by

Menghadirkan Kerajaan Surga

Oleh: Matius Panti, S.E. (Pembimas Katolik Provinsi Sulawesi Tengah)

Penglihatan Daniel mengisyaratkan kedatangan Anak Manusia. Anak Manusia itu melambangkan seorang tokoh tertentu. Kepada Anak Manusia itu diberikan kekuasaan, kemuliaan, dan kekuasaan sebagai raja. Kekuasaannya tidak akan lenyap dan kerajaan yang tidak akan musnah. Dalam Perjanjian Baru, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Anak Manusia.

Sesudah semua kerajaan dunia hancur lebur, diganti kerajaan baru yang tak berkesudahan di mana Allah sendiri yang menjadi Raja, itulah Kerajaan Surga. Kerajaan Surga ini menjadi pewartaan Yesus dalam masa pelayanan-Nya di dunia. Dalam kerajaan ini Allah memerintah atas bangsa terpilih dan orang kudus.

Kerajaan Allah tak lepas dari rongrongan pemberontakan, yakni dosa. Sehingga, perlu ada pemulihan yang di dalamnya Allah sendiri langsung turun tangan. Melalui Mesias, Allah hadir untuk membebaskan manusia dari dosa yang diproklamasikan oleh Yohanes Pembaptis.

Kehadiran sang Mesias mewujudkan kehadiran Allah sebagai Raja ternyata bukan sebagai pejuang nasionalis seperti yang diharapkan oleh banyak orang. Mesias datang untuk memenangkan pertarungan rohani melawan si jahat. Sebagai Anak Manusia, melalui karya penebusan di kayu salib, Ia membebaskan manusia dari jeratan pengaruh dosa.

Kekuasaan dan Kerajaan Anak Manusia ditegaskan kembali dalam Kitab Wahyu. Yesus Kristus sebagai Anak Manusia menjadi Alfa dan Omega, yang ada, dan yang sudah ada, dan yang akan datang, Ia adalah Yang Mahakuasa. Kekuasaan-Nya membuat semua bangsa melihat kepada-Nya. Dia mengasihi kita dan melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya.

Dialog antara Yesus dan Herodes dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan kita akan pertanyaan oleh para ateis masa kini, pun mereka yang mulai terkikis kepercayaannya kepada Mesias. Warta bacaan minggu ini mengantar kita akan pengetahuan dan kesadaran tentang Yesus dan misi-Nya. Tetapi sayangnya kebenaran yang disampaikan oleh Yesus tidak membuka cakrawala berpikir Herodes, meski dia juga telah mendengar langsung dari Yesus. Kerajaan-Nya abadi, tidak silih berganti, timbul tenggelam seperti kerajaan-kerajaan dunia yang diperintah manusia.

Baca Juga: Memenuhi Misi Allah di Dunia

Perbedaan antara kerajaan dunia dan Kerajaan Allah pantas untuk disadari kembali. Kerajaan dunia tidak kekal, tidak tahan terhadap godaan-godaan yang mengganggu hubungan manusia dengan sesama, alam, dan terlebih Pencipta-Nya. Kerajaan Allah ditampilkan sebagai kerajaan kekal, di mana tiada derita dan kesusahan, semua orang kudus mengabdi kepada Allah Sang Raja, yang memiliki kekuasaan tak terbatas.

Kontras ini pula menjadi dorongan semangat bagi orang beriman yang sedang berjuang mempertahankan iman-Nya di tengah serbuan berbagai hal yang tidak berkenan di hati-Nya. Di tengah zaman yang maju dan pemikiran yang sering dikatakan lebih maju pula, terdapat benturan ide antara dunia dan surga.

Dunia itu adalah kekayaan, kemudahan, kenikmatan, kenyamanan, dan kekuasaan. Sebaliknya, surga untuk mencapainya perlu perjuangan, semangat ugahari, laku tapa, salib, penderitaan, sepertinya untuk masuk kerajaan-Nya harus bersusah-susah dahulu. Bandingkan percakapan Yesus dengan seorang muda dalam Mat. 19:1-12, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah.

Tentu saja tiada larangan bagi manusia untuk menjadi kaya, nyaman, berkuasa, memiliki fasilitas. Tetapi kita diingatkan untuk melihat cita-cita yang lebih mulia, yakni kehidupan surgawi. Kekayaan, kenyamanan, fasilitas, menjadi sarana bagi kita untuk mencapai cita-cita tersebut. Kemajuan zaman dan pemikiran dan ide yang lebih maju pun seharusnya mendorong manusia untuk melihat Allah dan kerajaan serta kekuasaan-Nya. Dengan seluruh keberadaannya, entah memiliki kemampuan lebih atau keterbatasan, manusia menghadap hadirat Allah.

Pada hari ini peringatan atas kehidupan surgawi kembali digaungkan. Perayaan Kristus Raja diadakan dengan latar belakang untuk menantang atheisme dan hidup sekular yang merajalela di zamannya. Zaman kita pun tantangan-tantangan ini tetap nyata. Kemajuan teknologi digital memberi efek positif tak sedikit pula negatifnya. Hendaknya kita menjadi bagian dari orang yang berasal dari kebenaran, maka kita akan mendengarkan suara-Nya. Kita yang mendengarkan suara-Nya akan melakukan apa yang Ia perintahkan.

 

Matius Panti, S.E. (Pembimas Katolik Provinsi Sulawesi Tengah)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed