by

Mengenal Agama Baha’i Sahabat Bagi Para Penganut Semua Agama (Bagian III)

Oleh:  Ai Siti Rahayu

Ajaran Agama Baha’i

Keesaan Tuhan

Baha’u’llah mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Maha Agung, yakni Tuhan Yang Maha Esa yang telah mengirim para Utusan Tuhan untuk membimbing manusia. Oleh karena itu, semua agama yang bersumber dari satu Tuhan ini haruslah menunjukkan rasa saling  menghormati, mencintai, dan niat baik antara satu dengan yang lain.

Tuhan adalah Sang Pencipta alam semesta. Dia bersifat tidak terbatas, tak terhingga dan Maha Kuasa. Hakikat Tuhan tidak dapat dipahami, dan manusia tidak bisa memahami realita Keilahian-Nya. Oleh karena itu, Tuhan telah memilih untuk membuat Diri-Nya dikenal manusia melalui para Utusan Tuhan, diantaranya Ibrahim, Musa, Krishna, Zoroaster, Budha, Isa, Muhammad, dan Baha’u’llah. Para Utusan Tuhan yang suci itu bagaikan cermin yang memantulkan sifat-sifat dan kesempurnaan Tuhan yang satu.

“Utusan-utusan Ilahi telah diturunkan, dan Kitab-kitab mereka diwahyukan, dengan maksud untuk meningkatkan pengetahuan tentang Tuhan, serta menegakkan persatuan dan persahabatan di antara manusia.” — Baha ‘u’llah

Baca Juga: Mengenal Agama Baha’i Sahabat Bagi Para Penganut Semua Agama (Bagian I)

“Sejak dahulu kala dan untuk selamanya, pintu menuju pengetahuan tentang Sang Maha Purba selalu tertutup bagi manusia. Tak ada pemahaman manusia yang dapat memasuki hadirat suci-Nya. Namun, sebagai tanda rahmat-Nya dan sebagai bukti kasih sayang-Nya, Dia telah menjelmakan kepada manusia para Matahari bimbingan Ilahi-Nya, Lambanglambang ketunggalan keilahian-Nya, dan telah menetapkan bahwa mengenal Orang-orang maha suci ini adalah sama dengan mengenal Diri-Nya sendiri. Barangsiapa mengakui mereka, telah mengakui Tuhan. Barangsiapa mendengarkan suara mereka, telah mendengarkan suara Tuhan, dan barangsiapa naik saksi atas kebenaran Wahyu mereka,  telah naik saksi atas kebenaran Tuhan Sendiri.” — Baha’u’lah

Dasar Semua Agama Adalah Satu

“… Asas-asas dan hukum-hukum semua agama, sistem-sistem-Nya yang teguh dan agung, berasal dari satu Sumber dan merupakan sinar-sinar dari satu Cahaya.” — Baha ‘u’llah

Semua Utusan Tuhan dari zaman yang lampau, memiliki derajat dan tujuan yang sama. Mereka semua memelihara dan menjaga kebun Ilahi, dan membantu pertumbuhan tanaman Tuhan yang  diberkati. Mereka menyatakan kebenaran yang sama, duduk di atas takhta yang sama dan menikmati kedekatan pada Tuhan yang sama.

Baca Juga: Mengenal Agama Baha’i Sahabat Bagi Para Penganut Semua Agama (Bagian II)

“Tiada keraguan apa pun bahwa orang-orang di dunia, dari agama atau bangsa apa pun, memperoleh ilham mereka dari satu Sumber Surgawi, dan merupakan hamba dari satu Tuhan.” — Baha ‘u’Ilah

Kesatuan Umat Manusia Agama Baha’i mengajarkan bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Tuhan, dan mereka harus diperlakukan dengan baik, harus saling menghargai dan menghormati. Bah4’u’llih menghapuskan segala bentuk prasangka, serta mengajarkan bahwa semua orang adalah anggota dari satu keluarga manusia yang tunggal, yang justru diperkaya oleh kebinekaannya.

 

“Wahai anak-anak manusia! Tidak tahukah engkau mengapa Kami menjadikan engkau semua dari tanah yang sama? Supaya yang satu janganlah meninggikan dirinya di atas yang lainnya. Renungkanlah selalu dalam kalbumu bagaimana engkau dijadikan. Karena Kami telah menjadikan engkau semua dari zat yang sama, maka adalah kewajibanmu untuk menjadi laksana satu jiwa, berjalan dengan kaki yang sama, makan dengan mulut yang  sama, dan berdiam dalam negeri yang Sama …” — Baha’u’llah

“Jadilah engkau seperti jari-jari satu tangan, dan anggota-anggota satu badan. Demikianlah Pena Wahyu menasehatimu… ” —Baha ‘u’llah

Kesatuan dalam Keanekaragaman

Salah satu ciri khas masyarakat Baha’i di seluruh dunia adalah keanekaragaman masyarakatnya. Agama Baha’i merangkul orang-orang yang berasal dari ratusan ras, suku, dan bangsa, bermacam-macam profesi, serta berbagai golongan sosial-ekonomi semuanya bersatu demi mengabdi pada kemanusiaan. Masyarakat Baha’i menghargai dan menghormati keanekaragaman, dan pengalaman persatuan ini menunjukkan bahwa umat manusia, dengan segala keanekaragamannya dapat hidup bersatu dengan penuh kedamaian dan cinta.

“Wahai para Sahabat yang tercinta! Kemah kesatuan telah ditegakkan: janganlah engkau menganggap satu sama lain sebagai orang-orang asing. Engkau adalah buah-buah dari satu pohon dan daun-daun dari satu cabang. Bergaullah engkau satu sama lain dengan penuh cinta dan keselarasan, dengan persahabatan dan persaudaraan. Sedemikian kuat cahaya persatuan itu, sehingga dapat menerangi seluruh dunia.” —Baha’u’llah

“Keanekaragaman umat manusia seharusnya menjadi penyebab cinta dan keselarasan, seperti halnya dalam musik di mana banyak nada yang berbeda-beda dipadukan dalam sebuah paduan nada yang sempurna. Jika engkau bertemu dengan orang-orang dari ras atau warna kulit yang berbeda denganmu, janganlah mencurigai mereka dan menarik dirimu ke dalam cangkang adatmu, tetapi sebaliknya bergembiralah dan perlihatkanlah keramahan terhadap mereka. Anggaplah mereka sebagai bunga-bunga mawar yang berwarna-warni, yang tumbuh di kebun indah kemanusiaan, dan bergembiralah karena engkau berada bersama mereka.” — ‘Abdu’I-Baha

Sumber: Buku Agama Baha’i diterbitkan oleh  Majelis Rohani Nasional Baha’i Indonesia, Oktober 2015

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed