by

Menggelorakan Gerakan Cinta Lingkungan Melalui Program Adiwiyata

Kabar Damai | Kamis, 02 Mei 2022

Pontianak I Kabardamai.id I Lingkungan yang bersih dan sehat adalah dambaan semua orang, terlebih isu lingkungan saat ini sudah menjadi hal vital yang harus menjadi perhatian bersama. Gerakan ini dilihat penting sehingga penting dicari solusinya, seperti yang dilakukan oleh SMAN 1 Pontianak yang terus konsisten dengan program adiwiyatanya.

Ditemui disela waktu mengajarnya, Saberta Simarmata, koordinator adiwiyata SMAN 1 Pontianak menyatajkan bahwa ia sudah menjadi koordinator ini sejak tahun 2018, bertepatan dengan semakin seriusnya sekolah dalam rangka melakukan gerakan cinta lingkungan yang lebih intens dari sebelumnya.

Menggelorakan Gerakan Cinta Lingkungan Melalui Program Adiwiyata
Menggelorakan Gerakan Cinta Lingkungan Melalui Program Adiwiyata

“Sejak 2018, kita (SMAN 1 Pontiana-red) Sudah ikut program adiwiyata, mulai dari tingkat kota lalu ke provinsi dan sekarang sudah tingkat nasional,” ujarnya.

Ia menyatakan, dalam prosesnya memang memulai gerakan adiwiyata ini tidaklah mudah. Sebagai contoh, dimana sebelumnya warga sekolah sudah terbiasa membawa dan membuang sampah tidak pada tempatnya yang kemudian disarankan untuk tidak lagi membawa peralatan yang tidak menjadi sampah, membawa tumbler dan tidak membuang sampah sembarangan.

“Awalnya berat, tapi pelan-pelan atas bantuan dari para semua pihak, perlahan semua sudah mulai terbiasa dan terdapat perubahan. Dari yang sebelumnya bisa menghasilkan sampah berdrum-drum tapi sekarang lebih dari lima puluh persen bisa dikurangi sampah yang ada,” ujarnya.

Sedekah Sampah dan Kesadaran Bersama

Memberi pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya peduli dalam hal pengolahan sampah dengan baik dan benar tidak hanya dilakukan di sekolah saja, namun implementasinya juga harus dilakukan di rumah oleh siswa-siswi SMAN 1 Pontianak. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan sedekah sampah.

Sedekah sampah merupakan gerakan dimana siswa diminta untuk membawa sampah dengan kriteria tertentu yang kemudian dikumpulkan secara bersama, hasil sampah yang ada kemudian selanjutnya dijual kepada stakeholder sehingga secara selain memberikan efek bersih pada lingkungan juga kemudian menghasilkan secara perekonomian.

Baca Juga: Quraish Shihab: Harmonisasi Manusia dan Lingkungan

“Melalui gerakan sedekah sampah dengan mengumpulkan sampah yang ada di rumah, dari sampah itu kemudian dapat menghasilakan secara ekonomis dimana anak-anak juga berpartisipasi mengumpulkan sampah ke sekolah,”.

“Selain dijual, sampah yang dikumpulkan juga dapat dijadikan pupuk yang kemudian dijual kembali dan lain sebagainya. Karena kita juga bekerjasama dengan penampungan pengolahan sampah,” jelasnya panjang lebar.

Saberta juga menambahkan, dukungan banyak pihak sangat berarti dalam rangka mewujudkan sekolah yang bersih dan hijau hingga mendapat predikat sekolah adiwiyata nasional yang dikeluarkan oleh Kementerin Dikbudristek serta Kementerian Kehutanan pada akhir 2021 lalu tersebut.

“Semua terlibat dalam gerakan ini, baik siswa para guru, dan semua warga sekolah. Juga orang tua siswa yang secara sukarela menymbangkan tanaman bunga, instansi yang menyumbangkan bibit pohon dan lain sebagainya dalam rangka menciptakan sekolah yang bersih dan hijau,” tuturnya.

Ia menambahkan, sejauh ini terdapat perubahan secara pola pikir hingga perbuatan yang dilakukan oleh siswa melalui himbauan rutin dan pembiasaan yang dilakukan.

Sekolah Adiwiyata Nasional, Bersiap Menjadi Adiwiyata Mandiri

Dalam rangka menjadi sekolah adiwiyata nasional dilakukan dengan proses yang panjang, kata Saberta, terdapat beberapa kriteria-kriteria yang dinilai oleh pemerintah hingga dapat memperoleh predikat layak menjadi sekolah adiwiyata nasional.

“Semua pihak terlibat dalam proses membenahi sekolah agar benar-benar menjadi hijau, bersih dan indah dan apa yang menjadi ciri khas dari sekolah. Misalnya dengan mengembangkan lidah buaya dan mengolahnya, pengembangan anggrek khas Kalimantan, memelihara ikan dari limbah wudhu dan lain sebagainya,” jelasnya.

Setelah menjadi sekolah adiwiyata nasional, SMAN 1 Pontianak kini tengah bersiap dalam rangka menjadi sekolah adiwiyata mandiri. Kini, menurut Saberta, sekolah sedang mempersiapkan dan mencari tiga sekolah binaan yang nantinya akan dibina untuk mengembangkan program adiwiyata pula.

Melihat isu lingkungan sudah menjadi masalah nasional. Saberta berharap agar lebih banyak pihak yang peduli terhadapnya. Dimulai dengan hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dan gerakan lain yang menjadi bukti kepedulian terhadap lingkungan.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed