by

Mengenang Tokoh Guru Bangsa: Buya Syafi’i dan Gus Dur

Kabar Damai | Sabtu, 11 Juni 2022

Pontianak I Kabardamai.id I Beberapa pekan terakhir, bangsa indonesia kehilangan sosok guru bangsa nan sederhana.  Ahmad syafi’i Ma’arif atau kerap disapa dengan sapaan buya Syafi’I, sapaan khas yang disematkan untuk     beliau.

Ia merupakan sosok guru bangsa yang dalam setiap hidupnya senantiasa mengabdikan kepada bangsa dan ummat. Sebagai seorang tokoh, Buya Syafi’I sangat dikenal dengan pemikiran pluralis yang begitu     menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, hal itu terlihat dari berbagai pemikiran dan kiprah selama hidupnya.

Ada banyak buku yang ia tulis mengenai persoalan bangsa dan keumatan satu diantaranya yang pernah diterbitkan oleh Serambi Ilmu Semesta. Sebuah buku berisi kompilasi tulisan dari beragam akademisi, intelektual, dan aktivis lintas agama mengenai biografi intelektual Buya Syafii Maarif, dan diberi judul “Muazin Bangsa dari Makkah Darat” (2015).

Selain buku tersebut ada banyak buku bahkan tulisan yang berisi persoalan bangsa, bahkan tak jarang dalam tulisannya membela kelompok-kelompok minoritas di Indonesia. Laksana muazin, Buya Syafii Maarif dipandang telah konsisten menyerukan nilai- nilai kebajikan.

Saat ini kepergian buya Syafi’i Ma’arif meninggalkan duka tak hanya bagi keluarga namun bagi kita semua para murid dan orang-orang yang begitu mengagumi sosok pemikiran dan kiprahnya.   Sejatinya Indonesia memiliki tiga figure tokoh panutan bangsa yang konsisten dan kerap hadir dalam menyuarakan isu kemanusiaan yaitu Abdurrahman wahid (Gus Dur), Romo Mangun, dan Buya Syafi’i Ma’rif saat ini ketiga tokoh bangsa tersebut telah berpulang kepada keabadian, namun apa yang telah diteladani patut untuk kita lanjutkan.

Baca Juga: Toleransi Ala Gus Dur

Berkaitan dengan hal diatas Gusdurian, bekerjasama dengan Muhammadiyah Kalbar  mengadakan silaturahmi sekaligus diskusi dan doa bersama untuk mengenang sosok guru bangsa Buya Sayfi’i Ma’arif dan juga Gus Dur. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, (10/6/2022) di Aula SD Muhammadiyah 2 Pontianak.

Turut hadir pada tokoh dan akademisi serta pegiat isu kemanusiaan dalam kegiatan tersebut. Kegiatan diawali dengan mendengarkan tausiah dan dilanjutkan testimoni dan tanggapan para tokoh tentang dua bapak bangsa yaitu buya Syafi’i dan juga Gus Dur, selain itu turut dilakukan doa bersama yang diperuntukkan bagi para syuhada terutama kedua almarhum tersebut.

Dalam paparannya, Profesor Wajidi yang merupakan pengurus wilayah Nahdatul Ulama Kalimantan Barat menyampaikan bahwa Buya Syafi’i dan Gus Dur adalah tokoh yang sangat inklusif dan substansif dalam berfikir.

“Berbicara tentang pemikiran, beliau sangat inklusif dan substansif. Keduanya hampir sama, keduanya selalu melihat persoalan yang sifatnya pokok dan selalu melihat konteks,” ujarnya.

Ia juga menuturkan, pemikiran Buya Syafi’i dan Gus Dur adalah moderat. Moderat menjadi elemen yang penting bagi bangsa saat ini. Hal ini pula yang menjadi sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Pemikiran moderat dua tokoh bangsa ini menjadi cerminan kehidupan kita sebagai masyarakat Indonesia saat ini.

Sementara tokoh lain, Ida Putu Sri Resi Ida Bandem yang merupakan pandita Hindu di Kalimantan Barat mengungkapkan bahwa kedua tokoh ini juga memiliki komitmen kebangsaannya yang jelas.

“Kominten kebangsaannya jelas dan ada untuk semua. Makanya ketika meninggal didoakan oleh semua, walaupun dimakamkan secara agamanya namun didoakan oleh semua orang yang beragama apapun itu agamanya. Oleh karenanya, kita harus meniru orang-orang seperti ini,” tuturnya.

Lebih jauh, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat agar dapat meneladani kedua tokoh bangsa ini untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik.

“Dua tokoh ini adalah dua tokoh yang harus diteladani oleh bangsa Indonesia. Mengaplikasikan pemikiran nya dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed