by

Mengenal Stoisisme dengan Filosofi Teras

Judul Buku       : Filosofi Teras

Penulis             : Henry Manampiring

Penerbit          : Penerbit Buku Kompas

Tebal Buku      : 320 halaman

ISBN                 : 978-602-412-519-6

Seorang praktisi Stoa seharusnya merasakan keceriaan senantiasa dan sukacita yang terdalam, karena ia mampu menemukan kebahagiaannya sendiri, dan tidak menginginkan sukacita yang lebih daripada sukacita yang datang dari dalam (inner joys)”-Seneca (On Happy Life) hlm 26.

Ditulis oleh Henry Manampiring  buku yang memiliki tebal 320 halaman bertajuk Filosofi Teras ini merupakan buku yang secara keseluruhan menjelaskan tentang sebuah filsafat Yunani-Romawi kuno yang masih relevan diterapkan di masa sekarang. Filsafat tersebut merupakan filsafat stoisisme yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti filosofi teras, sesuai dengan judul bukunya.

Filsafat stoisisme merupakan filsafat kuno yang telah lahir sejak 2000 tahun yang lalu. Namun, penulis mengkaitkannya dengan permasalahan di era milenial yang ternyata masih dibutuhkan saat ini. Penulis kemudian memberikan statement–nya sejak awal, bahwa pada dasarnya permasalahan yang dihadapi manusia tidak berubah bahkan setelah melewati masa 2000 tahun. Manusia tetaplah manusia yang selalu kesulitan untuk melakukan manajemen emosi negatif yang seharusnya mereka miliki.

Stoisisme sendiri adalah cara bagaimana kita bukannya mengejar kebahagian tapi melakukan manajemen emosi negatif. Meredam emosi negatif yang pada akhirnya mengundang kebahagiaan dengan filosofi sebagai obatnya. Menggunakan prinsip “dikotomi kendali”  filsafat stoisisme membuat kita sadar bahwa ada hal yang berada dalam kendali kita dan ada juga beberapa hal yang diluar kendali kita.

Pemikiran, persepsi, tujuan dan impian merupakan hal-hal yang ada di bawah kendali diri sendiri. Karenanya, kita bisa mengubahnya dan mengendalikannya sesuai dengan kehendak diri. Sebaliknya tindakan orang lain, opini orang lain, popularitas diri, kesehatan dan kekayaan diri merupakan sesuatu yang berada di luar kendali diri pribadi.

Jika kita terlalu terobsesi dengan hal-hal yang berada di luar kendali, maka bisa jadi kekecewaan akan melanda setelahnya. Atau menyesali kondisi yang terlahir dari orangtua yang bukan impian kita misalnya, itu merupakan perwujudan dari tindakan yang sia-sia karena eksistensi diri di dunia merupakan suatu hal yang benar-benar di luar kendali kita.

Melalui “trikotomi kendali” yang muncul setelahnya, kemudian juga membuat kita sadar  bahwa di antara hal yang bisa dan tidak kita kendalikan ada beberapa hal yang bisa namun tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Seperti perjalanan karier misalnya, sebagian hal berada dalam kendali kita yang merupakan target internal dengan bekerja dan berusaha sungguh-sungguh.

Tapi hasil berada di luar kendali kita karena opini orang lain berperan aktif didalamnya. Filsafat stoisme membawa kita untuk fokus pada internal target dan tidak terpuruk dengan hasil yang didapat jika tidak sesuai harapan.

Baca Juga : Tanpa Kemanusiaan Agama Hanya Akan Menjadi Alat Kekerasan

Pertengahan buku ini banyak sekali membahas konsep stoisisme seperti Premeditatio Malorum (imunisasi mental), Amor Fati (mencintai nasib), dan Practice Proverty (latihan menderita). Dengan imunisasi mental, pembaca  akan diajak untuk membayangkan segala kejadian buruk yang kemungkinan akan terjadi dalam hidup sekarang dan nanti dengan tujuan memperkuat mental.

Sedangkan mencintai nasib kita akan lebih menerima takdir karena sebelumnya kita tahu ada hal yang memang berada di luar kendali. Terakhir latihan menderita bisa kita lakukan setelah imunisasi mental, dimana kemungkinan buruk bisa saja terjadi dalam hidup, memposisikan diri dalam kesulitan bisa dilakukan dengan berpuasa atau digital detox yaitu mencoba hidup tanpa internet.

Membaca buku ini dapat membuat pembaca relate dengan permasalahan jaman sekarang karena studi kasus yang diambil dari buku ini  memang kasus yang menjadi masalah di jaman sekarang. Karenanya, meskipun buku ini adalah buku filsafat yang diadopsi dari filsafat kuno, bukunya ringan dan mudah dipahami.

Ditambah dengan wawancara yang dihadirkan dalam beberapa bab dengan beberapa tokoh, membuat pembaca akan semakin ngeh bahwa “ya! Ini terjadi dalam hidup saya”. Lalu ilustrasi yang dibuat oleh Levina Lesmana, dibuat dengan  penggunaan warna yang terasa manis dan gambarnya bagus, otomatis membuat buku ini lebih menyanangkan dibaca.

Meskipun ada beberapa typo yang menganggu, buku ini tetap bagus dibaca untuk perubahan dalam hidup. Perubahan sikap, pemikiran dan juga sudut pandang dalam menghadapi permasalahan. Filosofi Teras mengajarkan hal penting pada kita bahwa bukannya mencari kebahagian, meredam emosi negatif lebih penting karena manajemen emosi yang baik akan mendatangkan kebahagiaan.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed