by

Mengenal Hari Shabbat Umat Yahudi

Kabar Damai | Selasa, 07 Juni 2022

Jakarta | kabardamai.id | Shabbat adalah hari ketujuh dalam seminggu. Taurat mengharuskan kita untuk berhenti melakukan pekerjaan kreatif sepanjang hari dari mulai saat matahari terbenam di hari jumat hingga matahari terbenam di hari sabtu.

Enam hari kamu akan bekerja dan menyelesaikan semua pekerjaan kreatifmu. Hari ketujuh aalah Sabat bagi Allah, Tuhanmu, kamu tidak boleh melakukan pekerjaan kreatif. (Kel. 20:9-10)

Taurat mengajarkan kita bahwa hari ketujuh dalam seminggu adalah hari ketika Tuhan menghentikan pekerjaan-Nya dalam menciptakan dunia.

Selama enam hari Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan semua yang ada di dalamnya, dan dia beristirahat pada hari ketujuh Karena itu Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya. (Kel.20:11)

Tuhan memerintahkan Israel untuk merayakan hari ketujuh dalam seminggusebagai hari di mana kita juga menahan diri dari pekerjaan kreatif,

Shabbat harus dijaga sebagai tanda perjanjian antara Tuhan dan Bangsa Israel . Dan Israel akan memelihara Sabat untuk semua generasi mereka, sebagai perjanjian abadi antara Aku dan orng Israel untuk selama-lamanya… (Kel.31:16-17)

Tiga Hal Utama yang Diperhatikan Saat Shabbat:

Menguduskan

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja melakukan segala pekerjaanmu, Tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Keluaran 20:8)

Menguduskan adalah perintah dalam Taurat untuk menyatakan hari khusus Sabat melalui ucapan, baik saat dimulai maupun saat berakhir. Pernyataan lisan ini, yang dilakukan pada awal Shabbat Jumat malam, disebut Kiddush (har.”pengudusan”.)

Pengenalan verbal yang dilakukan pada penutupan Sabat pada Sabtu malam disebut Habdalah “pembedaan” (antara Sabat dan hari kerja).

Menjaga

Peliharalah Sabat dengan menguduskannya seperti yang telah Allah, Tuhanmu perintahkan kepadamu (Ulangan 5:12)

Orang Yahudi menjaga Shabbat dengan menahan dri dari pekerjaan kreatif, atau Melakha. Ada 39 kategori Melakha yang dilarang Shabbat (dapat ditemukan di Mishna).

Ada banyak tindakan terperinci yang termasuk dalam setiap kategori (Shabbat, 7:2)

39 kategori ini diambil dari tindakan kreatif yang dilakukan untuk membagun Mishkan (Tabernakel) di Padang Pasir. (Sabbat, 49b)

Beristirahat

Apabila engkau tidak menginjak-nginjak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus Ku: apabila engkau menyebutkan Hari Sabbat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”, apabila engkau menghormatinya dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong…. (Yesaya 58:13)

Shabbat adalah hari dimana orang Yahudi mengakui bahwa Tuhan telah menciptakan semuanya. Dan kami menerima bahwa dari terbenamnya matahari pada hari Jumat hingga terbenamnya matahari pada hari Sabtu tidak ada yang perlu diciptakan. Kami mengakui kesucian semua ciptaan, dengan membiarkannya apa adanya. Kami beristirahat di siang hari di hari Shabbat karena mengetahui bahwa tidak ada yang peru dilakukan sekarang.

Baca Juga: Merobohkan Stigma Keliru Pada Yahudi

Ini adalah aspek untama dari perjanjian kami dengan Tuhan, karena kita dalah mitra dengan-Nya dalam upaya-Nya menciptakan dunia dan berbagi terang-Nya dengan dunia.

 

Shabbat dalam Pandangan Filosofis

Shabbat berati adalah hari dimana seseorang harus meninggalkan semua hal yang bersifat duniawi, hari dimana seorang Yahudi tidak elihat apa yang ada di luar, tidak melihat segala urusan yang mungkin bisa mendistraksi antara Tuhan dan Manusia.

Dengan dilarangnya melakukan aktivitas dan disaat yang sama tidak terlalu banyak yang bisa dilakukan. Maka hari Shabbat memungkinkan kita untuk duduk dan melihat ke dalam diri sendiri, mengintropeksi, menyatu dengan keberadaan, melihat siapa diri kita yang sebenarnya dalam keterbataan yang bertujuan untuk menjadi hening, menjadi diam sebagai bentuk pengudusan hari yang paling kudus. Sebagimana tertulis dalam Mazmur: ” Lekha dumyah tehillah”, yang menurut Haramban (dalam More Nevukhim) lebih tepat diartikan menjadi “keheningan adalah pujian tertinggi”

 

Sumber: shaar.hashamayi.indonesia

Editor: Ai Siti Rahayu

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed