by

Mengenal Bahaya Misogini

-Kabar Puan-16 views

Kabar Damai I Sabtu, 25 September 2021

Jakarta I kabardami.id I  Tuhan menciptakan manusia dengan ragam gender, ada laki-laki, perempuan dan gender lainnya. Semua diciptakan setara tanpa kurang satu sama lain. Peranannya juga sama sehingga menganggap satu lebih baik dan lainnya adalah salah besar tentunya.

Dalam hal gender biner, perempuan kerap dianggap lebih rendah dari laki-laki karena berbagai hal. Budaya patriarki semacam ini masih terus langgeng dan menjadi potret miris dalam proses kehidupan manusia. Perempuan ditempatkan dalam urutan nomor dua, dianggap rendah, dibatasi sehingga sulit berkembang dan lain sebagainya. Selain itu, dapat pula muncul ketidaksukaan dan menganggap perempuan selalu salah, konsep ini disebut dengan misogini.

Misogini berasal dari bahasa Yunani, misogynia yang terbagi dari kata miso yang artinya benci serta gyne yang artinya wanita. Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa kata misogini mengandung arti perasaan benci kepada perempuan.

Baca Juga: Eksploitasi Perempuan dalam Film Selesai, Bukti Indonesia Butuh Lebih Banyak Sutradara Perempuan

Sejarah panjang mencatat tentang bagaimana perkembangan misoginis di dunia. Namun, hal ini juga tidak terlepas dari mitos pada awal terciptanya manusia yaitu pada masa Adam dan Hawa. Adam dianggap keluar dari surga karena perempuan, karena bujuk rayu Hawa sehingga diturunkannya ia ke dunia.

Faham ini pula yang membuat laki-laki kemudian menerapkan perilaku misogini kemudian. Di Arab, ajaran yang bersumber dari ajaran Yahudi-Kristen kemudian berkembang melalui media dan kitab serta tafsir sehingga pengaruhnya juga semakin besar dan dirasakan khususnya bagi para perempuan. (Repositori.uin-suska.ac.id).

Dalam Islam, penerapan paham misogini juga tak kalah besarnya. Terlebih, laki-laki kerap dianggap sebagai kepala yang tidak boleh dilangkahi sehingga peranannya dianggap selalu benar. Hal ini semakin diperparah dengan adanya tafsir ayat tentang perempuan dalam Al-quran yang membuat praktik misoginis semakin kentara.

Misogini kerap disamakan dengan ginefobia, namun faktanya keduanya adalah merupakan hal yang berbeda. Ginefobia adalah bentuk fobia atau rasa takut yang berlebihan yang ditunjukkan kepada perempuan. Hal ini akan membuat penderitanya menjadi sangat cemas dan atau panik ketika bertemu atau berhadapan dengan perempuan.

Sementara itu, misoginis adalah bentuk rasa benci yang ditunjukkan pada perempuan yang diekspresikan dengan ekstrem dan tanpa rasa takut. Misogini dapat berakibat fatal dan menyebabkan berbagai hal yang sifatnya merugikan mulai dari selalu menyalahkan, aniaya, kekerasan seksual dan lain sebagainya.

Misogini dapat dilihat melalui ciri-ciri seseorang dalam memperlakukan wanita. Beberapa ciri-ciri tersebut diantaranya seperti:

  1. Kerap Menyalahkan Wanita

Apapun yang dilakukan oleh wanita selalu salah dimatanya, hal ini merupakan bentuk egoistik yang berlebihan sehingga hanya pendapatnyalah yang selalu dianggap benar. Hal ini dapat berkembang pada berbagai sektor kehidupan sehingga dominasinya sangat besar dalam relasi kuasa.

  1. Kasar

Seorang yang misogini tidak akan segan untuk berperilaku kasar. Melakukan kekerasan verbal dan non verbal menjadi kebiasaan yang dianggapnya biasa saja. Bahkan, dirinya tidak akan merasa bersalah setelah melakukannya.

  1. Suka Mengatur

Seseorang yang misogini akan mementingkan diri sendiri dan tidak mementingkan orang lain. Ia akan dengan mudahnya mengatur dan memaksakan kehendak yang ia mau kepada wanita.

Adanya sikap misogini tidak hanya berdampak buruk pada wanita, memang kemudian wanita kemudian dapat mengalami kekerasan dan kedudukannya terancam dalam kehidupan. Namun, bagi seseorang yang memiliki sikap tersebut juga pada dasarnya akan menjadi pribadi yang buruk secara personal dan sosial. Biasanya, seseorang dengan misogini akan susah bersosialisasi dan menempatkan diri sehingga menghambat dirinya dalam berkembang.

Misogini adalah hal yang berbahaya, oleh karenanya penting bersama untuk menghilangkan sikap tersebut. Wanita adalah makhluk Tuhan yang setara, bebas untuk berkembang tidak selalu salah dalam hidupnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed