by

Menggapai Kebahagiaan dan Ketenangan Batin

Kabar Damai | Selasa, 30 Maret 2021

 

Oleh Untung Suhardi

 

Kebahagiaan bukan sesuatu yang baru dan sulit digapai dan dicapai. Sebab, kebahagiaan itu melekat pada diri kita sendiri. Hanya saja, kita sering lupa dan belum mampu menghayatinya karena tertupi oleh Ego. Ego ini berperan sebagai tabir yang menyelubungi kebahagiaan tertinggi dan menyembunyikannya dari pandangan kita. Kita harus merobek tabir/selumbung hingga hancur, maka akan muncullah sifat asli kita yaitu Ananda (kebahagiaan).

Kedamaian batin kita harus alami, dengan berusaha sedapat mungkin mengurangi serta melenyapkan keinginan, hawa nafsu serta kebencian. Berusahalah mengembangkan dan meningkatkan kebenaran, kebajikan, kasih, kesabaran, dan ketahanan menderita. Bersamaan dengan itu, praktik dan lakukan sadhana secara terus menerus. Apabila telah melakukan perilaku keutamaan tersebut, tidak akan ada orang yang merebut atau menyerobot secara egois. Setiap orang akan saling dihormati dan kedamaian dunia akan terpelihara.

Sebaliknya, apabila kita tidak memiliki kedamaian batin pada diri kita sendiri, bagaima bisa kita mewujudkan kedamaian dunia. Jadi untuk mewujudkan kedamaian dunia, kita harus belajar menghayati dan menikmati kedamaian itu dalam diri kita sendiri, barulah kemudian, kita menyebarkan kedamaian tersebut kepada lingkungan sekitarnya dan mengembangkannya.

Dalam Bhagavad-Gita 12:13 dijelaskan bahwa: Advesta sarva bhutanam, maitrah karuna eva ca. Nirmamo nirahamkara, sama dukha-sukha ksami. Dia yang tidak membenci segala makhluk, bersahabat dan cinta kasih, bebas dari keakuan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka, pemberi maaf (Pudja, 2010).

Harus disadari bahwa sifat dasar kita berasal dari sumber yang sama, yaitu Brahman. Dengan demikian, jiwa-jiwa yang ada pada setiap makhluk adalah bagian dari Brahman. Maka hendaklah kita selalu menerapkan sifat-sifat itu dalam kehidupan ini. Sebab, kita mempunyai hubungan langsung dengan unsur-unsur di alam semesta ini: tanah, air, api, udara, dan angkasa.

Baca juga: Harapan yang Membawa Sukacita

Dalam agama Hindu dikenal ajaran Tat Twam Asi yang mengandung pengertian bahwa aku adalah engkau dan engkau adalah aku. Menyakiti makhluk hidup lain, pada dasarnya adalah menyakiti diri sendiri, dan juga sebaliknya. Dari kesadaran inilah, akan tercapai kebahagiaan dan keharmonisan. Sebab, orang sadar dab tahu bahwa sesungguhnya diri kita, orang lain, serta makhluk hidup lainnya adalah bersaudara (Vasudaiva Kutumbhakam). Kita saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, bagaikan satu rumah dengan satu atap dengan sifat dan tempramen yang berbeda, tetapi satu.

Hal ini juga dijelaskan dalam Atharwa Veda III. 30. 1 yang dijelaskan bahwa: Sahrdayam sam manasyam avidvesam krnomi vah. Anyo anyam abhi haryata vatsam jatam ivagh-nya. Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat ketulus ikhlasan, mentalitas yang sama, persahabatan tanpa kebencian, seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, begitu seharusnya kamu mencintai sesamamu (Griffith, 2005).

Kehidupan dalam bingkai kerukunan yang ada dalam agama Hindu jelas dalam tatanan yang berbhineka tunggal ika. Konsep yang ada, tat twam asi, vasudaidewa kutumbhakam, tri hita karana dan serangkaian konsep yang lain hanya sebatas konsep dengan deretan kata-kata indah. Semuanya harus  dijalankan dalam kehidupan. Penerapan nilai-nilai kerukunan yang ada dalam kehidupan ini harus segera dipupuk sejak dini bahwa Indonesia adalah negara Pancasila.

Cinta kasih dan kasih sayang mempunyai makna yang universal, yaitu tidak hanya dilakukan kepada sesama manusia, tetapi kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Untuk menumbuhkan cinta dan kasih sayang, harus dimulai dari individu masing-masing dengan cara menaklukan nafsu, amarah, serakah, irihati, kebingungan dan kemabukan.

Oleh karena itu, marilah kita coba merenung sejenak, bertanya kepada diri sendiri, mengapa aku benci kepadanya, mengapa aku selalu dendam kepadanya, mengapa aku memusuhi dia, kenapa aku dengki kepadanya, mengapa aku iri kepadanya? Sambil merenung, kita harus sadar bahwa di antara kita adalah saudara (vasudaiva kutumbhakam) dan diri kita dengan seluruh makhluk hidup lain adalah sama bahwa aku adalah engkau (Tat Twam Asi). Maka, Setiap timbul dalam pikiran kita benih-benih permusuhan selalu ingat yaitu Satya (kebenaran), Santy (kedamaian), Dharma (kebijakan), Ahimsa (tanpa kekerasan).

 

Untung Suhardi, Rohaniwan Hindu, Pengajar Religious Studies Universitas Prasetya Mulya, Tangerang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed