by

Mengenal Qira’ah Sab’ah

Kabar Damai I Rabu, 04 Agustus 2021

Kudus I Kabardamai.id I Qiraat sab’ah merupakan pengucapan dari tiap kata melalui aliran atau mazhab para imam qiraat pada zaman Rasulullah SAW. Dalam pelafalannya memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan qiraat lainnya. Gus Ahmad Nasikh Said Machin dari Pesantren Yanbu-ul Qur’an Kudus menjelaskan tentang Qira’at ini mengingat masih banyak masyarakat yang belum memahaminya.

Diawal pemaparannya, Gus Ahmad mengungkapkan bahwa Al-Quran yang popular di Indonesia dan umat Islam di dunia menggunakan Riywayat Hafsh qiraat dari Imam Ashim thariq Asy-Syathibiyyah. Sebagian ulama menyatakan Al-Quran yang mutawatir ada sab’ah dan ada yang menyatakan yang mutawatir tidak hanya tujuh tapi malah sepuluh dan bahkan ada yang sampai empat belas.

Walaupun demikian, menurutnya pula yang popular di Indonesia adalah qira’ah sab’ah. Diantara penyebab qira’ah san’ah di Indonesia adalah KH. M Munawwir bin KH. Abdullah Rosyad Krapyak. Beliau adalah salah satu tokoh utama didalam mempopulerkan qiraah sab’ah di Indonesia ini.

Kebetulan yang selesai atau salah satu santri yang pernah ngaji dari awal sampai akhir mendapatkan sanad qiro’at sab’ah adalah KH. Anwari Amin Kudus yang kemudian beliau menyusun kitab yang kita kenal Faidhul Barakat fi Sab’il Qira’at.

Gus Ahmad menjelaskan, terdapat dua qira’at yang diyakini dalam masyarakat saat ini.

Baca Juga: Potensi Edukatif Manusia dalam Al-Quran

“Ada dua versi tentang kapan KH. Arwani Amin Kudus menulis kitab Faidhul Barakat fi Sab’il Qiraat. Ada yang menyatakan saat beliau ngaji dengan KH. Munawwir, beliau sebelum mengaji membuat rangkuman. Dari rangkuman itu, yang menjadi kitab Faidhul Barakat fi Sab’il Qira’at,”.

“Sedangkan versi kedua ada yang menyatakan beliau menulis kitab ketika sudah pulang di rumah, sudah mengajar kepada para santri. Supaya mudah dipahami, beliau membuat rangkuman yang akhirnya menjadi kitab Faidhul fi Sab’il Qira’at,” ungkapnya.

Seperti telah diketahui bersama bahwa qira’at ini terkenal sulit. Hal ini ditunjukkan melalui cara baca yang digunakan pada qira’at tersebut.

“Memang cara membaca sab’ah bagi yang tidak mengetahui akan menganggap aneh atau malah dianggap dibuat-buat atau disalah-salahkan. Satu contoh yang paling simple misalnya dalam surat Alfatihah pada salah satu bagian bacaannya ada yang membaca dengan panjang dan ada yang membaca pendek,” tuturnya.

Menurut Imam As-Syusi rawi Imam Abu’ Amr ada yang namanya idqam  Kabir yaitu meng-idghamkan dua huruf yang hidup. Bahkan ada yang agak nyeleneh bagi sebagian orang yang dapat dilihat pada imam-imam atau ulama-ulama yang mempraktekkannya. Dengan demikian, memang di Indonesia khususnya menggunakan riwayat hafsh dari Imam Ashim bin Abi Najud dengan menggunakan thariq Asy-Syathibiyyah.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed