadi makhluk kesayangann-Nya.

Dalam semua agama manusia diajarkan untuk mencintai, lalu apa beratnya belajar mencintai sesame manusia? Mau bagaimanapun kondisi dan situasi yang dia miliki dalam hidup. Kita harus terus menerapkan sikap tolernasi dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama.Dan untuk dapat memeulainya kita harus lakukan semua hal itu dari diri kita sendiri. Ketika semua orang menerpakan toleransi, maka bumi pertiwi kita akan selalu damai dengan penerapan kehidupan toleran.

Sebulan kemudian kamipun naik kelas dan aku bercita cita ingin melanjutkan kejenjang perkuliahan dan tujuan kami hanya satu yaitu membuat bangga orangtuaku, itulah kegiatanku sehari hari. Karenanya ku selalu berusaha untuk terus menghargai pernedaan dengan persahabatan dan persatuan.

 

Penulis: Bonifacius David Hendrawan

Editor: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed