by

Mengenal dan Memupus Prasangka

Oleh: Ferry Mahulette

Mendengar kata Jemaah Ahmadiyah pasti terlintas beragam persepsi dan streotype yang negatif. Tentunya hal ini tidak dapat dilepaskan dari tumbuh kembangnya Jemaah Ahmadiyah di Indonesia. Bagi kaum awam mungkin akan mengingat peristiwa pembantaian di Cikeusik Banten pada tahun 2011.

Berawal dari MUI pada tahun 2005 yang menegaskan fatwa anti-Ahmadiyah serta diikuti pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang merilis aturan pidana bagi kegiatan ajaran Ahmadiyah pada 2008. Kemudian gelombang kekerasan terhadap Ahmadiyah pun menyebar diberbagai belahan Nusantara, setidaknya dari peristiwa Cikeusik Banten terdapat tiga nyawa melayang.

Perbedaan terkadang menjadi pemicu dalam sebuah disintegrasi sosial, apalagi jika melibatkan kelompok mayoritas dan minoritas. Dalam hal ini berkaitan dengan Jemaah Ahmadiyah di Indonesia, masyarakat awam yang tidak memiliki akses informasi dan perndidikan mengenai Aliran Ahmadiyah cenderung hanya sebagai pengikut.

Ketika ada oknum pemimpin agama yang menyatakan bahwa kelompok Ahmadiyah menyimpang tanpa menjelaskan dasar argumen mereka, para pengikut menerima hal itu secara mentah dan menurut saja. Hal ini tentunya dapat memicu adanya provokasi yang membabi buta, tidak dapat disangkal juga untuk kepentingan kelompk tertentu.

Beberapa waktu lalu Indonesia Conference Religious and Peace (selanjutnya ICRP) mengadakan Anjangsana ke Cigugur,Kuningan. Salah satu tempat kunjungan ialah kelompok Jamaah Ahmadiyah Indonesia di desa Manislor, Kuningan.

Baca Juga: Sunda Wiwitan: Ekspresi Kekayaan Budaya Nusantara

Kelompok JAI Manislor pun tidak lepas dari persekusi,penyegelan dan pembakaran masjid mereka. Kegiatan ini sendiri setidaknya memberikan ruang untuk berbagi Informasi mengenai perspektif ajaran Ahmadiyah. Peserta yang datang tentunya mendapatkan pemaparan dari Mubaligh Irfan Maulana, pemaparan yang ada ialah penjelasan kesimpang siuran informasi yang ada di masyarakat secara umum.

Penulis sendiri terkesima dengan kenyataan yang ada di Jemaat Ahmadiyah khususnya desa Manis lor, bahwa jauh berbeda dengan apa yang masyarakat duga tentang jemaah ini. Salah satunya dalam bidang sosial kemanusiaan, tercatat bahwa Jemaah Ahmadiyah desa Manislor memegang rekor MURI sebagai pendonor kornea mata terbanyak di Indonesia.

Dalam ulasan berita Merdeka.com bahwa pada tahun 2017 terdapat 3000 Jemaah Ahmadiyah Manislor yang akan menyumbangkan kornea mata setelah mereka wafat. Hal ini tidak dapat dipandang rendah, melainkan merupakan hal yang harus kita apresiasi dari Jemaah Ahmadiyah Indonesia khususnya desa manislor yang menjadi pioneer bagi umat beragama lainnya.

Beragama sendiri tidak lepas dengan kehidupan bermasyarakat secara luas maka dari itu pentingnya kita mengenal umat beragama lainnya. Mengenal sendiri bukan berarti kita menganut melainkan kita sejenak melihat dari perspektif saudara kita melihat.

Sehingga dengan kacamata yang berbeda kita bisa melihat dan juga dengan kacamata kita bisa melihat sisi positif untuk kita menjalin keberagaman. Dengan demikian maka kita akan memupus setidaknya prasangka negatif karena kita telah belajar mengenal mereka.

 

Ferry Mahulette, Generasi Muda FKUB Banyumas, memiliki minat dalam membangun kerukunan beragama serta melestarikan budaya dan kearifan lokal

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed