by

Mengenal Transgender

-Kabar Puan-128 views

Kabar Damai | Senin, 15 Maret 2021

 

Amerika Serikat | kabardamai.id | Saat lahir, seseorang biasanya diidentifikasi jenis kelaminnya berdasarkan anatomi tubuhnya, yaitu laki-laki atau perempuan.

Namun bagi sebagian orang, rasa identitas gender yang mereka alami berbeda dari apa yang tertulis di akta kelahiran dan anatomi tubuhnya. Sebagian besar menggambarkan diri mereka sebagai laki-laki transgender atau perempuan transgender, beberapa mengidentifikasi diri  mereka sebagai keduanya atau bahkan bukan keduanya.

Rasa identitas kelompok transgender tersebut dinilai tidak patut atau bahkan rendah sehingga mereka cenderung dikucilkan atau tidak diterima di masyarakat. Bahkan hingga masyarakat seolah lupa tentang fakta bahwa kelompok ini juga adalah manusia dengan hak-hak dasar yang melekat sejak lahir, sebagaimana manusia lainnya.

Kelompok transgender telah lama mengalami diskriminasi, bahkan lebih buruk dari sekadar diskriminasi. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, upaya untuk mendapatkan kesetaraan bagi mereka telah berkembang di beberapa negara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan perlakuan yang sama terhadap transgender sebagai hak asasi manusia. Namun, penolakan tetap saja ada dan ini juga turut mencerminkan perpecahan politik dan budaya di Amerika Serikat dan sekitarnya.

 

Situasi transgender di berbagai negara

Pada 2016, di bawah Presiden Barack Obama, Pentagon mengatakan untuk pertama kalinya bahwa transgender dapat mendaftar di militer Amerika Serikat.

Kebijakan tersebut kemudian dicabut oleh Donald Trump saat ia menjabat sebagai Presiden AS. Sekarang, beberapa hari setelah pelantikannya, Presiden Joe Biden mencabut larangan Trump. Biden juga memilih orang trans pertama untuk posisi Senat.

Dalam keputusan tahun 2020, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa undang-undang federal melindungi pekerja gay dan transgender dari diskriminasi pekerjaan.

Meski demikian, rancangan undang-undang yang diajukan oleh kaum konservatif sosial di beberapa negara bagian AS berupaya untuk memberlakukan pembatasan baru di beberapa bidang, seperti atletik sekolah dan perawatan medis.

Catatan di Eropa terkait perlakuan terhadap transgender juga beragam. Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa telah mendukung hak transgender dalam beberapa keputusan. Namun, pada 2020 lalu, Hungaria melarang orang trans untuk mengubah informasi jenis kelamin mereka pada dokumen identitas.

Puluhan kota di Polandia menyatakan diri mereka bebas dari “ideologi” LBGTQ. Di tempat lain, situasinya lebih mengerikan. Di Malaysia, di mana operasi penggantian kelamin atau pakaian yang bertentangan dengan jenis kelamin yang tercatat saat lahir telah lama dilarang bagi umat Islam. Menteri Agama Zulkifli Mohamad mengusulkan otoritas Islam untuk menangkap dan “mendidik” transgender “kembali ke jalan yang benar.”

Di seluruh dunia, dari 2008 hingga September 2020, lebih dari 3.600 orang terbunuh akibat kejahatan rasial, termasuk terhadap kelompok minoritas.

Baca juga: Ini Dia Tantangan Perlindungan HAM bagi Kelompok Rentan dan Marjinal di Indonesia

Transgender dalam sejarah

Kelompok transgender muncul di sepanjang sejarah dan di seluruh dunia. Simposium Plato merujuk pada jenis kelamin ketiga, baik laki-laki maupun perempuan “yang sama”. Pendeta Yunani kuno yang lahir laki-laki terkadang menyebut diri mereka sebagai perempuan dan mengebiri diri mereka sendiri.

India memiliki tradisi panjang transgender laki-laki menjadi perempuan, atau disebut ‘Kinnars’, yang diakui dalam hukum tetapi menghadapi pengucilan sosial yang cukup besar. Pada abad ke-20, orang trans berpengaruh dalam perkembangan gerakan hak-hak gay hingga sekarang.

Beberapa transgender menjalani perawatan hormon untuk mengubah karakteristik fisik mereka, dan beberapa di antara mereka menjalani operasi. Operasi serupa yang pertama diperkirakan dilakukan pada 1930 di Jerman pada pelukis Denmark Lili Elbe, yang menjadi aktor film “The Danish Girl” tahun 2015.

Beberapa orang yang mengidentifikasi sebagai jenis kelamin ketiga atau non-biner mungkin juga mengidentifikasi diri mereka sebagai transgender. Mereka sering meminta untuk disebut sebagai “mereka (they)” atau menggunakan kata ganti seperti “zie” dan “ey.”

Identitas gender terpisah dari orientasi seksual. Para peneliti telah menemukan beberapa bukti yang menunjukkan dasar biologis identitas transgender. Organisasi Kesehatan Dunia berhenti mencantumkan “ketidaksesuaian gender” sebagai gangguan mental pada 2019.

 

Perdebatan

Orang trans ingin identitas gender mereka diterima dan ditegaskan oleh hukum tanpa memerlukan sertifikat dokter atau transisi fisik, yang bagi banyak orang tidak terjangkau. Bagaimana dan kapan menggunakan penghambat pubertas atau hormon untuk merawat anak-anak dengan disforia gender, diagnosis medis, adalah masalah yang sulit.

Putusan penting di Inggris pada Desember lalu mengatakan anak-anak di bawah 16 tahun akan membutuhkan persetujuan pengadilan untuk mengakses diagnosis medis tersebut karena masih kurangnya bukti tentang efek kesehatan jangka panjang.

Aktivis mengatakan bahwa menolak perawatan dapat menyebabkan kerusakan mental atau fisik. Medicare, program perawatan kesehatan AS untuk lansia, telah memperluas cakupan ke operasi penggantian kelamin jika dianggap “secara medis diperlukan.” Sedangkan rencana dalam paket asuransi swasta bervariasi.

Individu transgender secara terbuka telah dipilih untuk jabatan publik. Seperti ditunjuk sebagai hakim dan ditampilkan di sampul majalah Time and Vanity Fair serta di panggung dan layar publik.

Bidang olahraga tetap menjadi arena yang diperebutkan. Komite Olimpiade Internasional telah mengizinkan beberapa perempuan trans untuk ikut berkompetisi sejak 2004 tetapi pada Oktober lalu, World Rugby memutuskan untuk melarang mereka dari pertandingan perempuan internasional karena alasan keamanan.

Perdebatan lainnya adalah terkait akses ke ruang publik yang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin, seperti kamar mandi umum atau ruang loker. Aktivis mengatakan bahwa memaksa orang transgender untuk menggunakan fasilitas yang tidak sesuai dengan jenis kelamin yang mereka hadirkan adalah diskriminatif dan membuat mereka berpotensi mengalami kekerasan.

Terkait hal itu, beberapa kritik mengemuka, seperti dari penulis Harry Potter J.K. Rowling. Ia berpendapat bahwa mengizinkan seorang transgender laki-laki secara fisiologis memasuki ruang perempuan adalah pelanggaran privasi (terkait hal ini, baca penjelasannya lebih lanjut di jkrowling.com).

Beberapa perempuan non-trans berpendapat bahwa seseorang yang dibesarkan sebagai laki-laki tidak mungkin dapat memahami kesulitan khusus yang dialami perempuan.

Di tengah perdebatan itu, di Skotlandia pada tahun ini, Pedana Menteri Skotlandia  Nicola Sturgeon, melalui akun Twitternya, mengecam transphobia, yang menurutnya sama dengan rasisme atau homofobia.

Berikut referensi lain terkait dukungan terhadap kelompok transgender:

  • Lebih banyak perusahaan, termasuk Apple dan Facebook, mendukung hak transgender.
  • Businessweek menerbitkan panduan bagi orang trans untuk mencari pekerjaan, asuransi, dan pensiun.
  • Podcast Bloomberg Westminster membahas “perang budaya (culture war)” di Inggris Raya, termasuk hak trans.
  • Pedoman American Academy of Pediatrics untuk “perawatan afirmatif gender.”
  • Gambaran Kampanye Hak Asasi Manusia (The Human Rights’s Campaign) tentang komunitas transgender.
  • Makalah posisi Masyarakat Endokrin (The Endocrine Society) tentang pedoman perawatan dan kesehatan transgender.
  • The New Yorker memiliki arsip artikel tentang isu transgender.

Dilansir dan diterjemahkan dari Bloombergquint.com oleh Hana Hanifah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

News Feed