by

Mengenal Hindu Tolotang, Peradaban Hindu dan Kearifan Lokal di Tanah Bugis

Kabar Damai I Rabu, 06 Oktober 2021

Sulawesi Selatan I Kabardamai.id I Hindu merupakan salah satu agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Walaupun masyarakat banyak mengetahui bahwa mayoritas besar agama ini dianut oleh masyarakat Bali, namun faktanya berbagai wilayah lain di Indonesia juga banyak yang menganut Hindu. Seperti halnya yang ada di Sulawesi Selatan.

Aryan Ferdiawan, Pemuda Hindu Etnis Tolotang melalui kanal Bimas Hindu RI mengenalkan tentang Hindu Tolotang. Hindu Tolotang sangat erat dengan suku Bugis dan tak memiliki pura sebagai tempat ibadah.

“Saat ini ditanah Bugis ada dua penganut Hindu yang besar yaitu Tolotang yang berpusat di Sidrap, Wajo dan sekitarnya serta Hindu Alukta di Tanah Toraja dan Mamasa,”.

“Kami adalah Hindu di nusantara dengan menggunakan tata cara dan adat istiadat Bugis, pakaian adat kami berupa peci dan sarung sehingga memang sulit dibedakan dengan agama Islam,” jelas Aryan.

Lebih jauh, ia juga mengenalkan konsep ketuhanan Hindu Tolotang berdasarkan pada teologi masyarakat yang dianut disana.

“Dalam konsep teologi lokal, kami menyebut Tuhan dengan istilah dewata. Salah satu sebutan yang dikenal oleh masyarakat adalah Dewata  Siwai. Istilah Dewata Siwai biasanya disebutkan dalam berbagai lontarak yaitu lontarak lagaligo, lontarak sukna dan berbagai lontar diwilayah lainnya,” terangnya.

Baca Juga: Pentingnya Tarkavada bagi Generasi Muda Hindu

Istilah Dewata dibaca dengan berbagai macam ucapan misalnya Dewata, Dewangta dan Dewatangna yang mana mencerminkan sidat dan esensi Tuhan. Dewatangna berarti ‘yang tidak punya wujud’, ‘De’watangna atau ‘De’batang’ berarti yang tidak bertubuhatau tidak mempunyai wujud.

Dalam keseharian masyarakat Hindu Tolotang, menyebutkan ‘Naiyya Dewata SeuwaE Tekkeinnang’ yang artinya ‘Adapun Tuhan Yang Maha Esa itu tidak beribu dan tidak berayah’. Sedang dalam Lontara Sangkuru Patau’ Mulajaji sering juga digunakan istilah ‘Puang Seuwae To PalanroE’ yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa dalam Hindu Tolotang juga memiliki pemimpin dengan fungsi atau tugasnya.

“Pemimpin tertinggi kami bertugas memimpin upacara keagamaan atau ritual keagamaan seperti Mappenre Inanre atau mempersembahkan nasi yang merupakan menyerahkan daun sirih dan nasi lengkap dengan lauk pauknya ke rumah uwatta. Mappenre Inanre dilakukan dalam empat kondisi yaitu pada masa kelahiran, perkawinan, meninggal dan sekali setahun dimaksudkan sebagai persiapan,” bebernya.

Ia juga menjelaskan berbagai bentuk upacara yang kerap dilaksanakan oleh masyarakat Hindu Tolotang, seperti:

Sipulung, kegiatan ini diadakan sekali setahun pada saat hari minggu dibulan Januari atau pada setiap awal tahun. Kegiatan ini bermaksud untuk menghormati pesan untuk sekali setahun mengunjungi kuburan serta untuk kembali mengenang masa-masa sulit ketika pertama kali menginjakkan kaki ke ambarita. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mempererat hubungan antara sesama umat Tolotang.

Tudang Sipulung atau duduk bersama, ritual yang dilakukan bersama untuk melakukan permintaan atau marellau. Permintaan biasanya berkaitan dengan kehidupan manusia seperti minta dimudahkan rejeki, panjang umur dan kebahagiaan lainnya.

Lenrekeng atau menaikkan, ritual ini dilakukan untuk memanggil jiwa mereka yang telah meninggal. Ritual ini dilakukan dengan cara para anggota keluarga duduk bersila didepan seorang uwa.

Mapenre Tojang, yakni sejenis upacara memohon keselamatan pada balita, seperti upacara otonona  di Bali.

Mappaboting atau upacara perkawinan.

Mattampung atau upacara kematian, penguburannya menggunakan prosesi yang sederhana, kecuali berasal dari keluarga uwa maka sering dibarengi dengan penyembelihan kerbau.

Menurut Aryan, terdapat konsep tentang alam semesta yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya berasal dari tiga dunia yaitu dunia atas, dunia tengah yang didiami manusia dan dunia bawah atau pertiwi. Tiap-tiap dunia memiliki penghuni masing-masing yang satu sama lain saling mempengaruhi dan pengaruh itu berakibat pula terhadap kelangsungan kehidupan manusia.

Melihat Hindu Tolotang menunjukkan betapa beragamnya Indonesia. Agama ini menggabungkan dua pendekatan yaitu agama dan juga etnis serta kearifan lokal yang ada.

Penulis: Rio P

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed