Menghadapi Penolakan Dengan KASIH Lukas 4:21-30

Kabar Utama318 Views

Pdt. Iswari Setyanti

Pernahkah kita berharap, dan harapan kita tidak terwujud? Pernahkah kita berharap kehadiran kita diterima oleh orang-orang yang kita datangi, dimana kita hadir? Apa yang akan dilakukan ketika harapan-harapan kita tidak terwujud? Tidak terwujudnya harapan bisa  mendatangkan kekecewaan.

Perasaan ditolak itu juga menyakitkan. Entah ditolak oleh keadaan atau seseorang/sekelompok orang. Seorang mahasiswa mengharap lulus tepat waktu, namun karena alasan tertentu, skripsinya ditolak oleh dosen pembimbingnya, akhirnya kelulusannya terlambat.

Seorang pedagang mengharapkan dagangannya mendatangkan untung, namun karena dagangan ditolak oleh customer akhirnya tidak laku, keuntungan yang diharapkannya akhirnya lenyap. Kecewalah hati pedagang itu.

Selain dua contoh itu, dalam kehidupan kita masih banyak contoh tentang kekecewaan-kekecewaan yang dialami karena penolakan. Kekecewaan karena penolakan yang tidak diatasi akan membuat orang berpandangan pesimis tentang masa depan, sebaliknya jika bisa diatasi akan membangkitkan harapan.

Jika kekecewaan itu terjadi karena penolakan seseorang kepada kita, maka Kekecewaan juga bisa berlanjut/menyebabkan kita menolak orang lain, sebaliknya penolakan yang tidak bisa diatasi bisa menimbulkan kekecewaan, bahkan trauma dan keenganan untuk melangkah dan bertindak, tergantung dari kadar kedalaman dari penolakannya.

Dalam penjelasannya Abraham Maslow menyampaikan bahwa kebutuhan manusia tidak hanya kebutuhan fisiologis (makan, minum, pakaian, rumah tinggal dsb), namun juga kebutuhan kasih sayang, penghargaan ataupun penerimaan dan aktualisasi diri.

Pada dasarnya setiap manusia ingin diterima, tidak kecewa atau mengalami penolakan disekitarnya. Jika flash back 5 Tahun 11 Bulan yang lalu pada Bulan Maret 2016 saya merasakan penerimaan jemaat dan MJ GKI Pamulang ketika saya hadir diteguhkan sebagai Pdt Jemaat GKI Pamulang.

Penerimaan itu adalah cikal bakal kepercayaan sehingga saya bisa melayani bersama jemaat hingga saat ini. Melalui Firman Tuhan ini kita belajar bagaimana menyambut Tuhan Yesus dengan hati yang terbuka dan meneladani Cara Yesus Untuk Menerima Semua Orang, serta Menghadapi Penolakan dengan KASIH.

 

  1. Jangan Menolak Siapapun: Lihat Apa yang diKatakan, Bukan Siapa yang Mengatakan.

4:16 Ia datang ke Nazaret  tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. 

Yesus datang ke Nazaret disebutkan sebagai tempat dimana Dia dibesarkan. Bukankah lembali ke kampung halaman bisa menimbulkan kenangan atau memori indah? karena bisa mengingat pengalaman masa kecil yang berkesan dan sukacita?

Lazimnya jika orang yang sudah berhasil di perantauan lalu pulang ke kampung halamannya, maka akan dielu-elukan sebagai putra/putri daerah yang dianggap berhasil mengharumkan tempat tinggal asalnya. Bahkan beberapa orang ada yang disambut seperti pahlawan.

Di tempat asalnya Yesus pulang kampung juga melakukan kebiasaan yaitu masuk rumah ibadat dan membaca dari Alkitab. Bagian yang dibaca adalah dari kitab Yesaya seperti yang dikatakan dalam ayat sebagai berikut: 4:17

Baca Juga: Hidup dalam Tuntunan Kasih

Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: 4:18 “Roh Tuhan ada pada-Ku , oleh sebab Ia telah mengurapi Aku , untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku  4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan   telah datang.”

4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. 4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah   nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” 

Yesus berbicara tentang penggenapan nast tersebut. Penggenapan artinya pleroo, yang maknanya bahwa Yesus membuat penuh dari nubuat tersebut. Janji Allah yang digenapi dan dipenuhi terwujud secara penuh, total dalam diriNya.

Inilah yang merupakan pangkal dari penolakan, bahwa Yesus menyatakan dan mengaminkan bahwa diriNya adalah pemenuh penggenapan nubuat Nabi Yesaya tentang kedatangan Mesias yang diurapi TUHAN ALLAH, yang menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, membawa berita pembebasan kepada orang-orang tawanan.

Kedatangan Yesus membawa kabar baik adalah tentang pemerintahan Allah dan kerajaan Allah yang hadir melalui keselamatan yang dikaruniakanNya bagi yang percaya kepadaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat.

4:22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata  mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” 

Kata yang dipakai untuk heran adalah thaumazo yang artinya heran, takjub dan tercengang. Respon heran, takjub dan tercengang lazimnya memang terjadi karena terpukau atau kagum terhadap apa yang dikatakan Yesus sebagai logos dan pewarta sabda kebenaran dan DIALAH SANG KEBENARAN itu sendiri.

Kata heran, juga bisa diterjemahkan dengan sikap kesal dan marah. Namun ketakjuban mereka tidak membawa pada sikap penerimaan tentang apa yang dikatakan Yesus, mereka justru mempersoalkan siapa Yesus. Mereka menghubungkan Yesus dengan sebutan sebagai anak Yusuf.

Padahal Yesus sedang berbicara tentang penggenapan dari nubuat Kitab Yesaya yang digenapai dalam hidupNya. Yesus menjelaskan tentang misi Kerajaan Allah, namun pendengarnya merespon dari unsur silsilah Yesus secara manusiawi. Sikap ini bisa dikatakan penolakan karena tidak memahami inti pesan tentang siapakah Yesus dan misi kedatanganNya ke dunia. Jadi orang-orang yang mendengar perkataan Yesus ini marah, meskipun mereka mendengar kata-kata indah tentang Karunia Allah.

Jika kita bandingkan dengan Firman Tuhan lainnya, Apa makna kedatangan Tuhan bagi kita di zaman ini, apakah kedatanganya diterima atau ditolak? Tuhan Yesus mengatakan Matius 11;6 ,”Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku”.

Kata kecewa dan menolak dipakai kata scandalizo yang artinya kekecewaan yang dalam yang pada akhirnya membuat menentang, menyangkali iman kepada Tuhan Yesus. Di sini kita menemukan pesan bahwa mereka yang berbahagia adalah yang tidak kecewa dan menolak Tuhan Yesus.

Mengapa orang menjadi kecewa pada Tuhan Yesus? Ada orang menjadi kecewa terhadap Tuhan karena mereka tidak sabar melihat Tuhan bertindak. Orang-orang yang tidak sabar akan memaksakan kehendaknya sendiri. Ketika semua yang diinginkan tidak didapatkan, seseorang bisa menjadi marah dan kecewa.

Dari dulu hingga saat ini, sangat banyak orang menjadi kecewa pada Tuhan dan karena itu meninggalkan Tuhan dan imannya. Pertanyaannya, apakah Tuhan mengecewakan kita? Jawabnya: tidak. Sepanjang masa, Tuhan Yesus tidak pernah mengecewakan. Manusialah yang kurang sabar menunggu Tuhan bertindak. Kurangnya kesabaran menjadikan manusia menjadikan gegabah, memaksakan kehendak bahkan menolak Tuhan.

 

  1. Hadapi Penolakan dengan Penjelasan dan Kesabaran Bukan Perbantahan

 

Penolakan bisa menimbulkan perbantahan, pertengkaran, permusuhan, pekelahian dsb. Jika penolakan tidak disikapi dengan kepala dingin dan hati yang jernih. Tuhan Yesus menyikapi penolakan diriNya dengan penjelasan dan kesabaran. Tuhan Yesus menghindari perbantahan yang tak berguna.

Yesus menjelaskan tujuan kehadiranNya dengan perumpamaan/parabole/symbol bahwa seperti seorang tabib yang diminta menyembuhkan penyakitnya sendiri, sebelum menyembuhkan orang lain. Yesus diminta untuk membuat mujizat di Nazareth tempat asalnya seperti DIA membuat mujizat di Kapernaum. 4:23 Maka berkatalah Ia kepada mereka: “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!  “

 

Jawaban Tuhan Yesus dengan penjelasan dan kesabaran bahwa pola “nabi tidak dihargai di tempat asalnya” 4:24 Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Yesus menyebutkan dua contoh Nabi Tuhan yang tidak dihargai ditempat asalnya yaitu Elia dan Elisa.

Elia dan Elisa membuat mujizat di daerah Tirus dan Sidon yang notabene adalah daerah penduduk yang bukan Yahudi.  4:25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. 

4:26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.   4:27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.  

” Dari dua contoh tersebut Yesus menunjukan bahwa penolakan tidak harus dihadapi dengan perbantahan. Meskipun persoalan itu tidak mengenakkan, Yesus juga mengingatkan kita bahwa penyampaian kabar baik, karunia Allah kadang justru ditolak oleh orang-orang terdekat, orang-orang dalam.

Dengan demikian saat kita ditolak kita tidak kaget dan bertindak reaktif, namun justru mencari cara bijaksana dengan hikmatNya pada akhirnya kelak kita dan berita sukacita yang kita beritakan diterima.

4:28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. 4:29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. 4:30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.  

Yesus merespon penolakan yang makin keras, dengan berjalan lewat dari tengah-tengah mereka lalu pergi. Kita bisa melihat kesabaran dan ketenangan Yesus menghadapi kemarahan dan penolakan orang banyak. Tidak mudah mengontol emosi dan tidak terpancing membalas penolakan dengan kemarahan.

Yesus mengatasi perasaan ditolak dengan melanjutkan karya pelayananNya tanpa mengalami demotivasi/penurunan motivasi karena penolakan orang banyak. Tuhan Yesus menghadapi penolakan respon manusia yang bebal, keras kepala dan tegar tengkuk yang berusaha mencari kesalahan, dan celah mempersalahkan.

Dalam kondisi seperti itu tidak menyurutkan kedatangan dan tujuanNya Tuhan Yesus datang ke dunia dan menerima DIA sebagai Tuhan dan Juruselamat. Permenungan ini mengingatkan kita agar tetap meyakini rencana Tuhan dan tidak menjadi kecewa, apalagi menolak dan meninggalkan Tuhan. Hidup di dunia memang penuh dengan tantangan, bahkan bisa jadi berbagai peristiwa dalam hidup

Refleksi dan Ajakan

  1. Perasaan Ditolak itu tidak enak, oleh karenanya jangan menolak siapapun, terimalah siapapun dalam keadaan apapun. Tugas kita bukan menolak manusia dan sesama, melainkan menerimanya sebagai saudara.
  2. Jika kita ditolak, jangan emosi apalagi naik pitam darah tinggi. Tidak usah melakukan perbantahan, jelaskan dengan kesabaran dan jika penolakan terus menguat tetap lanjutkan karya pelayanan. Gusti mboten sare, Tuhan tidak tidur.
  3. Sabar dan tetap punya ekspektasi yang tepat tentang Tuhan Yesus, Tuhan Juru Selamat kita sehingga kita tak mudah kecewa dan menolak/meninggalkan Tuhan, apapun kondisi dan keadaannya.

 

Pdt. Iswari Setyanti

Pendeta Jemaat GKI Pamulang

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *