Menggali Kearifan Agama Lokal

Religipedia140 Views

Kabar Damai | Kamis, 25 Maret 2021

 

Agama lokal tak hanya masih eksis di berbagai daerah di negeri ini, tetapi dari sejumlah agama tersebut juga menyimpan banyak ajaran atau kearifan lokal yang tak kalah bajiknya dengan agama-agama “semitik” yang berasal dari mancanegara.

Berikut adalah potret beberapa agama local di Tanah Air yang masih eksis hingga saat ini:

 

Sedulur Sikep, Jawa Tengah

Komunitas penganut Sedulur Sikep, atau lebih dikenal dengan sebagai masyarakat Samin, disebut merupakan masyarakat petani yang paling banyak diteliti dalam sejarah Indonesia modern. Sejak masa pendudukan Belanda, terdapat puluhan artikel, makalah, dan buku yang membahas masyarakat Sedulur Sikep ini sudah dihasilkan oleh para peneliti, baik dari Tanah Air sendiri maupun dari mancanegara.

Komunitas ini tersebar di berbagai kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mengacu laporan penelitian Jasper (dalam Lance Castle dan Harry J. Benda, The Samin Movement, 1969) yang dilakukan pada tahun 1917, orang-orang Sikep ini mulanya tersebar luas di Rembang, Pati, Kudus, Blora, Grobogan, Bodjonegoro, Ngawi, dan Madiun, dengan konsentrasi terbesar di wilayah Kedungtuban dan Bapangan (Blora). Pada tahun 1907, anggota komunitas Sikep ini dilaporkan sebanyak 3000 orang.

Ajaran Saminisme pertama kali diajarkan di daerah Randublatung (bagian selatan kabupaten Blora) oleh Samin Surontiko, seorang petani kelas menengah, pada pertengahan 1890-an. Ia sendiri dicatat lahir pata tahun 1859 di sebuah desa dekat Randublatung. Mulanya, pemerintah kolonial Belanda tidak begitu memperhatikan gerakan ini karena tidak memberikan ancaman dan persoalan yang serius bagi pemerintah kolonial. Baru ketika ajaran Samin ini menyebar pesat dan memiliki pengikut 300 orang pada tahun 1904, Belanda mulai waspada dan melakukan pengawasan terhadap komunitas ini. Bahkan dalam rentang berikutnya, Samin ditangkap lalu diasingkan ke Padang pada tahun 1907.

Diasingkannya Samin tidak mengekang penyebaran ajaran ini. Ia justru kian berkembang hingga ke Bombang-Bacem yang ditengarai merupakan puncaknya. Sejak masuk tahun 1916, ajaran Samin terus berkembang di dusun ini. Ia dibawa oleh Mbah Jambet.  Ketertarikannya pada ajaran Samin bermula atas kegagumannya pada Proyongadin, seorang warga Sikep asal desa Ngoro, Kudus, yang pernah berguru pada Samin di daerah Tunduran, Blora.

 

Tolotang, Sulawesi Selatan

Masyarakat atau komunitas Tolotang sebagian besar tinggal di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Komunitas ini dalam catatan penelitian,  hidup berbaur dengan masyarakat pada umumnya di sebuah kota kecil bernama Amparita. Jaraknya sekira 231 kilometer dari Makassar. Sebagai sebuah kawasan perkotaan, Amparita tidak punya banyak masalah dengan persoalah insfrastruktur seperti listrik, jaringan telepon, dan jalan.

Sebagian besar warga Tolotang adalah petani. Ada juga yang menjadi peternak, guru, tentara, pengusaha, dan pegawai pemerintahan. Tiadanya ajaran Tolotang yang melarang atau mengharuskan orang untuk menekuni profesi tertentu menjadikan mereka tidak terbatas hanya mengenal satu jenis pekerjaan. Dengan demikian, masyakarat ini sangat terbuka terhadap modernitas. Dalam ajaran Tolotang memang tidak ada larangan khusus terhadap penyerapan bentuk-bentuk kemajuan keduniaan. Identitas Tolotang hanya meliputi sikap kepercayaan dan ritual. Sepanjang kedua hal itu dapat dijaga, maka seseorang tidak akan kehilangan maknanya sebagai seorang Tolotang.

Data sensus tahun 2000,  di seluruh Kabupaten Siderappang terdapat sekira 20.000 orang. Jumlah tersebut terdapat 6.000 orang berada di kecamatan Telu Limpoe. Bugis adalah suku etnis warga Tolotang, juga bahasanya.

Keyakinan masyarakat Tolotang mempercayai adanya Tuhan yang oleh mereka disebut dengan nama Dewata Seuwae. Dalam konsep ketuhanan, masyarakat Tolotang konsep tentang Tuhanh tidak berbeda dengan agama maenstream pada umumnya, yang meyakini Tuhan yang Esa atau monoteisme. Mereka juga menyangkal bahwa masyarakat Tolotang menyembah banyak Dewa. Satu-satunya dewa adalah Dewa Seuwae sebagai Tuhan seru sekalian alam dan pencipta segala.

Menurut kepercayaan orang Tolotang, Dewata Seuwae menurunkan wahyu kepada orang bernama La Panaungi yang kemudian mengajarkannya kepada I Pabbere. Ajaran dan petuah tersebut termaktub dalam lontara bernama Apongenna Tolotange. Ini merupakan satu-satunya lontara yang diklaim sebagai kitab suci oleh komunitas Tolotang.

Kitab ini berisi silsilah dan asal-usul komunitas Tolotang disertai sejumlah petuah dalam menjalani hidup. Sayangnya, Lontara ini dikabarkan telah lenyap akibat kebakaran besar yang melanda perkampungan Amparita pada tahun 1966.

Belum ditemukan penjelasan, dengan tiadanya Lontara yang diyakini oleh komunitas Tolotang  sebagai kitab suci ini lalu bagaimana cara mereka mempelajari ajaran-ajaran Tolotang saat ini.

Selain memiliki kitab suci, orang Tolotang juga mempercayai adanya hari kiamat. “Orang setelah mati ya akan mendapatkan balasan dari apa yang diperbuatanya di dunia. Jika baik akan mendapatkan ketengangan,” terang seorang informan pada Heru Prasetia,  peneliti masyarakat Tolotang.

 

Parmalim, Sumatra

Sejumlah komunitas yang tinggal terbentang dari Aceh Tengah di sebelah utara, Asahan di sebelah timur dan Barus di sebelah barat, menyebut diri mereka Parmalim. Di antara komunitas yang mengklaim Parmalim itu pun terdapat sejumlah perbedaan antara satu dengan lainnya, mulai dari soal ritual hingga kepentingan politik.

Dalam karya tesis masternya (1994: 49), Truman Maruli Sihombing membagi Parmalim ke dalam empat kelompok utama: (1) Parmalim yang bermarkas di Hutatinggi di bawah pimpinan Raja Mulia; (2) Malim Sumomba (penyembah Malim) yang berpusat di Sigaol; (3) Malim Putih yang ada di Balige; (4) Malim Beringin Batak yang berpusat di Pulau Samosir. Kempatnya memiliki organisasi dan ajaran yang berbeda. (M. Uzair Fauzan, “Berebut Kapling untuk Tuhan: Minoritasi Parmalim dalam Konflik Pembangunan Tempat Ibadah”, dalam Mashudi Noorsalim, M. Nurkhoiron, Ridwan Al-Makassari (ed), Hak Minoritas: Multikulturalisme dan Dilema Negara Bangsa (Jakarta: Yayasan Interseksi, 2007), h. 118). Sayangnya data ini tak menjelaskan lebih jauh pembedaan-pembedaan yang ada di keempat aliran Parmalim tersebut.

Secara khusus, dalam tulisan ini akan memfokuskan diri pasa satu komunitas Parmalim yang berpusat di Huta Tinggi, Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Komunitas ini menyebut ajaran yang mereka yakini sebagai Ugamo Malim, sementara Parmalim sendiri bagi mereka pada intinya merujuk pada identitas personal. Memang, bagi masyarakat kebanyakan, Parmalim sebagai idetitas pribadi jauh lebih populer daripada Ugamo Malim.

Menurut Ir. Monang Naipospos, sebagaimana dikutip Uzair Fauzan, sekretaris Pengurus Pusat Parmalim Bale Pasogit Partonggoan Huta Tinggi, kata ugamo sebetulnya tidak bisa disepadankan maknanya dengan agama. Menurutnya, ugamo harus dipahami dalam konteks tiga bagian penting tradisi Batak. Ketiganya adalah ugari (pengaturan hubungan sosial kemasyarakatan), ugasan (pengaturan kepemilikan, mana milik pribadi, mana milik komunal), dan ugamo yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Khalik. (Ibid, 119)

Dalam sistem keagamaannya, komunitas ini mengenal Tuhan Yang Maha Esa yang disebutnya sebagai Debata Mulajadi Nabolon. Tuhan lalu menciptakan Debata Natolu (Debata yang tiga) yang terdiri dari dewa Bataraguru yang memiliki “otoritas” dalam persoalan uhum (hukum) dan harajaon (kerajaan/kepemimpinan), dewa Sorisohaliapan yang menurunkan ajaran hamalimon (keagamaan/nilai-nilai kebaikan), dan dewa Balabulan yang bertugas memberikan penerangan dan peramalan (panurirangon), ketabiban (hadatuon), dan kekuatan (hagooon) kepada manusia. Selain ketiga dewa tersebut, masyarakat Parmalim juga memiliki dewa-dewa lainnya yang harus disembah dan juga raja-raja yang dipahami bukan hanya sebagai pemimpinj politik, tetapi juga pemimpin spiritual.

Idealnya  ugamo, ugari, dan ugasan harus dipahami dan dipraktikkan sebagai satu kesatuan, namun dalam kenyataannya Ugamo (Malim) mulai muncul relatif terpisah dari dua komponen sistem nilai lainnya manakala masyarakat Batak dihadapkan pada ancaman kepunahan tradisi karena kehadiran para penginjil (zending mission) dan pemerintah kolonial Belanda yang diyakini berbagi kepentingan dengan masyarakat Parmalim. Menurut Uzair, di antara kelompok penginjil yang paling sukses meraih keberhasilan, terutama pada era Ludwig Nommensen berdinas di Sumatra, yang kemudian berkembang menjadi Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Komunitas pengikut Ugamo Malim ini sekarang tak hanya berada di Sumatra Utara, melainkan sudah tersebar di seluruh Tanah Air. Angka penyebaran yang meningkat ini dipengaruhi oleh adanya semangat manombang, yaitu semangat merantau untuk memeroleh kehidupan yang lebih baik, yang juga tertanam kuat dalam komunitas ini. Manombang ini ditopang oleh pandangan hidup komunitas Parmalim yang membuka diri terhadap perkembangan jaman yang baru, asalkan tidak meninggalkan nilai-nilai spiritual Batak.

 

Madrais, Cigugur-Kuningan

Ajaran Madrais/AKUR yang didirikan oleh Ki Madrais atau Pangeran Sadewa Alibasa Kusuma Wijaya Adiningrat mengalami perkembangan signifikan karena adanya keleluasaan bagi para pengikutnya untuk mengamalkan ajaran tersebut. Ajaran ini lebih mengedepankankan aspek budaya (adat) daripada aspek kepercayaan. Pemerintah sebagai pemangku negara  telah memberikan pelayanan hak-hak sipil pengikut Madrais sebagai implementasi UU nomor 23/2006 dan PP 37 tahun 2007.

Madrais merupakan anak dari Pangeran Alibasa (Pangeran Gebang yang ke sembilan) dari pernikahannya dengan R. Kastewi, keturunan kelima dari Tumenggung Jayadipura Susukan. Ketika lahir namanya adalah Pangeran Sadewa Alibasa yang dalam silsilah keluarga disebut dengan Pangeran Surya Nata atau Pangeran Kusuma Adiningrat.  Dalam tuntunannya, Kyai Madrais menitikberatkan pada kesadaran kebangsaan sebagai dasar dari kesadaran serta iman kepada Tuhan, kepercayaan yang benar-benar mengerti dan dapat merasakan keagungan Tuhan serta menyadari fungsi hidup selaku manusia dan bangsa.

Oleh karena dalam menyampaikan ajarannya lebih menonjol unsur budaya bangsa dalam tuntunannya itu, Maka Kyai Madrais disebut-sebut mendirikan Agama Jawa Sunda (ADS). Sebutan itu diterima saja oleh Kyai Madrais, tetapi menurutnya sekalipun disebut Agama Jawa Sunda (ADS) bukan berarti menambah jumlah agama, tetapi mewujudkan kesadaran akan budaya bangsanya di samping mempelajari tuntunan agama-agama tersebut.

Meski tak luput dari berbagai rintangan, ajaran Madrais kian berkembang. Pembelajaran  kepada pengikutnya dipusatkan di Cigugur. Waktu Kyai Madrais mengembara ke beberapa daerah di Tatar Sunda seperti Kuningan, Cisuru, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandung, Sukabumi dan sebagainya banyak yang terpikat oleh ajaran yang ditengarai dipengaruhi oleh kekuatan pancaran kepribadiannya. Karena itu oleh para pengikutnya ia disebut ”Panutan”.

Ini menunjukkan bahwa pengikutnya sungguh yakin bahwa Sang Pangeran disinari oleh Cahaya Tunggal (Kanunutan ku Cahaya Tunggal/Nurwahid) serta ku abdi-abdi sadaya.  Ajarannya makin terang setelah diformulasikan dalam konsep ”Pikukuh Tilu” (tiga hal yang harus dipegang teguh). Isi Pikukuh Tilu tersebut adalah: a). ngaji badan b). Tuhu/mikukuh kana tanah, c). Madep ka raja, 3-2-4-5 lilima 6.

Ngaji badan dimaknai sebagai kesadaran terhadap fakta bahwa unsur manusia itu terdiri dari 20 element sesuai dengan jumlah sifat Tuhan. Mikukuh kana berarti tanah terdiri dari dua hal: tanah amparan dan tanah adegan. Tanah adegan merupakan manifestasi kualitas kemanusiaan dan tanah amparan berarti tanah air. Kemudian madep ka ratu raja-raja 3 berupa cipta, rasa dan karsa. Ratu raja 2 berarti dua aspek dalam setiap sesuatu, ratu raja 4 aktifitas dari dua tangan dan dua kaki, ratu raja 5 lima pancaran daya sukma salira, ratu raja lilima berupa kualitas dari 5 hasrat dan ratu raja 6 berarti karakter manusia.

Dalam penelitiannya, Nuhrison  mengungkapkan bahwa, selama kepemimpinan Pangeran Tejabuana, makna-makna simbolik ajaran Madrais mulai dikupas secara mendalam. Proses ini menjadi lebih intensif dan memungkinkan untuk diwujudkan dalam kehidupan nyata. Ajaran itu meliputi semua aspek kemanusiaan ketika Pangeran Djatikusuma, Putra Pangeran Tejabuana mengambil alih kepemimpinan. Pikukuh Tilu mulai dikembangkan menjadi konsep olah rasa yang dapat dipraktekkan dan diimplementasikan. Kandungan teologis ajaran tersebut dikembangkan menjadi konsep ”tatanan waruga jagad”. Di dalamnya dibahas tentang hubungan antara makrokosmos dengan mikrokosmos. Sementara dalam tatanan waruga manusia dimaksudkan agar manusia dapat mengendalikan dorongan hawa nafsunya untuk mencapai sampurnaning hurip, sejatining mati (kesempurnaan hidup, kesejatian mati).

Perlu diketahui pula bahwa agama dalam ajaran Madrais berarti ageman (pakaian, pelindung, penjaga) dan tidak mengacu pada pembentukan agama baru, sedangkan Jawa Sunda juga tidak mengacu pada sukuisme atau diskriminasi rasial.

Baca juga: Mengenal Agama Lokal Nenek Moyang

Sapto Dharmo-Jogja

Kerohanian Sapto Dharmo merupakan sebuah aliran kerohanian yang berasal dari kota Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Aliran ini bermula dari pengalaman spiritual pendirinya yaitu Hardjosapuro yang berprofesi sebagai tukang cukur dan usaha lain di bidang perdagangan. Pengalaman spiritual yang terjadi pada 26 Desember 1952, secara tiba-tiba seluruh badannya tergerak dengan sendirinya untuk sujud kehadapan Hyang Maha Kuasa secara otomatis di luar kemauannya dengan ucapan-ucapan sujud seperti dilakukan oleh warga Sapto Dharmo sekarang ini.

Pengalaman spiritual tersebut  kemudian diceritakan kepada teman-temannya. Seperti dapat diduga, pada mulanya  teman-temannya tidak mempercayai apa yang diungkapkan oleh Hardjosapuro, namun tanpa diduga teman-temannya juga mengalami kejadian yang sama yaitu sujud kehadapan Hyang Maha Kuasa secara otomatis di luar kehendak. Semenjak itu tersiarlah kabar dari mulut kemulut kegaiban di kota Pare yang dialami oleh Hardjosapuro dan kawan-kawannya.  Sebetulnya apa yang dialami oleh Hardjosapuro tidak jauh berbeda dengan para nabi atau pembawa ajaran agama lainnya.

Dalam penelitiannya, Reza Perwira menegaskan, bahwa Kerohanian Sapto Dharmo tidak menginduk kepada agama besar yang ada Indonesia, namun bercorak lokal atau bercorak budaya lokal, yaitu budaya Jawa. Sesuai dengan tempat lahirnya pembawa ajaran ini berasal dari di wilayah Pare, Jawa Timur. Semua yang berkaitan dengan simbol, semboyan, ajaran, ritual, dan bacaan-bacaan dalam sujud yang diajarkan selalu identik dengan bahasa Jawa. Namun sesuai perkembangan jumlah pengikutnya yang berasal tidak hanya dari suku Jawa, ajaran Kerohanian ini sedikit demi sedikit berusaha mensosialisasikan bacaan-bacaan atau buku-buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ajaran Kerohanian Sapto Dharmo terbagi 3 pola dasar, yaitu: pertama, Pola dasar ajaran yang terdiri dari: a). ajaran tentang Ketuhanan, b). ajaran tentang Kemanusiaan, c). ajaran tentang Alam Semesta, dan d). ajaran tentang Kesempurnaan Hidup. Kedua, Pola Dasar Penghayatan yang terdiri dari: a). Pedoman Penghayatan, b). Perilaku Penghayatan, c). Sujud Penggalian, dan Kelengkapan Penghayatan. Ketiga, Pola 18 diolah dari hasil wawancara peneliti langsung dengan Tuntunan Agung Ajaran Kerohanian Sapto Dharmo yaitu Saekoen Partowijono. Sanggar Candi Sapta Rengga (Sanggar Pusat), Jalan Surokarsan MG. II/472 Yogyakarta. Dasar Pengamalan Budi Luhur yang terdiri dari: a). Ajaran tentang Budi Luhur, b). Usaha-usaha Penanaman Budi Luhur, dan c). Pengamalan dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan.

Tempat ibadah warga Sapto Dharmo disebut “Sanggar” dengan seorang Tuntunan yang ditunjuk sebagai pemimpin dan bertanggungjawab dalam membina spiritual warga di sanggar tersebut. Warga Sapto Dharmo mengenal dua nama sanggar yaitu “Sanggar Candi Sapto Renggo” dan “Sanggar Candi Busono”. Sanggar Candi Sapto Renggo hanya ada satu di Yogyakarta, adalah pusat kegiatan Kerohanian Sapto Dharmo sedangkan Sanggar Candi Busono adalah sanggar yang tersebar di daerah-daerah. Sanggar yang berada di Yogyakarta ini sering kali dipakai oleh warga sekitar untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bukan hanya untuk kepentingan warga Sapto Dharmo namun juga untuk kepentingan warga sekitar seperti ulang tahun kemerdekaan dan pemilihan umum (kepala daerah, presiden), dan sebagainya.

Peranan warga Sapto Dharmo dalam kehidupan sosial dapat dilihat dari kepatuhan warga Sapto Dharmo terhadap isi wewarah tujuh yang ke enam yang berbunyi “sikap dalam masyarakat, kekeluargaan itu memiliki susila dan halus pekertinya. Warga Sapto Dharmo harus dapat bergaul dengan siapa saja tanpa membedakan jenis kelamin, umur maupun kedudukan. Dengan pengertian bahwa dalam hidup bermasyarakat harus menjunjung moral, sopan santun dan rendah hati.

Dalam praktik di masyarakat, Reza menuturkan, bahwa sebagian dari mereka merespon secara alami eksistensi ajaran ini karena tidak melihat indikasi negatif dari komunitas ajaran Sapto Dharmo tersebut. Interaksi mereka dengan masyarakat sangat bagus dan kooperatif dalam kegiatankegiatan baik yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat maupun kegiatan-kegiatan nasional yang dilaksanakan oleh pemerintah. Di sisi lain, sebagian masyarakat setempat melihat ajaran ini hanya merupakan paguyuban budaya dan kepercayaan.

 

Kejujuran Sedulur Sikep

Sejumlah peneliti mengungkapkan bahwa masyarakat Sikep merupakan masyarakat yang masih menjunjung tinggi kejujuran, tidak pernah berbohong, gemar menolong sesama, dan beberapa sikap mulia lainnya. Mereka bahkan juga mengakui, berdasarkan mereka berinteraksi dengan komunitas Sikep, bahwa rata-rata orang Sikep memiliki daya nalar yang tinggi.  Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya kita butuhkan dalam sistem demokrasi dan dalam konbteks masyarakat yang majemuk.

Tanpa adanya kejujuran demokrasi hanya akan mewujud menjadi sebuah sistem yang justru merusak tatanan masyarakat yang telah terjalin dengan begitu kuat. Dan ini sangat merugikan masyarakat, negara, bahkan bangsa secara keseluruhan. Hal inilah yang kerap kita lihat dan rasakan bagaimana para politikus dan mereka yang memangku roda pemerintahan bertindak semaunya sendiri dan hanya mementingkan kepentingannya sendiri, keluarga atau kelompoknya. Demokrasi telah dibajak dan ternoda oleh keberadaan mereka yang tak jujur dalam mengemban amanah.

Dalam hal ini, komunitas Sedulur Sikep yang hingga kini kerap di-cap sebagai masyarakat tertinggal justru memiliki nilai-nilai luhur yang patut kita apresiasi. Keteguhan mereka dalam memegang kejujuran, dan sikap saling tolong menolong sungguh merupakan modal dasar bagi penegakan konstitusi, demokrasi dan hak asasi manusia.

Namun demikian, ada hal yang berbeda dengan nilai-nilai demokrasi yang kita pahami selama ini, terutama yang dipraktikkan di Indonesia. Bahwa dalam ranah politik konsep keterwakilan relatif tidak dikenal oleh komunitas Sedulur Sikep. Konsep perwakilan jkika ditelisik dari filsafat politik komunitas Sikep ini, karena cenderung mereduksi otonomi individu dan mensubordinasi individu di bawah kelompok. Di tingkat komunitas, keputusan-keputusan bersama selalu dilakukan dengan menggelar rapat-rapat yang mengundang semua individu kepala keluarga Sikep.  Oleh karena itu, akan sering kita temukan ketika seorang warga Sedulur Sikep yang kerapkali diundang menghadiri pertemuan selalu mengatakan bahwa dirinya mewakili dirinya sendiri, bukan mewakili Sedulur Sikep.

Dalam hal hak asazi manusia, dalam komunitas ini, memiliki pandangan bahwa setiap manusia betatapun berbedanya pangkat, ras, dan kebangsaan mereka, pada dasarnya adalah sama, yaitu wong (orang). Konsep wong dan konsep sandang-pangan merupakan dua konsep penting bagi komunitas Sikep. Namun, wong adalah wujud tertinggi dan terkuat karena manusialah yang dapat menghasilkan sandang dan pangan.  Dengan demikian, dimata komunitas sikep manusia itu setara, sama-sama wong yang antara satu dengan yang lainnya tidak boleh melalaikan hak dan kewajibannya. Sama-sama wong berarti pula bahwa kita di muka hukum dan juga Tuhan adalah setara. Jika salah pun sama-sama akan menanggung konsekuensinya.

 

Belajar Cara-Ciri AKUR

Dalam ajaran Madrais atau Adat Karuhun Urang (AKUR) manusia dituntut untuk berbudi luhur dengan memahami Cara-ciri manusia dan Cara-ciri bangsa. Cara adalah ketentuan perilaku hidup, sedangkan ciri adalah perwujudan sifat. Cara-ciri manusia terdiri dari: Welas asih, Undak unik, Tata krama, Budi daya Budi basa, dan Wiwaha yuda negara.

Welas asih adalah suatu hal yang menjadi cara-ciri manusia. Bila kita berbicara berperikemanusiaan berarti di dalamnya berisi rasa kasih (welas asih yang memancar dari budi luhur). Undak unik adalah bahwa pada manusia yang sadar akan susunan keluarga, ada sebutan yang menunjukkan perbedaan seperti: bapak, ibu, anak, kakak, nenek, cucu, kemenakan dan sebagainya. Kesadaran serupa itu hanya terdapat dalam kehidupan manusia, pada undak unik ini berarti adanya tingkatan dan sebutan.

Dengan adanya pengertian undak unik, maka di dalam kehidupan masyarakat manusia mengenal tata krama atau etika. Tata artinya aturan dan krama berarti pergaulan.Ini merupakan tatanan dalam pola kehidupan bermasayarakat demi terciptanya kehidupan masyarakat manusia yang tenteram, damai dan terwujudnya saling hormat menghormati, harga menghargai di antara sesama manusia. Dengan itu, akan tercipta kerukunan hidup baik dalam keluarga, bermasyarakat maupun bernegara.

Budi daya dan budi basa yakni apa yang dikatakan jiwa dari tata krama. Manusia adalah makhluk yang berbudi. Budi daya budi basa dimaksudkan untuk pengendalian diri. Sedangkan Wiwaha berarti pertimbangan, yuda berarti perang, nagara berarti diri kita sendiri. Kesadaran sebagai manusia berbudi luhur dalam melaksanakan gerak hati dan pikiran harus memakai pertimbangan dan memerangi rasa dan pikir pada saat keduanya dipengaruhi oleh sifat-sifat di luar sifat kemanusiaan.

Sedangkan Ciri bangsa adalah adanya manusia kemudian hidup berkelompok adalah kehendak Tuhan. Hidup berbangsa dan bernegara, juga merupakan kehendak Tuhan sebab pada saat seseorang hendak dilahirkan tidak bisa menolak atau meminta ingin menjadi bangsa tertentu. Antara bangsa satu dengan bangsa yang lain berbeda karena kehendak Tuhan. Tuhan menciptakan manusia terbagi-bagi dalam bermacam-macam bangsa. Cara-ciri bangsa adalah; a). rupa, b). bahasa, c). adat, d). aksara, dan e). kebudayaan.

Dengan memahami dan mengimplementasikan Cara-ciri manusia dan Cara-ciri bangsa itulah kita mampu menjadi manusia yang berbudi luhur, mandiri dan emoh untuk diintervensi oleh bangsa lain.

 

Tolong-menolong ala Sapto Dharmo

Ajaran tolong-menolong dijadikan semboyan bagi penganut Sapto Dharmo. Warga Sapto Dharmo menyebutnya Sesanti- berbunyi “Ing ngendi bae, marang sapa bae warga Sapto Dharmo kudu suminar pindha baskara” (bahasa jawa). Dalam bahasa Indonesia berarti; di mana saja dan kepada siapa saja (baik seluruh makhluk hidup atau mati). Warga Sapto Dharmo haruslah senantiasa bersinar laksana surya. Makna dari semboyan ini adalah kewajiban bagi warganya untuk selalu bersikap tolong-menolong kepada semua manusia.

Ajaran tolong-menolong inilah yang mutlak kita butuhkan manakala kita sebagai waraga-bangsa kerap menghadapi persoalan, baik yang terkait dengan kebutuhan pribadi maupun kaitannya dengan tugas kita sebagai anggota masyarakat. Pertolongan dari orang, bahkan kelompok lain sejatinya selalu kita butuhkan. Bukan semata karena dalam hal tertentu kita ‘lemah’, melainkan sebagai perwujudan dari pemenuhan hak asazi manusia di muka bumi.

Terkait dengan ajaran tentang ketuhanan, Sapto Dharmo bahwa manusia hidup karena diberi hidup oleh Hyang Maha Kuasa berupa sinar cahaya Hyang Maha Kuasa yang menjadi getarangetaran yang meliputi pribadi manusia. Segala sesuatu yang hidup diberi sinar cahaya Hyang Maha Kuasa dan tidak memakai perantara siapa saja.

Oleh karena itu cahaya tersebut menjadi utusan Hyang Maha Kuasa dalam hubungan-Nya dengan manusia. Dalam kepercayaan aliran Sapto Dharmo ini, meyakini bahwa Tuhan itu ada dan Esa serta memiliki 5 (lima). sifat mutlak, yaitu: Mahaagung, Maharokhim, Mahaadil, Mahawasesa, dan Mahalanggeng (abadi). Manusia yang diciptakan oleh Tuhan wajib menyelaraskan diri dengan sifat Tuhan, sebab kehendak Tuhan tersirat di dalam lima sifat tersebut. Barang siapa yang dapat menyelaraskan sikap dengan lima sifat Tuhan, maka manusia tersebut akan mendapat kebahagiaan hidup di dunia maupun alam kekal.

Menyimak pemaparan tersebut sesungguhnya ajaran Sapto Dharmo tidak berbeda dengan ajaran-ajaran agama-agama semitik sebagai yang kita kenal saat ini. Karena itu tidak sepatutnya jika kita melihbat sebelah mata terhadap komunitas ini dan juga komunitas-komunitas lain yang berbeda dengan kita. [ ]

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Editor: –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *